Bab 15 - Gurdien

4 0 0
                                    


Jam 03.45.

Di hari yang sama Rian sudah berada di halte bis yang sama. Menunggu bis yang akan datang ke desa dan membawanya kembali ke kota.

Dari awal rencana pulang dia sudah berniat untuk menginap satu malam di rumah. Namun perasaan tidak enak mengatakan padanya kalau dia harus kembali ke dua sahabat yang punya gaya hidup yang tak sehat.

Menunggu bis yang harusnya datang di jam 4 tepat, Rian tak sendirian. Di sebelahnya duduk seorang gadis seumuran. Dengan rambut pendek seleher dan wajah cantik yang terkesan jantan.

Gadis itu mengenakan pakaian seorang pemuda yang kalau dibandingkan Rian saja kalah darinya. Jaket dengan kaus oblong, dan jeans panjang ketat sampai ke kaki.

Saat berbicara selalu terlihat dua taring yang tumbuh di rahang atas.

"Hei, Rian, apa tinggal di kota semenyenangkan itu sampai kau gak bisa menginap di kampung untuk sehari?"

Nada suaranya manis, namun cara bicaranya benar-benar membuatnya cocok dijuluki sebagai tomboi.

"Aku bukannya gak bisa menginap, cuma kau udah tahu kan kalau Beni dan Bagas tinggal di rumah sendirian di sana."

Namanya adalah Rini Jasmine. Salah satu anggota dari kelompok persahabatan.

"Mereka kan udah dewasa. Memangnya gak bisa mengurus diri mereka sendiri?"

"Bukannya itu yang kukhawatirkan, tapi saat ini mereka lagi mengerjakan satu proyek yang cukup besar dan itu membuat mereka jadi sangat fokus."

Rini adalah salah satu dari dua anggota yang tetap tinggal di desa. Bersama dengan Euis, dia yang bertugas untuk menjemput dan mengantar sahabat-sahabatnya kalau mereka pergi atau pulang.

"Bukannya itu bagus, fokus dalam pekerjaan kan memang udah keahlian mereka."

Ngomong-ngomong saat itu Rini sedang berusaha meyakinkan Rian kalau dia harus tinggal di kampung sebelum kembali ke kota.

Namun Rian tetap merasa tak bisa meninggalkan dua sahabat laki-lakinya sendirian. Mengingat kalau mereka tak ada tidur semalaman mengerjakan proyek besar mereka.

"Ya, itu memang bagus. Tapi coba bayangkan, dua orang yang fokus bekerja terus fokus selama seharian tanpa makan dan tidur."

Rian berbicara seolah dia sedang menceritakan cerita seram. Aura di sekelilingnya mulai jadi gelap dan Rini bisa merasakan hal itu.

"Mereka melakukan itu terus-menerus tanpa henti. Sampai suatu hari mereka terkena serangan jantung karena ketidakpedulian terhadap diri mereka sendiri. Apa kau mau itu terjadi pada mereka?"

"Eh! Eehhh?"

Rini yang tak biasa menganggap setiap hal dengan serius memutar otaknya untuk mencari jawaban. Namun gadis yang sebenarnya tak terlalu pintar dalam menggunakan otak itu pasti akan selalu mencari jawaban paling sederhana yang bisa dia gunakan.

"Ingatkan aja mereka pakai telepon!"

Rini memberikan jawaban terlogis dan termudah yang bisa dia gunakan. Di sebelah, Rian malah menatapnya dengan ekspresi datar. Mengundang pertanyaan pada Rini.

"Kenapa, kau punya ponsel, kan?"

Rian mengangguk. Namun ada suatu hal yang membuatnya tak ingin merespon lebih jauh.

"Jangan bilang, kau gak punya nomor telepon mereka?!"

Rian tak menjawab. Dia malah melihat ke arah langit luas yang sedang cerah, menghindari tembakan rasa penasaran Rini.

Pengantin 500 JutaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang