Part 11 : Meninggalkan

57 6 18
                                    

Suasana menegangkan, bau rumah sakit yang menusuk hidung, dan suara alat-alat medis berbunyi membuat jantungku berdebar.
Pasien kecelakaan, aku paling membenci ini resiko aku gagal menyelamatkan pasien sangat besar. Pendarahan yang terjadi di kepala pasien wanita yang wajahnya sudah dipenuhi darah ini membuat aku penasaran dengan wajahnya. Tapi aku mencoba sekeras tenaga untuk menyelamatkan nyawanya.
"Dok pendarahan pasien makin parah darahnya A-, bank darah kehabisan waktu untuk menyuplai paling sebentar 2 jam nyawanya akan melayang 20 menit lagi," ucap salah satu perawat.
"Sus.. siapkan aku akan donorkan darahku saja," ucapku kebetulan sekali golongan darahku A- , jadi bakal aku donorin aja darahku ke pasien ini.
"Baik Dok.." ucap perawat itu lalu pergi, aku mengikutinya.
Jarum memasuki nadiku perasaan baru biasanya aku hanya mengambil darah orang lain, hari ini aku mendonorkan darahku.

---

"Apa sudah cukup sus?," ucap pemuda yang mengenakan jas putih, dengan wajah tampan, dan hati selembut sutra.
"Sudah Dok.." perawat itu melepas jarum dari tangan sang Dokter.
"Ayo sus kita harus bergegas nyawa pasien ada ditangan kita," pemuda itu berlari diikuti sang suster, mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Siap Dokter Daniel.."

Skip 2 bulan kemudian...

"Bagaimana keadaan Eunha dok?" tanya Jihoon dengan perban di kepalanya, dia baru saja sadar dari komanya 1 minggu lalu, dan Eunha tak kunjung sadar sampai detik ini.
"Semua normal, tidak ada tanda dia akan siuman," jawab Dokter yang ikut bersedih melihat wajah Jihoon yang kecewa mendengar kata-katanya barusan.
"Dok saya titip surat ini, kasih ke Eunha, saya titip Eunha juga masalah biaya rumah sakit saya akan terus transfer, tapi dokter jangan bilang ke Eunha kalo saya yang membayar semua biaya pemgobatannya!" pinta Jihoon menyodorkan sebuah surat kearah Daniel, yang mencoba menolak permintaan Jihoon.
"Dok saya mohon.. saya rasa keberadaan saya di dekat Eunha, yang buat dia ga bakal siuman dok." pinta Jihoon kini wajahnya memerah menahan air mata.
"Tapi.. alasan Eunha tidak sadar itu karena memang takdir.." jelas Daniel.
"Saya Mohon dok!" kini Jihoon tak bisa lagi menahan air matanya yang menetes membasahi meja Daniel.
Daniel merasa iba "Baik saya usahakan," dia mengangguk Jihoon langsung tersenyum mendengarnya, dia menyodorkan Black Card-nya ke Daniel.
"Ini biar saya tidak perlu repot-repot transfer lagi pakai saja untuk keperluan Eunha."

-----
TO BE SELANJUTNYA
-----

Comment berapa lama aku hiatus!
Yang bener aku Up lagi besok..!

Only You °Jinha°Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang