Chap. 4, Perlihatkanlah

195 17 0
                                        

Pukul 3 sore, matahari yang tidak terlalu terik itu menemani langkah gadis berambut sedikit bergelombang itu berlari ke taman bunga yang ada di kampusnya. Ia mengingat beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan sosok perempuan yang semalam masuk ke dalam mimpinya tanpa sebab. Gracia sangat tergesa-gesa ketika sampai di tempat tujuan. Ia kebingungan mencari orang itu.

"Shani!"

Gadis yang di maksud adalah Shani. Baru saja Shani keluar dari gedung yang biasanya digunakan oleh mahasiswa jurusan seni seperti kakaknya. Wajahnya yang lesu langsung berubah manis ketika bertemu dengan Gracia.

"Hai!"

Mata perempuan bergingsul itu membulat seketika saat mendengar sapaan tersebut. Sesuatu bergerak di dalam matanya dan menimbulkan pecahan-pecahan kejadian yang ia tidak mengerti sepenuhnya. Intinya, kebanyakan dari mimpinya kembali teringat dengan cara aneh seperti itu. Gracia menelan ludah tak percaya melihat itu semua.

"Kamu baik-baik aja?"

"Katakan lagi. Tolong"

"Apa?"

"Sa--Sapa aku lagi!"

Seru Gracia gemeteran dan akhirnya Shani melakukan perintah itu. Dan ya, ia mengingat suara pelan yang nyaring di telinganya. Itu persis mirip dengan apa yang selalu mengganggunya di setiap tidur malamnya.

"Kau.. Mengingatkan dengan seseorang. Tapi aku tak mengenalnya. Apa ini aneh?"

Gadis berambut lurus itu memandangnya dengan ekspresi terkejut. Ia kemudian berusaha tersenyum tipis mencoba memahami perkataan tersebut. Shani mengangguk pelan sambil tak menghilangkan guratan senyum yang seolah menjadi ciri khas manusia seperti dia yang berawakan layaknya malaikat karena kecantikannya tak tertandingi.

"Tidak. Itu tidak aneh. Kamu hanya perlu mengingatnya lebih banyak. Karena, aku bahagia jika kau mengingatnya"

Shani pergi melewati Gracia yang termenung mendengar ucapan tersebut sembari membiarkan orang yang di carinya tadi pergi meninggalkannya. Aroma tubuh Shani tercium saat angin melintas membuat rambutnya berkibar.

"Apa ini tentangmu? Jika iya. Aku akan berusaha mengingat semuanya! Aku.. aku berjanji!"

Langkah perempuan cantik itu terhenti sebentar dan menoleh sedikit ke arah Gracia yang berteriak sambil memberikan senyum indahnya. Ia tersenyum walau siluet menutupinya. Matahari yang hangat membuat suasana taman seolah kembali ke masa lalu dengan waktu dan jaman yang berbeda. Jantung Gracia berdebar sangat kencang setelah mengungkapkan kalimat aneh tadi.

"Benarkah ini cuma kebetulan? Ga 'kan?"

*****

  "Berhenti melemparnya, Viny! Hahaha"

Di tepi sungai yang hening dengan hawa sejuk membuat kedua gadis ini saling bercanda sambil bermain dengan air. Tawa mereka tak di pedulikan meski suaranya bisa menembus langit dan orang-orang dapat mendengarnya.

"Oke, sekarang jujur kepada saya"

"Bukankah kamu tau aku tak bisa jujur?"

"Setidaknya berusahalah jujur, Putri. Siapa yang paling kau cintai diantara kami?"

"Kalian? Aku tidak pernah mencintai kalian"

"Apa..? Ah, Putri tidak pernah jujur. Saya lupa. Lalu siapa yang paling Putri Shani cintai selama ini?"

"Gracia. Aku mencintai Gracia daripada kamu"

Jemari perempuan dengan mahkota puteri kerajaan itu menggenggam tangan perempuan berambut panjang berkalung rubi merah yang sangat cantik tersebut. Senyumnya yang memikat membuat Viny menelan ludah ketika mengetahui tatapan dalam dari Putri yang berada di depannya tersebut. Perlahan kedua wajah mereka mulai mendekat dan angin sore membuat kebisingan di sekitar.

*****

Viny Pov's//

Aku terbangun lagi dengan keadaan basah kuyup keringat dingin yang selalu muncul jika aku bermimpi aneh. Aku yakin itu tadi bukan mimpi buruk. Tetapi, aku merasa sangat kehilangan ketika melihat wajah gadis yang sering di mimpiku tersebut.

  "Jam 7 malam. Gracia belum pulang?"

Aku keluar kamar melihat jendela yang mengarah langsung ke garasi dan memastikan apakah mobilnya ada disana. Beberapa menit kemudian, garasi itu terbuka dan mobil yang di maksud pun baru saja masuk dan parkir. Gracia keluar dari mobil sambil membawa banyak buku. Buku setebal itu mau di apakannya? Dia tak suka membaca. Aku yakin.

"Kamu abis pinjam buku?"
"Urusan kakak apa pake nanya segala?"

Dia mendengus kesal sambil menaruh kunci mobilnya di gantungan yang sudah di sediakan. Aku tetap mengikutinya yang mengambil minum sebentar dan meletakan buku yang di pinjamnya di meja makan.

"Sejarah Eropa? Kau punya tugas dengan ini?"

"Apa kakak tak mendengarku berbicara tadi"

"Aku hanya bertanya seperlunya. Dan menawarkan bantuan"

"Huh, seumur hidupku.. Apa pernah aku minta bantuan kakak?"

"Baiklah. Kali ini kakak yang minta bantuan"

Matanya menyipit seketika mendengar perkataanku yang jarang bahkan tak pernah di dengarnya mungkin. Ya, aku ingin bertanya soal mimpi aneh yang berulang kali muncul ketika aku menutup mata dan tertidur. Lalu, aku melihatnya hanya memberiku senyum remeh dan menggeleng serentak dengan langkahnya yang tiba-tiba memberat.

"Kakak tau, kamu menyembunyikan sesuatu juga"

Tanganku menahannya yang mulai menaiki tangga dan langsung berhenti mendengarnya. Aku tau, beberapa hari yang lalu ia sangat terobsesi sekali dengan Shani. Ada yang salah dengan kami. Bukan, diantara kami dan perempuan asing itu.

"Kamu bisa ceritakan malam ini. Dan aku akan bercerita juga"

Bersambung...

Yooo~ sobat I'm Different sekalian.
Besok2 singkat aja jadi ID ya wkwk
Oh ya, buat pembaca baru yang baru kenal author siapa (dih pede sekali)
Semoga kalian betah dengan kecerewetan dan telat update nya author yaaa
Mohon di maklumi, Thanks!!!

I'm DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang