fiveteen

5.4K 238 45
                                        

Zayn terdiam sejenak, kemudian. "Lusa aku akan keJakarta"

Deg

***

"Ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan disana. Apa kamu mau ikut?" Lanjut Zayn.

Dila masih terdiam, bukanya dia tidak ingin kesana hanya saja ia takut jika ketemu lagi dengan laki-laki brengsek itu. Tapi dirinya juga tidak bisa berdua saja di Kanada bersama Aleyza, biasanya setiap Zayn akan pergi keluar negri untuk masalah pekerjaan pasti Dila dan Aleyza selalu ikut ,tidak munggkin tidak.

"Sampai kapan?" Tanya Dila, jantung nya sangat berdebar sangat cepat.

"Entah, mungkin 1 atau 2 bulan. Kalau kamu tidak ikut akan aku usahakan untuk pulang lebih cepat, bagaimana?" Ucap Zayn sambil menatap Dila.

"Tidak usah, aku akan ikut. Aku gak bisa berduaan sama Ale disini selama itu." Jawab Dila dengan yakin. Namun keyakinan Dila membuat Zayn takut.

"Yakin? Kamu gak perlu memaksakan diri. Aku janji akan pulang cepat."

Dila menggeleng cepat. "Aku yakin, lagian aku gak boleh terus terusan seperti ini" ucapnya dengan penuh keyakinan.

Zayb tersenyum lembut sambil meraih tangan Dila untuk dia genggam.

"Baiklah, aku percaya."

Setelah beberapa jam kemudian, Zayn pamit pulang. Saat ingin berdiri untuk mengantar Zayn sampai depan lengan Dila langsung ditahan.

"Gak usah diantar, aku sendiri aja" ucap Zayn, Dila mengangguk kemudian kembali duduk dikursi.

"Baiklah, hati hati dijalan"

Zayn mengambil tas yang berada di sofa. "Salam kecup dari ku untuk Ale"

"Baiklah" setelah itu Zayn perlahan hilang dari pengelihatannya.

Dila mendesah berat sambil berjalam menuju kamarnya, dilihatnya sang putri yang masih tertidur lulas. Dengan perlahan ia menaiki kasur dan berbaring disamping Aleyza. Dibawanya tubuh Aleyza kedalam dekapannya. Dielusnya rambut Aleyza dengan sayang.

Mengingat kembali apa yang diucap Zayn membuat jantung Dila berpacu dua kali lebih cepat. Dia akan kembali ke Jakarta berarti besar kemungkinan Dila akan bertemu dengan pria brengsek itu, bagaimana jika pria itu mengambil putrinya? Merebut paksa dari dirinya. Astaga! Dila langsung menggeleng dengan cepat, dirinya tidak boleh kehilangan anaknya. Aleyza salah satu hartanya yang paling berharga, jika tidak ada gadis kecil yang sedang berada didekapannya dirinya tidak bisa apa-apa.

Tak terasa air matanya sudah mengalir dipipi, Dila semakin erat memeluk sang buah hati. "Kita akan baik-baik saja kan sayang? Gak akan ada yang berani memisahkan kita"

Aleyza bergerak mersa tidurnya terusik. "Maa~"

"Iya sayang? Kamu keganggu ya?" Tanya Dila, Aleyna mengangguk pelan.

"Mama kenapa meluk Ale erat banget? Mama kedinginan?" Tanya Aleyza, kini dirinya yang memeluk sang mama.

"Gak sayang, mama cuman kangen aja sama kamu" alis gadis itu mengrenyit.

"Kangen? Kan kita sering ketemu ma" Tanya Aleyza yang sedikit bingung dengan tingkah sang mama.

Dila tersenyum, seperti inilah sikap gadis kecilnya yang sangat peka jika terjadi sesuatu pada dirinya. "Emang kalau sering ketemu gak boleh kangen, hmm?"

"Boleh kok mama ku yang cantik" Aleyza meraba wajah Dila kemudian mengecup pipi sang mama.

"Ale" panggil Dila.

- BABY ALE - ( ON GOING ) -Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang