Songo - Dhawuh

284 19 3
                                        

Hari demi hari Basupati lewati. Ia pun menjadi prajurit yang handal dan disukai oleh kawan-kawannya. Tak hanya itu, Basupati sedikit berbeda daripada sebelumnya.

Jalannya lebih tegap. Basupati memang pemuda bertubuh tegap, tetapi ia kini lebih tegap lagi. Ia jauh lebih gagah dari pada sebelumnya, dan juga lebih percaya diri.

Namun ada yang tetap sama dari Basupati, yaitu kesederhanaannya. Di saat kawannya banyak yang melanggar kesusilaan, sebagaimana yang ditetapkan dalam agama dan kitab yang dituliskan oleh para Mpu, Basupati masih mematuhi semuanya itu. Sebab Kasurip mendidiknya dengan begitu baik.

Ingat, Basupati. Betul kita orang miskin. Tetapi janganlah sekali-kali engkau berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan ketetapan Sang Pencipta. Tetaplah patuhi apa yang tertulis dalam pustaka-pustaka, demikian kau dapat menghadapi dunia...

Perkataan Kasurip tersebut terngiang-ngiang di kepala Basupati, yang saat ini tengah bertapa dalam biliknya. Sejenak ia berusaha untuk tetap pada pertapaannya, akan tetapi...

Tes. Setetes air pun jatuh tepat di wajahnya, dan Basupati pun merasa terganggu.

Basupati pun mengadah ke langit-langit. Alangkah terkejutnya ia mendapati bilik bocor.

Gawat, batin Basupati. Ia pun bergegas mencari bejana untuk menampung air dari langit-langit biliknya. Ada-ada saja, gumam Basupati. Ah, sudah musim hujan rupanya.

Memang cuaca di luar sedang tidak baik. Hujan turun begitu derasnya, membasahi kota Bagaspura. Musim kemarau beralih menjadi musim hujan, dimana sang Surya jarang menampakan wajahnya. Demikian langit terlihat begitu gelap, walaupun sesungguhnya hari masih siang.

Suara riuh rendah terdengar di luar bilik. Pun Basupati menghampiri suara itu, mendapati kawan-kawannya sedang bermain.

"Hoi! Kau sudah selesai bertapa?" tanya seorang prajurit yang berbadan besar dan liat, tak lain adalah Pracanda yang menjadi lawan Basupati di awal mereka bertemu. Sekarang mereka adalah kawan yang karib.

"Kau ketinggalan bagian terserunya, Basupati!" sahut kawannya satu lagi yang agak kurus yang bernama Atma. "Kau tahu --"

"Aku tidak begitu tertarik," tukas Basupati.

"Kau ini selalu saja datar, Basupati," ujar Atma seraya menepuk Basupati. "Janganlah kau terlalu kaku!"

"Biar kutebak, pasti ini tentang para perempuan istana."

"Ah, kau ini!" tukas Pracanda. "Mengapa kau selalu ketus mengenai perempuan?" .

"Tidakkah kau punya pembicaraan lain yang lebih baik?"

"Kawan-kawan!" seru sebuah suara. Basupati, Pracanda dan Atma langsung menoleh. Rupanya adalah seorang prajurit lainnya yang bernama Kusno. "Ada darurat, kawan-kawan! Kita dipanggil langsung oleh Sang Raja!"

"Sang Raja?" Basupati terkejut. "Ada apa ini?"

"Cepatlah berkumpul ditengah lapangan!" Kusno pun mengarahkan mereka. "Kita semua sudah ditunggu!"

Mendengarnya, Basupati dan kedua temannya bergegas menuju lapangan. Dalam hati Basupati merasa ada sesuatu yang tidak baik-baik, semoga saja apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.

***


Sang Raja kerajaan Sunadharpa bersama Kresna pun berdiri tegap, berhadapan dengan para prajurit kebanggan kerajaan Sunadharpa. Wajah mereka begitu datar, menandakan bahwa kali ini ada sesuatu malapetaka besar yang harus diberitahukan.

"Prajurit-prajuritku!" Sang Raja mulai berkata. "Kerajaan kita sedang dibawah ancaman! Ancaman kali ini jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya, dan akan membawa malapetaka bagi kita semua!"

Sang Raja pun terdiam sejenak. Ia pun mengamati sekelilingnya, kemudian ia melanjutkan ucapannya.

"Seorang telah memberitahuku, bahwasannya kerajaan kita telah disusupi! Tidak hanya itu, musuh kita kali ini bukanlah musuh yang biasa kita hadapi. Namun, ia lebih menakutkan dan berbahaya daripada semua yang pernah kita hadapi!"

Sesaat para prajurit pun tertegun. Mereka berusaha menerka, jenis musuh apakah yang mereka akan hadapi.

"Tapi janganlah takut, wahai prajuritku!" Sang Raja membangkitkan semangat para prajurit. "Kita adalah kerajaan Sunadharpa, cahaya gemilang dan gagah berani! Kalian adalah prajurit kerajaan Sunadharpa, yang begitu termasyur namanya hingga seluruh dunia! Kita tidak takut! Kita tidak akan mundur!"

Sambutan riuh-rendah mengakhiri pemberitahuan sang Raja. Meski hanya beberapa patah kata, ucapan sang Raja sudah cukup untuk memerintahkan para prajurit untuk menghadapi bahaya yang lebih besar tersebut, serta mengobarkan semangat bagi mereka.

Namun ditengah ramainya suasana, Basupati termenung. Ia berusaha berpikir, kiranya bahaya apalagi yang harus ia hadapi.

Apakah ini kelanjutan dari Danu dan Eka? Benak Basupati bertanya. Ataukah mata-mata kerajaan lain? Dari Krastala kah? Atau -- Ah! Tetapi kerajaan mana lagi selagi kerjaan Krastala yang selalu mencari masalah?

Semoga saja, bukan mengenai pertumpahan darah.

Bersambung...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 02, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Babad Basupati: Petualangan PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang