Tanpa memberitahu Galang, Gie keluar rumah untuk mengajak Dollar jalan-jalan pagi. Anjing harus diajak keluar supaya tidak galau. Kalau moodnya baik, pasti bisa membuat Gie senang juga. Itulah yang sedang coba dilakukan Gie pagi ini. Lengkap dengan jaket, celana, dan sepatu adidas, dia jogging pagi. Dollar berlari di sebelahnya sambil menjulurkan lidah kesenangan. Ekornya mengibas kesana kemari.
"Pagi!" Sapa Gie pada ibu-ibu komplek yang sedang belanja di tukang sayur keliling. Dia kagum dengan dedikasi para ibu rumah tangga yang belanja dan memasak sarapan sejak matahari belum muncul di ufuk.
Ibu-ibu komplek yang sedang berkumpul itu sudah memperhatikan Gie sejak cewek itu berada di kejauhan.
"Orang baru, ya?"
"Keluar dari rumah mas Galang."
"Masa?? Pacarnya?"
"Bukan yang itu pacarnya!"
"Ganti lagi?"
"Iya kali! Ganteng begitu masa pacarnya cuma satu?"
"Kirain dia cowok baik-baik!"
"Lah, emang dia nggak baik sekarang? Masih sering nyapa, kok!"
"Bukan itu! Nyembunyiin cewek di rumah! Masa iya cewek itu nggak nginep. Subuh-subuh begini udah berkeliaran pasti malemnya nginep lah!"
"Eh, iya. Tapi cantik lho kayak artis. Artis Korea! Yang di tipi-tipi!"
"Masa ah? Bisa bahasa Indonesia gitu!"
"Imigran gelap kali!"
"Wah, mas Galang bisnis sampingannya jual beli manusia?"
"Serem, ya! Jangan deket-deket, nanti dijual!"
Mereka bergidik bersamaan, membuat si tukang penjual sayur juga ikut merinding.
Gie tidak mendengar obrolan mereka karena dia sudah jauh.
Ketika matahari mulai tampak, dan sinarnya mulai hangat, Gie tiba di sebuah taman yang dipenuhi lansia. Kaki Gie melangkah menuju kesana. Dollar mengikuti di belakang. Gie melakukan pemanasan sambil mengatur napas. Ia berdiri di bawah pohon mangga besar yang menaungi tubuhnya dari terik matahari. Dengan kedua mata terpejam, dia mulai melakukan yoga.
"Saya baru liat kamu di sini." Konsentrasi Gie terganggu oleh suara seseorang. Ketika Gie membuka mata, ia melihat seorang pria renta yang kelihatan masih bugar. Tubuhnya dibalut pakaian olahraga, seperti kebanyakan orang yang ada di taman ini. Seluruh rambutnya berwarna putih. Wajahnya kelihatan ramah.
"Gie memang baru di sini, Opa." Gie mengangkat satu tangannya ke atas dengan sikap sempurna sambil mengatur napas.
"Tinggal dimana?"
"Di tempatnya Galang."
"Galang yang punya bengkel mobil?"
Gie mengangguk. "Opa kenal?"
Opa itu tersenyum lebar. "Siapa yang nggak kenal Galang di sini? Dia anak baik, suka bantu-bantu di komplek. Terutama kalau urusan mobil mogok, pasti dia yang dipanggil buat benerin." Kemudian ia tertawa. Mendengar tawa renyah si Opa, Gie tidak tahan untuk tidak tersenyum. Kalau saja Opa Atmodjo sesantai ini. "Memang kamu siapanya Galang?"
"Gie numpang di rumah Galang. Semacam penyewa gitu. Ada kamar yang kosong, jadi Gie yang tempatin." Sekarang tangan Gie yang satunya terangkat. Ia masih konsentrasi mengatur pernapasan.
"Loh? Rumahnya Galang disewakan?"
"Iya, Opa. Kalo nggak disewakan nggak mungkin Gie tinggal di sana."
KAMU SEDANG MEMBACA
mechanic&lover [selesai]
RomansaPrioritas hidup Gie: 1. Menghabiskan harta Opa 2. Membuat Galang bertekuk lutut padanya Prioritas hidup Galang: 1. Menabung untuk modal nikah dengan pacarnya, Lea 2. Menjauhkan cobaan bernama 'Gie' dari hidupnya Ini cerita romantis komedi lain yg bi...
![mechanic&lover [selesai]](https://img.wattpad.com/cover/232678494-64-k441902.jpg)