Namjoon dan Seokjin saling terdiam. Sesaat mereka menyadari bahwa mereka terlihat dekat. Bagaimana bisa, mereka yang setahun ini begitu menjaga jarak, hanya dalam beberapa jam sudah kembali tertawa bersama. Bahkan tanpa awalan maaf atau sapaan.
"Bukankah sangat lama hingga akhirnya aku kembali mendengar tawamu?"
Seokjin menoleh mendengar suara Namjoon. Ia sempat menatap Namjoon untuk beberapa detik lalu kembali membuang wajah. "Ya. Setidaknya anak kita ikut tertawa. Itu alasan kita tertawa hari ini bukan?"
"Aku minta maaf." ucap Namjoon tiba-tiba. "Maaf tak mengucapkannya dari awal. Maaf aku menyakitimu. Maaf— aku mengacaukan semua mimpi indah kita."
"Tiba-tiba?" Seokjin justru terkekeh. Namun siapa sangka ia mencengkram ponselnya kuat. Namjoon menoleh cepat pada Seokjin, namun ekspresi wajahnya tak berubah. Masih seserius saat ia mengucapkan maaf. "Aku memang memaafkanmu Namjoon -ah. Tapi, bukankah, yang seharusnya mendapat ucapan maaf adalah Jungkook? Dia tak bersalah apapun. Tapi si kecil itu yang menanggung segalanya. Aku menghancurkan tawa Jungkook. Apa kau pernah mendengar ia tertawa selepas ini sebelumnya?"
Dada Namjoon berdenyut nyeri. Benar apa yang dikatakan Seokjin. Mereka seharusnya meminta maaf pada Jungkook "Bagaimana kita akan meminta maaf, jika kita bahkan tak berani mengatakan apa yang terjadi pada keluarga kita?" Namjoon menulan ludah nya kasar "Jungkook tak tahu perceraian, ia masih percaya bahwa aku dan kau—" Namjoon menjeda, menatap Seokjin "Kembali dalam satu rumah."
Seokjin ikut menoleh. Mereka saling bersitatap dengan diam. "Bagaimana pola makanmu? Apakah susah mengurus Jungkook sendirian?"
Namjoon tak langsung menjawab. Justru Seokjin lah yang memutuskan kontak pandangan, namun Namjoon masih betah menatap Seokjin "Aku menyukai saat aku mengurus Jungkook. Tapi semua berantakan. Kau tahu sendiri bagaimana aku. Untuk mengurus diriku saja berantakan, apalagi mengurus pangeran. Tapi si kecil mirip dirimu, dia akan mengingatkanku dimana aku meletakkan barang, bagaimana seharusnya aku mendandaninya, dulu aku selalu menuruti Jungkook, membelanya dan menentangmu, kini aku tahu, yang kau lakukan benar, untuk kesehatan anakku." Namjoon terkekeh menggeleng kecil "Aku menikmatinya. Tapi aku juga butuh sosok yang akan membantuku mengurus Jungkook jika Jungkook tengah bersamaku."
"Mina. Kuharap dia orang yang tepat. Kau sudah serius dengannya?"
Namjoon menghela nafas "Aku masih meyakinkan hatiku. Terutama meyakinkan Jungkook."
Seokjin ikut menghela nafas, meluruskan kaki panjangnya "Kau harus meyakinkan dirimu Namjoon-ah. Aku tak ingin ada kegagalan lagi."
Namjoon menoleh dengan cepat. "Kau? Lalu kau bagaimana?"
"Aku? Aku belum memikirkan apapun. Aku hanya ingin membahagiakan Jungkook saja saat ini."
Namjoon diam. Seokjin masih Seokjin yang ia kenal. Seokjin yang tak akan memikirkan dirinya sendiri pada urutan pertama. Seokjin yang akan mendahulukan kebahagiaan orang lain. Dan seharusnya Namjoonlah yang berperan membahagiakan Seokjin pada urutan pertama sejajar dengan Jungkook.
Seharusnya.
"Ya. Yang penting sekarang kebahagiaan Jungkook."
Mereka lagi-lagi terdiam. Seolah menikmati hembusan angin dan menikmati keheningan diantara mereka. Hingga akhirnya Seokjin bersuara dan membuat Namjoon menutup rapat-rapat bibirnya.
"Lalu, apa setelah kau menikah, semua ini akan berakhir Namjoon-ah? Apa.. Kau akan membawa Jungkook bersama mu? Atau ia akan terus tinggal bersamaku? Kau tahu kan tak akan selamanya Jungkook berpindah tempat?"
.
.
"Aunty, Aunty, Daddy mana? Tadi di belakang?" Jungkook menghentikan langkahnya.
