9

19 2 2
                                        

Orang-orang ini sangat menjijikan. Penuh dengan kepalsuan. Munafik pura-pura tidak membenci padahal sangat membenci. Egois.

"Kasih" panggil seseorang dari arah belakang. Aku menoleh pelan. Di sana seorang wanita paruh baya berjalan pelan dengan baju yang tak layak dipakai dan alas kaki yang seharusnya menjadi sampah.

  "Ibu" lirihku pelan sambil menatap Ibuku. Menatap tak menyangka akan kedatangan ibu ke sekolah. Apa karna aku terlambat pulang sehingga ibu menghampiriku ke sekolah. Ia berjalan mendekatiku dengan tatapan sendu.

  "Berhenti Kasih, cukup jangan lagi ada korban, jangan sampai kamu masuk penjara, sama seperti ayahmu dengan kasus yang sama" ucap ibuku sambil memelukku erat. Untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh ibuku. Hangat rasanya. Bolehkah aku merasakannya lagi nanti. Aku terdiam saat ibu berbicara tentang ayah.

  "Ayah" tanyaku heran. Ayah, seperti apa dia, bagaimana rupanya, apakah pelukannya sehangat ibu. Aku tidak pernah mendengar kisah ayah sebelumnya. Ibu menggangguk pelan sambil memegang kedua bahuku.

  "Ayah dan kamu itu sama, kalian Sama-sama memiliki penyakit kejiwaan yang sama. Maafkan ibu sayang" ucap ibu dengan isak tangisnya. Sekali lagi untuk pertama kalinya ibu mengatakan sayang kepadaku. Aku sangat senang, senang sekali. Rasanya hangat dan menenangkan.

"Saat kamu lahir, ibu takut kamu seperti ayahmu, jadi ibu beri namamu Kasih, agar kamu menjadi anak yang penuh kasih sayang, tapi ternyata ibu salah, nama Kasih ternyata membuatmu menjadi orang yang tidak punya belas Kasih" ucap ibu sambil mengusap wajahku yang penuh darah. Aku menatap wajah ibu yang sudah dipenuhi oleh kerutan. Ternyata seperti ini ditatap dengan penuh rasa kasih sayang dari seorang ibu. Tidak ada lagi cambukan, pukulan, dan  jambakan.

"Maafkan ibu nak, ibu hanya khawatir kalau kau punya teman akan jadi seperti ini, bukannya ibu tidak mau kamu punya teman atau mengikuti organisasi" ucap ibuku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihatnya tersenyum.

Aku membalasnya dengan senyuman yang tak kalah lebar. Lalu aku memeluk ibu dengan erat ini benar-benar hangat. Aku sayang ibu. Terima kasih ibu sudah melahirkan aku ke dunia ini. Perlahan senyumku memudar.

"Ibu benar, aku orang yang tidak punya belas Kasih, sekali pun ibu mati ditanganku" sambil memeluk ibu.

"Maaf ibu,aku harus melakukan ini. Aku menyayangi ibu"ucapku sambil mengeluarkan pisau dari punggung ibuku.

“Maafkan aku Bu, sudah menjadi mawar hitammu. Meski kau bilang aku cantik namun aku kelam dan jahat!” sambil menatap datar mayat ibuku.

Aku berjalan meninggalkan mereka semua. Ahh hari ini aku bahagia.

*****
Suara sirine ambulans dan polisi saling bersahutan. Banyak orang berdatangan. Untuk sekadar melihat dan menngasihaninya.

"Korban satu perempuan Paruh baya dan satu remaja laki-laki" ucap salah satu polisi sambil menulis data korban.

"Lapor, kami menemukan darah di ruang OSIS, tapi tidak ada mayat di sana"ucap temannya. Mereka semua saling berpandangan.

Namanya Kasih tapi dia tidak punya belas Kasih.

Dark FlowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang