16. Kalem

41.7K 3.2K 565
                                        

💜Happy reading💜

Tetap di rumah, baca wattpad aja

***

"Saya pusing sama tingkah kamu! Kamu aneh! Kamu itu sebenarnya punya otak nggak, sih?"

Bi Ade mengusap punggung Kania, menyemangatinya meski tidak terlalu berpengaruh. Kania sedih, Arya mengomelinya soal kejadian yang tak disengaja itu.

Kania benar-benar tidak sadar akan perbuatannya sendiri.

Arya duduk di sofa, tubuhnya menguarkan aura negatif. Emosi tingkat dewa!

"Pikiran kamu itu kemana?!" Arya menggertak. Dia tidak jadi kembali ke kantor, emosi lebih dulu membelenggunya.

"Maaf, Pak. Saya bener-bener nggak ada niat begitu, saya...." Kania memijit pelipisnya frustasi. Kepalanya berputar-putar. "Saya ... nggak tahu apa-apa, Pak. Beneran!"

"Kania, saya nggak suka itu."

Kania mengangguk takut. Nada bicara Arya terdengar mengerikan. Dari kejadian itu, Kania mengerti satu hal. Arya sangat sukar untuk diraih, cowok itu terlalu setia pada almarhum istrinya.

Kania berdiri, membungkukkan badan sembilan puluh derajat. Ini pertama kalinya ia mendapat ilham, dalam artian bertingkah normal. "Saya minta maaf, Pak. Lain kali saya akan hati-hati. Saya nggak akan ceroboh, saya nggak akan buat Pak Arya marah-marah lagi. Saya ... minta maaf."

"Tugas kamu cuma jadi pengasuhnya Zayn, fokus sama itu aja. Jangan mikir yang macem-macem. Kamu ngerti?!"

Berat rasanya menganggukkan kepala, namun Kania tidak mau mengambil risiko lagi. "Baik, Pak. Saya akan profesional. Saya nggak akan goda-goda Pak Arya lagi."

Arya mengembuskan napas panjang. "Saya harap kamu bisa konsisten. Buang jauh perasaan kagum kamu, kasih sama orang lain."

Kania berkedip cepat. "Pasti, Pak! Saya nggak akan naruh apa-apa lagi buat Bapak. Saya pasti bisa."

"Bagus! Mulai sekarang kamu harus bertingkah normal. Saya ini atasan kamu, bukan teman kamu." Arya meninggalkan tempat, langkahnya tegas menaiki tangga.

Kania mengerling pada Bi Ade, tersenyum getir. "Bi, makasih udah nemenin saya diintrogasi. Makasih karena mau semangatin saya. Bi Ade baik banget, pantesan aja masih kelihatan muda."

"Kamu itu udah jadi bagian di rumah ini, nggak usah sungkan sama kita semua. Bi Tuti sama Bi Atum juga teman kamu di sini. Kata-kata Pak Arya jangan diambil hati, ya? Kamu sendiri tahu kalau dia itu keras, nggak suka aneh-aneh."

"Tapi ... saya kurang enak sama dia, Bi. Saya merasa bersalah banget, saya hampir nyium dia."

"Jangan dipikiran terus, nanti yang ada kamu jadi stres."

Tidak! Kania makin terbebani sekarang. Terpaksa dia harus memblok perasaan kagumnya, menahan diri untuk tidak menatap Arya dalam waktu yang lama. Itu terdengar menjengkelkan. Kania adalah The Papa Hunter.

Arya melepaskan pakaian kantor, memilih kaos biasa. Dia sejenak mematung, mengingat kembali apa yang telah terjadi.

"Hah ... Kania...."

Setelahnya, Arya turun ke bawah. Makanan sudah tersaji di meja panjang. Tak ada Kania dimana-mana, biasanya cewek itu sudah siap di tempat untuk menyantap makan malam.

Bi Ade meletakkan sayur sop, menuangkan nasi untuk Arya.

"Bi, Kania mana?" tanya Arya sangsi.

"Kania? Dia lagi di kamarnya Zayn."

The Papa Hunter [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang