💜Happy reading💜
***
Setelah pengakuan Arya sore tadi, Kania tampak lebih sering tersenyum. Tingkahnya membuat orang-orang penasaran. Apa yang membuatnya seperti itu? Dia terlalu bersemangat sampai bisa membersihkan seluruh rumah.
Kania menaruh Zayn di kereta bayi sementara ia sibuk menyapu lantai, meski lantai tersebut sebenarnya telah dibersihkan oleh asisten rumah tangga. Namun, Kania melakukan semua itu dengan penuh kegembiraan, bahkan bernyanyi asal-asalan.
Masalahnya, Kania bukanlah seorang penyanyi berbakat. Suaranya mungkin cukup kuat untuk menggetarkan gendang telinga atau bahkan merusak barang-barang yang terbuat dari kaca.
"Minum dulu, Nak." Bi Ade memberikan segelas air. "Tenggorokan kamu kayaknya butuh istirahat."
"Maunya gitu, Bi. Tapi saya lagi senang banget. Saya mau nyanyi sampai suara saya serak."
"Jangan, nggak usah." Wajah Bi Ade menggelap. Tujuan utamanya mengajak Kania mengobrol adalah untuk mengamankan pendengaran. Kania seharusnya latihan olah vokal di ruang yang kedap suara.
Kania meletakkan sapu pada tempatnya, dia beralih pada Zayn. "Bi, Pak Arya kemana? Dari tadi saya nggak lihat. Saya mau ngomong sesuatu sama dia."
"Bibi juga nggak tahu, waktu kamu pingsan, dia langsung pergi. Pak Arya nggak bilang mau kemana."
"Yah ... padahal ini udah mau malam. Saya jadi cemas sama dia."
"Emangnya kamu mau bilang apa sama dia? Kelihatannya seneng banget."
Kania mengulum senyum. Tabiatnya kembali lagi seperti semula. "Bi, masa Pak Arya bilang kalau dia kepikiran terus sama saya. Dia juga sedih kalau lihat saya nangis. Dia cemburu kalau saya ngomongin cowok lain. Itu artinya Pak Arya naruh hati ke saya, kan?"
Bi Ade memasang wajah serius. Setahunya, Arya tidak pernah memuji Kania. Bahkan terkesan risi di dekat cewek itu. Nah, sekarang kenapa perubahannya berkembang pesat?
"Beneran, Kania? Pak Arya ngomong gitu ke kamu?"
Kania mengangguk cepat. "Makanya saya pingsan, Bi. Saya terlalu senang."
"Bibi penasaran."
"Saya juga, Bi. Makanya saya mau lurusin ini semua, takutnya hati saya lagi yang jadi korban. Kan sakit banget rasanya."
"Moga aja Pak Arya nggak ngecewain kamu."
Berikutnya, ketukan terdengar. Seorang cowok berperawakan tinggi muncul. Dia adalah Raju. Matanya agak sembab, penampilannya tidak bisa dibilang baik.
"Eh? Raju?" Kania memerhatikan dari bawah sampai atas, mengernyit. "Aku lihat-lihat, kamu baru aja nangis."
Raju manyun. Dia langsung memeluk Kania. Bi Ade menggelengkan kepala, melenggang masuk ke dapur untuk mengambil minuman. Raju sama sekali tidak sungkan bertamu ke rumah Arya, asal pemilik rumah tidak melihat langsung aksinya. Dia seringkali menghabiskan camilan. Sebenarnya Arya tahu itu, tapi dia tidak keberatan.
"Kania...." Bibir Raju masih monyong, sifat kekanakannya tampak jelas. "Aku baru aja putus...."
"Eh? Kamu punya pacar?"
"Ya ada!"
"Nggak pernah cerita kamunya."
"Ya ... maaf."
Kania menepuk-nepuk pundak Raju. "Dia putusin kamu karena apa?"
Raju memutar bola mata malas. "Pacar aku ternyata udah punya suami. Ngeselin banget!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Papa Hunter [Completed]
Roman d'amourPeringkat 1 Romance (22-04-2021) Arya Hermawan adalah seorang duda beranak satu. Meskipun begitu, ketampanannya banyak memikat wanita. Dari semua kalangan, baik wanita yang setara dengannya dan wanita yang masih sangat muda. Tetapi ... Arya tidak pe...
![The Papa Hunter [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/201792505-64-k540584.jpg)