"Entah sampai kapan aku akan bertahan dalam rasa sakit ini?"
Park Jiyeon"Mark, kau pakai ini saja bagaimana? Ini keren," Jiyeon menunjukkan jas navy yang dia ambil di lemari pakaian Mark. Membuat Mark sangat jengkel dengan kelakuan nya. Sedari tadi, Jiyeon tidak berhenti menggangu nya.
Merasa kesabaran nya sudah habis. Mark berbalik badan dan menarik tangan Jiyeon hingga jarak mereka cukup dekat. Memandang satu sama lain. Jiyeon malah memalingkan wajah nya ketika iris coklat nya bertemu dengan manik tajam seorang Mark Tuan.
"Kau ini sebenarnya manusia atau macan, sih? Terus saja meraung! Jika kau ingin membuat ku mencintaimu, maka buanglah sifat mu ini."
Mark yang terlanjur kesal tidak sadar bahwa diri nya sudah membuka cara sendiri pada Jiyeon untuk bisa mendekati nya. Tangan nya melepas kasar tangan Jiyeon, mengambil dasi di atas ranjang dengan bibir yang mengatup rapat memandangi Jiyeon tajam. Barulah keluar dari tempat yang membuat nya sesak.
Melihat kepergian nya Jiyeon malah tersenyum lebar dan setelah nya meloncat-loncat tidak jelas. Sembari berteriak, "Akkhhhhh yes Mark Tuan is mine."
•
•
•
Kim Lian, mencoba lepas dari ikatan maut yang menyiksa nya. Kendati sulit tetap tidak membuat nya lengah. Kedua mata nya mencari sesuatu di segala arah. Berusaha menemukan benda yang akan membuat nya terbebas.
Tiba-tiba setetes air mata nya mengalir. Entah kenapa tapi Lian mengingat pertemuan nya terakhir kali dengan Mark. Dimana hubungan mereka berakhir. Dan, Lian adalah penyebab nya.
Mata nya terpejam, meronta ingin lepas. "Astaga, kenapa aku punya adik yang sangat kejam. Jika bisa, aku tidak ingin menjadi saudara nya. Tolong siapapun bebaskan aku!!"
Seberapa nyaring pun suara nya. Percuma saja, karena tidak akan ada yang mendengar nya. "Mark ... Mianhe, aku tidak bermaksud mengakhiri hubungan kita hiks, aku menyesal Mark." Lian terus menangis, berharap akan ada pangeran berkuda yang datang menolong nya. Namun itu semua mustahil, karena gubuk tua ini jauh dari jangkauan kota.
•
•
•
Langkah nya terhenti saat telah sampai di tempat tujuan. Menatap segala arah agar jangkauan nya tetap aman. Melihat tak ada seorang pun yang memfokuskan pandangan ke arah nya. Segera mungkin gadis itu masuk kesana.
Sebuah rumah kecil, yang katanya kediaman Im Jaebum. Mantan kekasih Park Jiyeon. Yang siap melakukan apa saja agar hubungan Jiyeon dan Mark menjadi berantakan.
"Oh, kau sudah datang, Jennie. Aku sudah menunggu kehadiran mu."
Jennie menyeringai melihat keberadaan Jaebum yang duduk di kursi nya. Melangkah untuk mendekat dan duduk di samping nya.
"Bagaimana? Apa rencana mu, sayang? Kau bisa jelaskan pada ku." Jaebum memutar kursi nya ke arah Jennie. Bersiap mendengarkan rencana yang sudah Jennie bangun untuk menghancurkan hubungan Mark dan Jiyeon.
•
•
•
"Kak."
Kepala nya terangkat, menolehkan pandangannya ke arah pintu. Mark mengangkat sebelah alisnya tatkala melihat kedatangan adik nya. Ayolah padahal Jisung tidak pernah tertarik sekalipun untuk datang ke kantor ayah nya.
"Jisung, ada apa?"
Tungkai nya melangkah pelan. Jisung menduduki kursi di depan meja kerja Mark dan menatap kakak nya penuh keseriusan. "Apa kau punya waktu?"
"Bicara saja, kau mau sesuatu, 'kan?" Ucap Mark kembali fokus pada lembar formulir yang harus dia tanda tangani. "Apa kau butuh uang?"
Menghembuskan nafas pelan. Kenyataan nya Mark tak membiarkan Jisung bicara. "Ayolah kak, kau bahkan tidak membiarkan ku bicara."
Tertawa pelan sebelum akhirnya memperhatikan adik nya. Mark hanya fokus pada satu orang yang kini berada di hadapannya. "Katakan," ucap nya.
"Sebenarnya, aku tidak percaya pada perkataan Jennie."
Mark kembali mengangkat alis nya. Entah dari mana, yang jelas Mark tidak pernah tahu jika Jisung tidak percaya pada Jennie. "Kau tidak percaya apa tentang nya?"
"Kematian kak Lian, aku tahu itu palsu."
Tiba-tiba tubuh nya berdiri sendiri. Mark ingin mendengar lebih jelas. "Palsu bagaimana, Jisung?" Alis nya berkerut, sampai kapanpun Mark akan mencari kembali kekasih nya.
"Waktu itu ... "
Jisung mulai menceritakan segala nya pada Mark. Mulai dari waktu pertama kali mereka datang ke rumah Jennie saat mendengar kabar kematian Lian. Disana Jennie terlihat biasa saja, emosi nya dapat Jisung lihat dengan baik. Bahkan smirk Jennie yang terlihat oleh mata Jisung di ceritakan pula pada Mark.
"Aku yakin kak Lian masih hidup, kak."
Kali ini, Mark benar-benar yakin dengan apa yang di katakan adik nya. Jisung memang pandai menilai orang.
"Kita tanyakan sekarang juga pada Jennie."
Mark terburu-buru hingga diri nya sudah sampai melawati meja kerja nya. Namun, "berhenti kak." Jisung menyuruh Mark menghentikan langkah nya.
"Ada apa lagi, Jisung?"
Mark terlihat emosi. Dia sudah tidak tahan ingin mengungkap kebenaran.
"Ingatlah, kau masih punya Jiyeon."
Detik itu juga Mark teringat pada gadis aneh di rumah nya. Harus dia apakan Jiyeon itu. Gadis yang sangat mirip dengan Lian, yang tidak pernah bisa Mark hindari.
"Begitu Lian di temukan, aku akan menceraikan Jiyeon."
Mark tidak memikirkan ucapan nya. Yang jelas dia hanya ingin Lian kembali. Dia segera membuka pintu dan mata nya terbelalak saat melihat seorang gadis di depan nya. Mata nya berair, sekali kedipan kristal bening itu langsung tumpah ke pipi putih nya.
Gadis itu segera bergegas meninggalkan sakit hati yang mendera. "Jiyeon!!"
Entah karena apa, Mark malah meneriaki nama nya. Mark merasa bersalah karena dia yakin Jiyeon mendengarkan perkataan nya di dalam. Pasti gadis itu sakit hati karena Mark berniat menceraikan nya.
"Astaga, apa yang sudah ku lakukan?"
TBC
Dan aku memilih ini tetap lanjut ^^

KAMU SEDANG MEMBACA
𝑊ℎ𝑜 𝐴𝑟𝑒 𝑌𝑜𝑢?
RomanceIni tentang kehadiran seorang gadis yang sangat mirip dengan kekasih nya. Membuat Mark Tuan bertanya 'Siapa kau?'