Selembut Ikhlas || 08

1.9K 190 21
                                        

°°°

"Untuk sekarang, doanya masih sama. Hanya, tidak lagi menyelipkan sebuah nama. Cukup meminta yang terbaik, siapa pun pilihan-Nya."

°°Selembut Ikhlas°°

°°°

"Kak, kabar hati gimana? Sehat?" tanyaku dengan nada bercanda kepada Kak Rizki.

Hari ini aku bertemu dengannya. Karena hari ini adalah pernikahan Bang Hijri dan Lara, wanita yang hendak dipersunting Kak Rizki, tetapi malah berjodoh dengan Bang Hijri.

"Baik, Alhamdulillah. Sehat secara lahir dan batin juga," jawabnya dengan nada serupa.

Kami tertawa. Menertawakan hal konyol. Memang, sedewasa apa pun kita, bertingkah dengan menertawakan sesuatu yang absurd juga perlu demi kelangsungan hidup. Agar tidak cepat tua.

"Strong banget, ya, Kakak yang satu ini."

"Oh iya, dong. Patah boleh, tapi terlaru larut juga jangan. Patah masih bisa tumbuh, kok. So, don't worry about it."

Aku tergelak. Berbincang dengan Kak Rizki memang menyenangkan. "Tapi kenapa bisa begitu jalan ceritanya, Kak?" tanyaku penasaran.

"Qadarullah, Fi. Emang udah jalan-Nya begini."

"Tapi kuat, kan?"

"Iya, lah. Ngaco aja kamu."

Aku terkekeh kecil. "Ya, kan, siapa tahu gitu pura-pura strong, padahal hatinya stres tak tertolong."

"Astaghfirullah, Rafisya, tapi serius deh, I'm fine. Actually fine."

"Ya-ya percaya, kok, tapi aku mau nanya, nih. Broken heart is real. And then, apa yang Kakak rasakan saat tahu kalau ternyata Kak Laras nggak bisa bersanding dengan Kakak?" tanyaku serius.

"Accept, maybe? 'Cause gak ada jalan lain lagi selain menerima. Seiring berjalannya waktu, semua akan baik-baik aja."

"Apa masih ada perasaan buat Kak Laras walau sedikit?"

"Untuk rasa pasti ada. Kamu tahu, dong, melupakan itu nggak mudah. Apalagi Kakak udah mulai mencintai sejak bertemu dia waktu kuliah dulu. Namun, semenjak dia memutuskan untuk memilih Hijri, sejak itu juga Kakak memilih melepaskan. Walau belum bisa sepenuhnya, setidaknya Kakak udah ambil tindakan. Untuk urusan berhasil atau nggak, itu urusan yang Maha Kuasa."

Aku kagum dengan pemikirannya Kak Rizki ini. Dewasa. I mean, dewasa yang benar-benar dewasa. Bukan usia saja, tetapi pemikiran juga dewasa.

"Terus, progres ke depannya gimana?"

"Gak gimana-gimana, sih. Untuk sekarang, doanya masih sama. Hanya, tidak lagi menyelipkan sebuah nama. Cukup meminta yang terbaik, siapa pun pilihan-Nya. Karena kita tahu, berharap pada manusia adalah bukti nyata dari awalnya kecewa. Kakak nggak mau kecewa lagi hanya karena disebabkan oleh alasan yang sama, yaitu manusia. Jadi, biarlah mengalir apa adanya. Kakak percaya jodoh pasti bertemu pada satu waktu yang emang benar-benar tepat menurut Allah."

Aku mengangguk. Memang, kelak akan tiba masanya kita bukan lagi menyebutkan sebuah nama. Bukan karena telah kecewa, tetapi karena tidak mau lagi menentang takdir-Nya.

Perihal jodoh itu hanya sang Illahi Rabbi yang tahu. Dia juga akan mempertemukan kita dengan jodoh kita saat dirasa diri kita benar-benar siap. Siap bukan hanya lahir, tetapi juga batin.

"Kamu masih, dong, ya, sama Gemi?" tanyanya tiba-tiba.

Aku tersenyum. "Masih, Kak."

"Baik-baik, ya. Jangan terlalu jatuh juga terhadap Gemi. Kakak gak mau orang-orang di sekitar Kakak merasakan hal yang sama. Cukup Kakak aja. Just me, not the others."

Selembut Ikhlas ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang