11

459 32 10
                                        

"Aku tidak menyangka bisa makan malam denganmu tanpa harus melayangkan sebuah ancaman terlebih dahulu." Madyan memotong steak yang berada di meja hadapanya dengan tenang meskipun sedari tadi matanya hanya ingin fokus kearah Xylam yang juga sedang menikmati makanannya.

"Kenapa dokter, Mady?"

Madyan memasukan satu potongan kecil daging ke mulutnya kemudian menatap Xylam yang berada di hadapanya. Dua sudut bibirnya tertarik ke atas "Shit! mr. Constain, kenapa kau sangat sialan tampan?"

Xylam terlihat sangat baik-baik saja dengan perkataan Madyan barusan. "Sangat Madyan sekali, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."

"Sebastian Constain," jawab Madyan sambil mengalihkan tatapan matanya dari Xylam kembali ke makanannya.

"Ayahku?"

"Ketika dia sakit aku akan pastikan tidak ada dokter yang mau merawatnya kecuali aku dan aku akan memastikan dia akan mati di meja operasiku. Bagaimana? Aku mantan calon menantu yang sangat perhatian, bukan?"'

Xylam mendengus dan Madyan menatapnya dengan kening berkerut. "Kau sangat pedendam sekali, Mady. Aku sudah memafkan William Deuthcer maka kau juga harus sudah seharusnya memafkan ayahku."

Mulut Madyan mengembung karena menahan tawa tapi hanya bertahan beberapa saat karena kemudian suara tawanya keluar. Beruntung Xylam sudah memesan satu restoran penuh sehingga hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan yang berada di tempat mewah ini. "Humor yang sangat bagus, Beal."

"Dan Camila. Jangan ganggu dia, Mady."

Tawa Madyan terhenti begitu juga dengan gerakan tanganya. Pisau dan garpu yang di genggam tangan kanan dan kirinya sedikit terlempar ke atas meja dan beradu dengan piring kaca sehingga menimbulkan suara berdenting. Xylam masih makan dengan tenang sedangkan Madyan sudah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menatap Xylam tajam. "Nama anak pungut itu merusakan selera makanku," gumam Madyan.

"Mady, kau ingat mobi Ferrari 275 GTB/4S N.A.R.T Spider milikmu?"

Madyan mengangguk kemudian berdecih. "Tentu saja, Sebastian sialan itu menjualnya dengan harga yang membuatku menjerit. Dan itu salah kau Beal kalau kau tidak membawanya ke mansion Constain maka Sebastian tidak akan menemukanya."

"Aku mendapatkan mobil itu kembali."

Madyan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata yang berbinar "Benarkah? Sekarang dimana mobil itu? Aku harus melihatnya, Beal." Madyan sangat antusias. Ia masih ingat betul bahwa dulu ia mati-matian untuk mendapatkan mobil itu dan setelah mendapatkannya tiga hari kemudian Sebastian Constain menjualnya.

"Kau harus ke mansion Constain jika ingin melihatnya."

"Baiklah, aku akan kesana."

"Dan kau akan bertemu ayahku, Mady."

Madyan memutar bola matanya malas "Sialan! Tapi tak apa, aku rela bertemu dengan iblis itu asalkan bisa melihat mobil itu lagi. Mansion Constain yang dimana?"

"New York."

"Sialan! Keluargamu pindah ke New York?"

Xylam mengangguk, ia sudah selesai dengan makan malamnya.

"Sejak kapan?"

"Sejak Qian masuk High School."

"Brenna Aqian Constain? Adikmu?"

"Kau masih mengingatnya ternyata. Qian masuk CIS."

Madyan mengangguk "Dan aku pastikan kalau kelakuan Qian disana pasti tidak beda jauh dengan kelakuanmu dulu."

Xylam mengangguk "Dia bahkan lebih parah dari aku dan kau. Dia membuat seseorang bunuh diri."

Madyan mengangguk "Good girl."

Xylam berdiri dan Madyan yang melihatnya memincingkan mata. "Aku harus ke pergi ke Italia sekarang, Mady. Sepuluh menit lagi Camila akan sampai disini jadi kau tidak perlu repot-repot membuat skandal perselingkuhan."

"Wow, aku tidak tau kalau Camila akan mengadukannya kepadamu. Lemah sekali dia," cibir Madyan. "Tapi kalau dia akan kesini bukannya lebih baik kau tidak pergi, kau tidak tahu apa yang bisa aku lakukan kepada Camila."

"Apapun yang akan kau lakukan terserah tapi yang pasti aku tahu kau tidak akan sampai membunuhnya."

"Mr. Constain, jika tuan putri kalian bisa membuat seseorang bunuh diri maka aku bisa membuat yang lebih dari itu."

)0(

Madyan melangkahkan kakinya memasuki Warming Sun Club dengan wajah muram dan menyeramkan. Setelah sepuluh menit kepergian Xylam, Camila benar-benar datang ke tempatnya untuk menyerahkan sebuah kertas yang langsung menghancurkan suasana hatinya. Ia membanting tas beserta dengan semua yang ada di dalamnya dengan sangat keras ke sebuah meja.

Tiga orang yang tadinya sedang duduk santai dan sesekali bercanda menjadi diam membisu dan terus melihat ke arah Madyan. Setelah membanting tasnya Madyan kemudian langsung duduk dan langsung meminum wine yang ada di meja tanpa menggunakan gelas. Catat, tidak menggunakan gelas!

"Kau terlihat sangat buruk, Joye," cibir Jinan, satu-satunya wanita diantara dua orang yang duduk disana.

"Cukup minumnya, Mady." Dior akhirnya berbicara dan tanganya mengambil alih botol yang ada di genggaman Madyan. "Ini pesta penyambutan untukmu, tidak akan seru jika kau sudah mabuk diawal."

"Kenapa kau memanggil Joye dengan panggilan Mady?" tanya Janson.

"Karena anggota keluarga Deuthcer memanggilnya dengan sebutan Mady jadi aku akan melakukanya juga siapa tau mereka akan mengangkatku menjadi anggota keluarga mereka."

"Kau ingin jadi anak angkat Deuthcer?" tanya Janson.

"Tentu saja. Orang waras mana yang tidak ingin menjadi Deuthcer? Tidak ada!"

"Aku orang waras dan aku tidak mau."

"Kenapa kau tidak mau?"

"Hanya ingin mengingatkan saja bahwa putri sulung Deuthcer tidak akan memperlakukan anak angkat Deuthcer dengan ramah. Kau juga melihat sendirikan bagaimana dia meletakan apel di atas kepala Camila untuk dijadikan sasaran anak panahnya."

"Kau akan menjadi sasaran anak panahku yang selanjutnya, Janson."

Jinan tertawa "Kalau aku bisa memanah, aku akan dengan senang hati membantumu, Joye."

"Sialan kau, Jinan!"

Madyan mengeluarkan satu buah kertas dari tasnya. Bukan kertas biasa, melainkan sebuah kertas undangan dengan design yang terlihat menyilaukan mata.

"SHIT!! KAU DIUNDANG JUGA?" tanya Jinan heboh. Ia langsung merebut kertas dari tangan Madyan dan membacanya dengan seksama untuk memastikan bahwa kertas tersebut sama seperti apa yang ia terima tadi.

Dior dan Jansonpun ikut memastikan karena mereka juga mempunyai benda yang sama.

"Tentu saja. Semua Deuthcer harus ada disana termasuk juga aku."

"Kau tidak perlu datang, Mady," ucap Dior.

Madyan mendeklik kearah Dior. "Kenapa? Kau takut aku menghancurkan pesta sahabat kalian?"

Mata Janson membelak "Sahabat? Omong kosong macam apa itu?! Kita tidak pernah bersahabat dengannya."

Madyan mengangguk kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. "Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di pesta pernikahan laknat itu minggu depan."

"Joye, kau akan pergi begitu saja?" tanya Janson. "Ini pesta penyambutanmu, Joye."

"Oh benarkah? tapi ini pesta penyambutan terburuk yang pernah aku dapatkan. Ayo Jinan kita pulang! Aku malas melihat wajah-wajah pengkhianat."

Madyan mengatakanya dengan sungguh-sungguh. Ia masih kesal dengan Janson dan Dior karena ia tahu bahwa semenjak kepergianya mereka menjadi dekat dengan Camila, dan ia sangat-sangat membenci hal itu.

"Let's go, baby!" seru Jinan mengikuti langkah Madyan tak lupa ia juga membalikan badanya sebentar untuk menikmati eskpresi wajah Janson dan Dior sambil mengeluarkan lidah untuk mengejek mereka.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 11, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I'M JOYETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang