Pip pip pip
Bunyi alat EKG (Elektrokardiogram) terdengar jelas di ruangan putih ini. Bau-bau obat menguar menusuk hidung orang yang masuk ke dalam ruangan.
Di sebuah ranjang, seorang gadis tengah tertidur pulas dalam tidur panjangnya. Rambut sebahunya, kini telah memanjang membuatnya semakin cantik. Hidung bangir serta bibir mungilnya telah tertutupi alat bantu pernapasan yang dihubungkan dengan ventilator.
Seorang laki-laki tengah duduk di samping ranjang sembari memperhatikan gadis yang tengah tertidur tersebut. Helaan napas keluar dari mulutnya, batinnya bergemuruh hebat, akankah gadis di depannya ini akan segera bangun atau Ia harus menunggu lebih lama lagi?
Tangannya kemudian terulur untuk menggenggam tangan mungil nan mulus itu.
Deg!
Sebuah pergerakan jari lentik itu membuat jantungnya memompa dengan cepat. Ia meneguk ludahnya, menajamkan penglihatannya saat jemari indah itu mulai bergerak kembali.
"Sinbi-ya, apa kau sudah sadar?" Tanya lelaki itu.
Laki-laki itu dengan sigap langsung menggenggam tangan gadis yang dipanggil Sinbi tersebut, matanya tak lepas dari harapan, menunggu kapan mata gadis tersayangnya itu untuk segera terbuka.
Dan sampai pada suatu kesempatan, kelopak mata gadis itu mulai bergerak. Menimbulkan euphoria berlebih pada laki-laki yang tengah menatap harap ke arah Sinbi.
Akhirnya, penantian lama tercapai. Mata gadis itu telah terbuka sempurna, senyuman di wajah laki-laki itu merekah seiring manik itu mulai menatap ke arahnya.
"Hoseok ... oppa?"
"Sinbi-ya..." lirih Hoseok yang masih tidak bisa berkata-kata dalam kebahagiaan serta keterkejutannya. Dengan sigap, Ia memencet tombol merah di sebelah ranjang tempat Sinbi terbaring. Berkat hal itu, para dokter serta suster berhamburan masuk ke dalam ruang rawat Sinbi.
Salah satu dokter maju sambil memeriksa keadaan Sinbi mulai mata, pendengaran, serta ingatan gadis itu. Bagai sebuah hadiah yang sangat berharga, semua berucap syukur karena hasilnya semua normal. Tidak ada gejala kelainan maupun hal buruk lainnya, walaupun harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Sinbi-ssi, kau kenal dengan orang di hadapanmu saat ini?"
"Hoseok oppa, tunanganku."
"Benar sekali, sekarang. Kau tahu saat ini ada dimana?"
"Rumah sakit."
"Di mana rumahmu serta siapa nama orang tuamu?"
"Cheongju, Hwang Chanyeol dan Son Seungwan."
"Terima kasih atas jawabanmu. Sejauh ini tidak ada masalah, semua normal. Besok pagi, sekitar... pukul 7 pasien Hwang Eunbi akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Tolong kerjasamanya, untuk kaki anda, masih belum bisa digerakkan maksimal.
Efek koma selama satu tahun lebih membuat saraf anda kaku, jadi setelah menjalani pemeriksaan anda akan menjalani terapi jalan. Sekian, terima kasih. Saya akan pergi memeriksa pasien lain. Penjelasan lebih lanjut, wali pasien bisa bertanya pada suster Han."
Para dokter dan suster akhirnya keluar dari ruangan, menyisakan dua insan yang tengah terdiam dalam lamunannya.
Sinbi melirik Hoseok yang masih setia berada di sampingnya saat ini, "Oppa, maaf dulu aku sangat menentang pertunangan ini." Sesalnya.
"Tidak apa-apa, aku juga tau kau sangat terpukul dengan kepergiannya. Aku memakluminya kok," ucapan Hoseok membuat rasa bersalah Sinbi semakin melekat dalam hatinya, ditambah saat laki-laki itu membalas ucapannya sambil tersenyum tulus. Sinbi benci itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BKLM ✅
FanficLomba menulis kecil-kecil an yang diselenggarakan oleh hannyhani Pendaftaran telah ditutup, kini saatnya pengambilan suara untuk menentukan juara. Yuks buka dan baca, lalu jangan lupa klik tanda bintang untuk karya yang disukai... ⭐⭐⭐⭐⭐
