Jisoo - Conversation sous les étoiles

777 94 9
                                    

Sehembus angin malam membawa kembali kenangan yang mati-matian coba dilupa, menawarkan kepingan rasa yang berserak, mencoba menyatukan lagi puing-puing yang terbuang. Memaksa mengingat lagi, merindu lagi.

Perihal hati, selalu serumit ini.

Sejak awal, merekalah yang memaksa untuk bersama. Menyalahi aturan, menentang garis takdir. Jisoo paham, Seokjin tidak mungkin berdiri bersisian dengannya. Pun Seokjin yang juga memahami, bahwa menggenggam tangan Jisoo sama artinya dengan berjuang lebih keras.

Selalu ada risiko di setiap pilihan. Dan Jisoo, memilih untuk tidak meneruskannya. Lantaran merasa percuma, karena nyatanya dia tidak pernah diharapkan menjadi bagian dari keluarga besar Seokjin.

Jisoo mendongak, menghalau air mata yang hendak jatuh dari pelupuknya. Sekalian menatap lukisan Tuhan berupa purnama yang tepat di atas kepala.

Melarikan diri dari segala kerumitan hidup yang merengkuhnya di Seoul. Memilih menyusul sang kakak yang tengah menimba ilmu di Conservatoire de Paris, sebuah sekolah musik tertua di dunia. Meninggalkan sang kekasih hanya dengan seuntai pesan perpisahan.

"Bonsoir, pouvez-vous nous donner deux croissant?" (Selamat malam, bisa berikan kami dua croissant?)

Jisoo menghentikan lamunan kala suara berat sang kakak terdengar di telinganya.

"Merci." (Terima kasih.)

Yoongi menarik Jisoo untuk menjauh dari toko roti yang baru saja mereka sambangi. Duduk di sebuah kursi panjang yang terletak tidak jauh dari menara Eiffel.

"Aku membawamu berjalan-jalan bukan untuk melihatmu melamun." Yoongi menyerahkan croissant yang tadi dibelinya pada Jisoo.

"Hah, bahkan sudah sejauh ini aku berlari. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya? Katakan apa yang salah dengan diriku, Oppa?"

"Karena kau mencintainya, Jisoo-ya. Sejauh apapun kau berlari, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari perasaanmu. Kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya saja, sih? Atau kau mau aku yang mendatangi mereka?" Yoongi mendengus, menelan kunyahan terakhir croissant di mulutnya.

"Mereka bilang aku tidak pantas bersama dengan putranya karena aku hanya seorang penjaga toko bunga. Jadi, bagaimana aku bisa melanjutkannya kalau lampu merah jelas berada di depan mata?"

Yoongi mendengus kecil. "Benar-benar hanya memikirkan uang. Mereka tidak mencari tahu lebih jauh tentangmu?"

Jisoo menggeleng. "Mereka hanya tahu aku hidup sebatang kara di Daegu."

Lagi-lagi Yoongi mendengus, entah sudah dengusan keberapa yang ia keluarkan malam ini.

"Mereka benar-benar tidak mencari tahu latar belakangmu rupanya. Atau justru kita yang terlalu pandai menyembunyikannya?"

"Apa itu penting, Oppa?"

"Tentu saja penting, agar mereka tidak seenaknya merendahkanmu. Kenapa tidak kau suruh Seokjin menjelaskan pada mereka?"

"Tidak, ah. Aku tidak mau merusak rumah tangga orang. Aku yang meninggalkan Seokjin, jadi biarlah."

Hening.

Jisoo merapatkan jaketnya, udara malam ini sedikit lebih dingin dibandingkan biasanya.

"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Jisoo. Kembalilah kalau benar kau masih menginginkannya," ucap Yoongi.

"Apa-apaan ucapanmu itu? Kau ingin adikmu ini jadi perusak rumah tangga orang lain, begitu?"

"Seokjin dan Yunhee sedang mengurus perceraian mereka."

"Apa-apaan itu. Jangan bercanda."

"Aku tidak sedang bercanda. Jungkook sendiri yang mengatakannya padaku."

Jisoo mengangguk-angguk saja, tidak berniat menanggapi kendati rasa penasaran menggerayangi sanubari. Segala hal jika itu menyangkut Seokjin, tidak pernah gagal membuat Jisoo mengalihkan atensinya.

Bohong jika Jisoo bilang tidak ingin kembali. Bohong jika Jisoo bilang tidak lagi memiliki rasa. Karena nyatanya, sejauh apapun langkahnya ia bawa berlari, tetap hanya nama Kim Seokjin yang memenuhi hati dan pikirannya.

Jisoo, hanya sedang menunggu hingga waktunya tiba.

Jisoo, hanya menunggu tanggal mainnya.

****

Yoongi berjalan keluar dengan Jisoo yang mengekor di belakangnya. Seolah kehadiran Jisoo tidak berarti, Yoongi terus saja berjalan hingga sampai di depan grand piano kesayangannya.

"Oppa," panggil Jisoo. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, memilih bersandar pada piano hitam kesukaan Yoongi.

"Ada apa?"

"Kau benar tidak mau datang ke rapat, ya? Sebegitu percayanya pada Taehyung untuk menggantikanmu?"

Yoongi mengernyit. "Siapa bilang aku menyuruh Taehyung menghadiri rapat?"

"Lalu ini apa?" Jisoo menunjuk piano besar itu. "Kenapa justru malah berkencan disini?"

"Adikku sayang," sebuah helaan napas keluar dari bibir Yoongi. "Jaman sudah canggih dan kita hidup di negara yang semuanya bergantung pada teknologi. Jadi, untuk apa aku harus repot-repot datang ke kantor kalau aku bisa memimpin rapat dari sini?"

"Video conference?"

Yoongi mengangguk.

"Hah, Ya Tuhan. Kakakku pemalas sekali," cibirnya. "Apa susahnya datang ke kantor dan duduk di kursimu sambil memimpin rapat? Apa hal sepenting ini juga kau urus dari rumah?"

Dirasa Jisoo sudah bicara terlalu banyak, Yoongi akhirnya memberi kode pada sang adik untuk keluar dari ruangan dan membiarkannya memimpin rapat.

Hari ini sibuk sekali, Jisoo paham. Sepagi ini bahkan Yoongi belum tampak menyentuh kasur sedikitpun. Kakaknya itu sedari tadi disibukkan dengan urusan kampus, rapat, juga pekerjaan sekaligus hobinya sebagai composer muda yang namanya tengah dipertimbangkan di kancah internasional.

Mendadak Jisoo teringat Seokjin. Apa kabar mantan kekasihnya itu? Apakah hari-harinya baik? Apakah malam-malamnya terlewati dengan sempurna? Dan, apakah----, dia juga sama merindu?

Spring Day | JinsooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang