6. Jadi Pengasuh

52.5K 4.1K 52
                                        

💜Happy reading💜

Give me your love

***

Kania tersenyum menang, Zayn dalam gendongannya tertidur pulas. Tidak sesulit perkiraan, Zayn tampak baik-baik saja sekarang. Arya masih melongo di tempat, hanya dalam beberapa detik Kania dapat menjinakkan anaknya.

Katakanlah sebagai keajaiban. Sedikit berlebihan, memang. Tapi ini kenyataan. Zayn menyukai Kania sebagai pengganti ibunya—dalam artian pengasuh.

Arya berdeham berkali-kali. "Ternyata ... kamu memang hebat taklukin Zayn."

Bi Ade dan Raju turut berbahagia, mereka menghela napas panjang setelah diterjang aura mencekam. Raju menghampiri Kania, memerhatikan sahabatnya yang sangat pandai mengambil hati seorang anak.

"Kayaknya Pak Arya yang butuhin kamu sekarang." Raju berbisik sangat pelan. "Tanpa kamu, dia bisa kelimpungan urusin Zayn."

"Jangan omongin dia dulu, nanti kalau dia denger, bisa mati kita." Kania mendorong dada Raju menjauh. Senyumnya terbit untuk Arya. Kania sudah membuktikan bahwa dia sangat layak.

"Sesuai apa yang saya bilang tadi, kamu langsung saya gaji di muka."

"Beneran, Pak?" Kania tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Mendengar uang adalah hal terindah dalam hidupnya. Mungkin semua orang juga begitu.

"Tapi kamu harus profesional. Jangan sampai kamu berbuat satu kesalahan saja. Sekali kamu ngelanggar perintah, siap-siap angkat kaki."

Kania mendengus. Dalam hati dia berbatin penuh emosi. Lihat aja! Kamu pasti bisa takluk di depan aku. Dasar cowok berkharisma!

Zayn masih dirawat di rumah sakit. Suhu tubuhnya mereda berkat kehadiran Kania. Sekarang dia bisa tersenyum dan kadar tangisnya merendah. Kania sendiri bingung mengapa bayi kecil itu sangat menyukainya, Bi Ade juga tidak bisa memberikan jawaban yang tepat.

"Bi, saya mau tanya sesuatu." Setelah meletakkan Zayn di tempat tidur, Kania menghampiri Bi Ade yang tengah berbenah. Hanya ada mereka berdua sekarang.

"Tanya aja."

"Pak Arya itu orangnya gimana, Bi?"

"Dia baik."

Kania menatap tidak percaya. "Beneran, Bi? Terus, kenapa dia jutek banget sama saya? Senyum aja nggak pernah."

"Pak Arya memang kayak gitu kalau belum terlalu dekat, dia rada ketus dan kelihatan nggak peduli. Lama-kelamaan pasti dia berubah, pada intinya Pak Arya itu orangnya baik."

"Tapi, Bi ... saya nggak terlalu yakin, kalau bukan karena Zayn, saya pasti udah diusir dari tadi."

Bi Ade tergelak geli. "Jangan pesimis, Nak. Kalau kamu udah kerja lama di sini, kamu akan lihat sifat asli Pak Arya. Dia orangnya memang tegas, tapi untuk hal-hal baik. Dia nggak suka sama orang yang kerjanya setengah-tengah, pemalas, boros. Beda lagi sama orang yang bersungguh-sungguh, pasti Pak Arya bantuin sampai ke akar-akarnya."

Kania meringkuk, berpikir keras lagi. Akhir-akhir ini dia suka memikirkan Arya, apa pun itu.

"Kamu tahu penjual sate di dekat lampu merah?" Bi Ade menyentuh pundak Kania.

"Yang dekat penjual bakso juga?"

"Nah, iya itu. Kamu tahu? Laki-laki yang punya jenggot? Senyumnya ramah? Orang itu pernah ditolong sama Pak Arya, ngasih modal yang banyak."

"Tahu, Bi. Dia pernah ngasih saya sate gratis waktu dompet saya hilang. Sampai sekarang saya belum tahu dompet saya dimana."

"Dompet, ya?" Bi Ade mengerjap, bangkit memeriksa sesuatu di meja.

The Papa Hunter [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang