10. Petunjuk Pertama

10 0 0
                                        

Proses penyidikan telah berlangsung, polisi mendapati rekaman cctv dari sebuah toko yang tidak jauh dari sana, sebuah mobil yang pergi berbelanja sebelum beraksi. Tidak salah lagi pelakunya pasti amatiran, mudah saja memberangus penjahat seperti ini. Plat mobil berhasil dikenali tetapi anehnya pemiliknya adalah milik korban itu sendiri.

Fransiska segera ditahan untuk memberi keterangan lebih lanjut, Fransiska memberi keterangan bahwa dia pernah bertemu seseorang seperti ini dirumahnya berbicara dengan suaminya sebulan yang lalu tetapi ia mengaku tak mendengar hal penting dari pembicaraan itu, dia sedang melakukan hal lain, dia hanya mendengar kata "rumput" dan "putih".

Percaya atau tidak saat kutanya Umar, siapa yang melapor hilangnya Tiara dan menyuruh polisi memeriksa rumahnya Tiara dan rekaman cctv itu semua laporan Umar sendiri, menelepon dengan nomor anonimnya. Petunjuk itu semua sangat membantu polisi untuk mempercepat semua proses penyidikan ini, setelah itu dia membuang nomor telpon itu dan menggantinya dengan walkie talkie yang mana membajak walkie talkie haruslah membajak sinyal radionya alias tidak dapat dilacak dengan mudah. Aku diberikan benda itu satu.

Pembicaraan dengan bibi Tiara kemarin pun tidak memberikan apapun, aku sangat kecewa. Pagi ini setelah malam itu aku menanti balasan e-mail dari kantor Laut Bersinar. belum ada balasan. Suara walkie talkie-lah yang membangunkanku pagi itu.

"SSRRKK SSRKK"

"Halo Erik, Ganti"

"Halo Erik, Bangunnn, Ganti"

"Iya Mar, ah ganggu aja lo ini, masih jam berapa ini, ganti"

"Bodo amat Rik, abis pulang sekolah kita ketemu di cafe Kopi Ketche okeh, ganti"

"Dasar anak-anak, ya terserah lo lah Mar, ganti" Kataku

"Jam empat Rik, Bye," Kata Umar mengakhiri pembicaraan

Entah kenapa tren ngopi dan cafe sedang marak dikalangan anak muda, aku sebenarnya tak peduli dengan itu tapi kupikir karena band ternama dan lagunya yang membuatnya naik daun. Aku sedang pindah kedekat pusat kota sementara karena teralalu lelah jika harus bolak-balik dari Tarahan, juga sekaligus memantau rumahnya Tiara dan menjangkau Umar, karena walkie talkie tidak bisa terlalu jauh untuk bisa berkomunikasi, aku juga jadi tak keberatan saat diajak Umar tadi karena memang cafenya tak terlalu jauh dari kost-an ku sekarang.

Harus apa aku sekarang, aku bisa menelepon Fransiska sekarang tetapi kata Umar tidak boleh dulu, aku kira anak itu berlebihan atau akulah yang memang bodoh tentang ini. Aku turuti saja dia. Yang bisa kulakukan sekarang hanya menghidupkan TV dan menggantinya ke channel berlogo burung Elang atau TV satu. Kegiatan yang sangat menguras emosi, setiap hari hanya melihat berita-berita buruk. Aku menonton kartun, Princess Cinderella dari disneyland. "Ah ini ternyata," gumamku. Tak menyangka aku bakal menonton film ini.

"Apakah kau pergi berharap mendapat kehidupan yang lebih baik nak, atau kau hanya dijebak oleh orang jahat disektiarmu seperti dikisah Cinderella itu," lanjut aku bergumam dalam hati

Aku mengambil buku catatan Tiara lalu duduk disofa dan membacanya sambil menonton kartun itu, karena aku tak tahu harus melakukan apa maka sekalian kuhabiskan saja diary dan film itu sampai sore. "Ah ide bagus," kataku.

Rahasia SetimpalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang