Akhida pov
Umur pernikahan ku sudah menginjak bulan ke lima dan aku masih menunggu kabar baik yang akan datang di tengah tengah keluarga kecilku dan mas aban,wajar bukan jika seorang wanita menantikan kehamilan pertamanya? Ini yang membuat ku resah belakangan ini,umi mertua membicarakan ini berdua dengan mas aban tanpa sepengetahuan ku tetap saja aku akan mendengarnya,melihat teman teman ku yang sudah mempunyai anak yang pernikahan nya bisa di katakan baru menginjak beberapa bulan dan aku? Aku masih menunggu kabar baik itu datang entah sampai kapan
Aku sedang ada di balkon mencari jawaban atas pertanyaan yang ku ajukan pada diriku sendiri entah bagaimanapun aku juga seorang wanita yang harus memberikan keturunan kepada suamiku,kalian tau kan sekejam apa pelakor di dunia ini? Bagaimana jika mas aban mencari istri baru?
Bagaimana jika aku tidak subur?
Lalu bagaimana jika aku benar benar di tinggalkan oleh mas aban?
"INI SEMUA GILA!! AKU BENCI DIRIKU SENDIRI!!" ujarku tanpa sadar berteriak sangat keras membuat mas aban menghampiriku di balkon
"Sayang! Ada apa? Apa yang terjadi? Hei katakan"ujar mas aban tepat di depanku yang sedang menangis
Aku tidak menjawab aku segera memeluknya dan menangis di dalam pelukannya menuangkan semua rasa kekecewaan yang selalu ada di diriku,akankah ini pelukan yang terakhir atau aku masih bisa memeluknya sampai ujung nafasku?
"Berjanjilah apapun yang terjadi kedepannya jangan pernah mendua dan tinggal kan aku"ujarku sembari menangkup wajahnya dengab tanganku
"Sayang apa yang berlaku padamu? Katakan pada mas! Ada apa? Kita masuk tidak enak jika di lihat para santri"ujar mas aban menggendongku dan mendudukan ku di tepi ranjang kamar mas aban menarik kursi riasku dan duduk di depanku mencoba bersahabat dengan emosi ku saat ini
"Sayang sebenarnya ada apa? Kenapa berteriak seperti tadi? Kalau ada masalah cerita pada mas,mas suami mu mas berhak tau apa yang sedang berlaku pada istri mas,ada seseorang yang menyakitimu Hm?"ujarnya sembari mengusap sisa airmataku dan mencium ku sekilas
Aku masih diam,aku tidak ingin mengatakan apapun padanya,jika memang pada akhirnya aku yang akan pergi aku ikhlas...
"Apa yang mas bicarakan pada umi di taman belakang? Apa mengenaiku? Karena aku belum hamil juga?"ujarku padanya masih dengan sesegukan
"Tidak,ini masalah lain sayang,percayalah dengan mas,mas tidak akan menutupi semuanya,mas juga berjanji apapun yang akan berlaku di masa depan mas akan bersama mu dan selalu ada untukmu"ujar mas aban sembari memelukku
"Jangan menutupi semuanya mas,akhida mendengar semuanya sewaktu akhida mencuci piring di dapur. Kenapa tidak berterus terang saja? Kenapa harus menutupi semuanya selama berminggu minggu? Aku menanti semua yang di bicarakan umi dan mas aban malah menutupinya apa artinya aku sebagai istri mas? Aku juga berhak kan atas apa yang sedang berlaku pada mas? Katakan kenapa diam? Benarkan umi kecewa padaku? Itu sebabnya umi akhir akhri ini sedikit mengabaikanku,semua sudah terjawab,semua sudah jelas! Aku memang tidak berguna sebagai istri mu dan menantu pemilik pesantren,aku malu dengan diriku sendiri,aku malu. AKU SANGAT MALU!! AKU MEMBENCI DIRIKU SENDIRI!!"ujar ku sembari melepas pelukan mas aban dan mulai menyakiti diriku sendiri
"Apa yang kau katakan tidak benar,sayang tenanglah! Sadarlah! Jangan menyakiti tubuhmu sendiri seperti ini! Sayang tenanglah! Tenang"ujar mas aban kembali memelukku dan mencoba menenangkan ku kembali
Author pov
Aban masih berusaha untuk menenangkan sang istri tapi usahanya gagal,akhida memberontak dan menangis sangat keras dan berlari ke ujung sudut kamar mendudukan dirinya di sudut kamar sembari memeluk lututnya menumpahkan semua kekesalan dan kekecewaan yang ia rasakan. Tanpa fikir panjang akhida memanggil umi dan abhinya untuk meminta pertolongan,barangkali dengan sesama wanita akhida bisa mengendalikan emosinya
"UMI! ABHI! TOLONG ABAN!"ujar aban sedikit berlari dan berteriak di tangga
"astagfirullah,aban ada apa? Kenapa harus berteriak?"ujar umi aban
"iya le,ada apa?"ujar sang abhi pada putranya
"Akhida! Akhida ternyata mendengar pembicaraan kita beberapa minggu lalu umi, sekarang moodnya benar benat hancur,dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri,akhida minta bantuan umi dan abhi"ujar aban pada kedua orangtuanya
"Tunggu apa lagi ayo kita ke atas sekarang,ayo abhi kita harus ke atas"ujar sang umi mendahului mereka berduaDi sisi lain>>>
Akhida benar benar muak dengan dirinya yang tidak pernah berguna
"Aku benci diriku!!"ujar akhida sembari menjatuhkan semua alat kosmetiknya dan berceceran di lantai
Matanya menemukan pisau kecil milik sya'baan,entah setan apa yang sedang merasukinya tanpa berfikir dua kali akhida mengambil nya dan hampir menyayat denyut nadi yang ada di tangan,aban yang baru masuk segera mengambil pisau itu
"Apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini! Sayang dengarkan mas! Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi! "ujar aban pada akhida
"KENAPA? KEMBALIKAN PISAUNYA! KEMBALIKAN! AKU INGIN MATI SAJA! TURUTI SAJA APA YANG DI INGINKAN OLEH UMI MU! BIARKAN AKU TENANG ABAN!! KEMBALIKAN PISAUNYA,kembaliikkaan!"ujar akhida kembali menangis sembari memeluk lututnya
"Sayang ini abhi,abhi minta maaf atas perlakuan umi mu,kau tidak boleh seperti ini kasihan aban,kau tidak melihatnya dia ikut menangis jika kau seperti ini,menantu abhi tidak boleh menangis ya sayang?"ujar abhi mertua pada sang menantu,tapi sang menantu hanya diam tak merespon kata kata abhi mertua
"Nak ini umi,umi minta maaf denganmu,umi tidak bermaksud seperti itu"ujar sang umi mertua pada menantunya
"Umi bilang akan mencarikan penggantiku kan untuk mas aban? CARIKAM UMI! CARIKAN SEKARANG! Aku ingin melihat seperti apa orangnya! Kenapa umi diam?! Katakan padaku umi! Tunjukkan orangnya!"ujar akhida dengan menangis di depan umi mertuanya
"AKU MEMBENCI DIRIKU! TINGGAL KAN AKU SENDIRI! KELUAR KALIAN SEMUAAA!!!! KALIAN MENGANGGU KU!!!" ujar akhida sembari membenturkan kepalnya di dinding berkali kali
"Umi dan abhi sebaiknya di luar,aku harus mencegah akhida"ujar aban pada kedua orang tuanya
Akhida masih membenturkan kepalanya aban segera menariknya dan membawanya kedalam pelukannya,kali ini tidak ada penolakan akhida sudah mulai mengontrol emosinya
"Sayang dengar,jangan memukul badan mu seperti itu,mas sedih melihat kau yang memukuli badanmu sendiri membentur kepalamu di dinding sendiri,mas sayang padamu,maafkan mas. Maaf sekali lagi"ujar aban menangkup wajah akhida dan mencium semua area wajah akhida hingga ia mencium bercak darah di dahi mu
"Sayang dahimu? Astagfirullah"ujar aban membersihkan mulut dan dahimu dengan sapu tangan miliknya
"Maass"ucapan terakhir akhida sebelum dia jatuh pingsan di pelukan aban
Aban segera membawanya rumah sakit untuk di tangani lebih serius oleh dokterSKIP RUMAH SAKIT »»
#HAI HELLO. ASSALAMUALAIKUM SEMUANYA♥♥ PERTAMA MAU NGUCAPIN MAKASIH UDAH MAU NUNGGU AKU UPDATE. YANG UDAH VOTE DAN KOMEN AKU JUGA TERIMAKASIH♥♥ INTINYA UNTUK KALIAN JAGA KESEHATAN WALAUPUN SUDAH NEW NORMAL,HARUS TETEP PAKAI MASKER KALO KELUAR RUMAH,YANG TERAKHIR
♥AKU SAYANG KALIAN SEMUA♥

KAMU SEDANG MEMBACA
KU GENGGAM LEWAT DO'A
FanfictionKisah seorang perempuan yang memiliki sahabat yang akhirnya dia menyukainya ingin menyatakan persaannya dia tak mampu,sedang kan si lelaki?entahlah apakah dia merasakan jika sahabatnya mencintainya akankah mereka membuat cerita baru yang begitu roma...