Aku hanya anak menyedihkan. Sore itu rasanya aku tidak mau mengenal dunia. Mereka kejam, merenggut semua yang aku miliki. Saat ini aku tidak menginginkan lagi boneka Barbie dan Ken seperti saat aku menangis minggu lalu atau saat aku berebut kue cokelat mint dengan kakakku, tidak.
Aku hanya ingin mereka kembali. Keluargaku...
Aku belum bisa jadi anak yang kuat seperti harapan-harapan yang selalu ayah katakan tiap malam. Aku yang masih sering menangis karena jatuh dari sepeda. Sekarang aku juga masih menangis. Maaf ayah, aku anak yang lemah.
Aku berbohong lagi, aku mengatakan kepada semua orang kalau aku baik-baik saja. Tapi aku berbohong, aku sedang tidak baik. Aku bahkan belum sempat mengatakan maaf pada ibu. Maaf, jika anakmu tidak bisa jujur sepertimu.
Untuk kakak, terimakasih. Aku senang bisa memiliki kakak sepertimu. Aku tidak yakin kamu juga merasa begitu. Kenyataannya kamu juga pergi. Aku minta maaf selalu memberatkan, aku selalu menambah bebanmu.
"Kamu kenapa?"
Seseorang berjongkok di depanku, menyejajarkan dirinya dengan aku yang terduduk di depan warung es kelapa yang sudah tutup.
Tanganku seketika terasa hangat. Sebuah tangan kecil menggenggam tanganku yang saat itu sudah gemetaran. Sesekali ia mengelus punggung tanganku, memberikan aliran rasa tenang per detiknya.
"Dingin, kamu habis hujan-hujanan?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Memang aku tadi keluar saat hujan. Berharap kedua orang tuaku datang menyambutku di dermaga. Nyatanya sekarang hanya ada kosong dan gelap.
Setelahnya aku tidak ingat apapun tentang bagaimana berakhirnya hari itu. Aku bangun di ranjang hitam dengan langit-langitnya di penuhi stiker bintang. Yang jelas itu bukan kamarku ataupun kamar tetanggaku.
Sesaat kemudian anak laki-laki kemarin sore menghampiriku dan mengatakan hal aneh. Katanya,
"Kamu sekarang saudaraku."
Aku tidak percaya, apa mungkin aku bisa punya keluarga lagi?
"Kamu lahirnya kapan?" Tanyanya.
"1 Agustus 2000," kataku.
"Yes! Kamu lahir duluan, jadi kamu kakaknya." Anak itu tersenyum lebar.
"Kamu tau aku ga?" Aku menggeleng.
"Aku Felix," lanjutnya kali ini mengulurkan tangan.
"Chaewon. Hmm adek? Dek Felix?" ucapku ragu juga sebenarnya.
"nOOO!! kita cuma beda sebulan. Kita jadi kembar aja."
Hari itu adalah hari pertamaku merasakan bahagia lagi setelah kehilangan semua keluargaku. Aku punya keluarga baru.
------- Chapter # itu flashback, chaewon's side
Oiya ada yg mau baca curhatan aku sm mas crush jaman SMA ga? Tersangka sih inisialnya F makanya si oknum F ini aku samarin jadi Felix deh ehehe. Doain aja temen rl gaada yg baca biar ga cepu :)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.