02. This is Na Jaemin

1.8K 250 3
                                        

25 tahun yang lalu, tanggal 13 Agustus, sebuah bayi telah lahir ke dunia, sang ibu sangat senang telah berhasil melahirkan sang anak dengan keadaan sehat, bayinya sangat tampan dan manis.

Bayi itu di beri nama Na Jaemin.

Kehidupan Jaemin bisa di bilang sangat bahagia dan penuh kasih sayang kedua orang tuanya, sampai suatu hari saat Jaemin berusia 10 tahun, terjadi sebuah kecelakaan pada sang ibu, mengakibatkan ibunya meninggal di tempat.

Saat mendengar berita itu membuat Jaemin menangis sejadi jadinya membuat Jaemin jatuh sakit, sang ayah sangat khawatir dengan anaknya itu pun membawanya ke rumah sakit.

Untung tuhan masih belum mengambil Jaemin, ayahnya sangat khawatir jika itu terjadi karena keadaan Jaemin saat itu demam sangat tinggi.

Beberapa tahun kemudian Jaemin mulai menerima kepergian ibunya meskipun ia masih sering menangis tengah malam hanya karena merindukan ibunya itu.

Sang ayah yang tau Jaemin butuh ibu pun mencari seseorang untuk mengganti kan ibu Jaemin, awalnya Jaemin menolak saat sang ayah memperkenalkan wanita dengan 2 anak perempuan nya itu, tapi sang ayah berusaha meyakinkan Jaemin supaya bisa menerima mereka bertiga, dan pada akhirnya Jaemin menerima ketiga orang itu.

Nyonya Hwang, dengan kedua anaknya Hwang Yeji dan Hwang Ryujin, ralat mereka sudah berganti marga menjadi Na Yeji dan Na Ryujin.

Bukannya bahagia mendapatkan keluarga baru, Jaemin malah semakin menderita akan kehadiran ketiga orang itu, terlebih lagi sang ayah yang sangat sibuk bekerja menyusahkan Jaemin mencari perlindungan dari kekerasan ketiga orang itu, di dalam rumahnya sendiri dia dijadikan pembantu.

Jaemin hanya pasrah, mungkin memang ini jalan takdirnya, Jaemin hanya berusaha untuk tegar, tapi kekokohan itu perlahan hancur saat Jaemin menginjak umur 20 tahun, sang ayah mengalami kecelakaan, sang ayah sempat di larikan kerumah sakit tapi beberapa jam kemudian dinyatakan meninggal karena kehilangan sangat banyak darah.

Kehidupan Jaemin yang semula sudah suram menjadi sangat suram saat ayahnya pergi menyusul sang ibu, perlahan kekokohan nya untuk tegar akan perilaku keluarga tiri nya itu sudah berada di limit, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saat berumur 25 tahun.

Tapi nyatanya Tuhan masih belum memperbolehkan Jaemin untuk menyusul kedua orang tuanya dan malah bertemu Jeno, seseorang yang ingin menjadi rumahnya itu.

Inilah kehidupan Jaemin bersama Jeno, apa akan kembali suram? Biasa saja? Atau menjadi bahagia? Kita tidak tau pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

—oOo—

Malam hari yang dingin, angin yang sepoi sepoi menerpa wajah Jaemin yang sedang berdiri di perbatasan balkon apartemen milik Jeno, ia hanya memakai setelan baju tipis lengan pendek dan celana training.

Jaemin menutup mata menikmati setiap terpaan angin malam yang mengenai wajah tampan nan manis miliknya.

"Eomma, Appa, Jaemin kangen." Gumam Jaemin berbicara dengan sang rembulan, matanya tampak berbinar memandang sang rembulan.

"Hey, Na Jaemin, sedang apa kau disini? Tidak kedinginan?"

Saat sedang sibuk memandangi sang rembulan, sebuah suara berat namun terdengar lembut, terdengar di pendengaran Jaemin, Jaemin pun membalikkan badan mendapati Jeno yang masih memakai setelan kantornya, memandangi nya dengan eye smile andalan seorang Lee Jeno.

"Tidak, aku sudah sering merasakan ini, bahkan lebih parah dari ini." Ucap Jaemin, Jaemin melihat Jeno berjalan menuju sebelahnya, Jeno menutup mulut Jaemin dengan jari telunjuk nya.

"Sttt, sudah jangan berbicara seperti itu, ayo masuk, kita makan malam, kau belum makan malam, bukan?" Tebakan Jeno sangat tepat, sejak tadi siang ia belum makan, karena masih sungkan untuk mengambil makanan di apartemen Jeno, jadi jika lapar Jaemin hanya bisa menunggu Jeno pulang.

Jaemin mengangguk membuat Jeno menghela napas jenggah. "Sudah ku bilang berapa kali, hm? Anggap apartemen ini seperti rumah mu." Ucap Jeno, mengangkat tangannya untuk mengelus surai coklat Jaemin.

Mereka berdua pun masuk ke dalam dan berjalan menuju dapur untuk makan malam bersama, setelah makan bersama mereka masih enggan untuk beranjak dari sana.

"Jaemin, apa besok kau sibuk?" Tanya Jeno memecahkan keheningan di antara mereka, Jaemin sedikit kaget lalu menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Jeno.

"Tidak, kenapa?" Jawab Jaemin.

"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat." Ucapan Jeno membuat Jaemin mengerutkan keningnya bingung sambil memiringkan kepalanya membuat Jeno kegemasan sendiri.

Meskipun masih bingung, Jaemin hanya mengangguk kan kepala, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tempat pencucian piring untuk membersihkan piring piring kotor bekas makan malamnya bersama Jeno tadi.

Saat mencuci Jaemin sempat melamun, memikirkan bagaimana dia bisa bertemu dengan Jeno dan berakhir tinggal di apartemen Jeno, banyak sekali pertanyaan di benak Jaemin, tapi ia urungkan karena ia yakin suatu saat nanti Jaemin akan mengetahui semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya, ya suatu hari nanti....

Setelah mencuci piring Jaemin yang belum mengantuk pun berjalan menuju ruangan televisi hanya sekedar melihat lihat tayangan televisi yang menarik baginya.

Akhirnya ia menemukan tayangan yang pas untuknya, ia menonton dengan santai sambil sedikit mengoceh sendiri karena tayangan televisi yang ia tonton, aneh namun di Jaemin dia terlihat sangat lucu.

—oOo—

Jeno yang baru saja selesai teleponan dengan Yangyang di balkon apartemen miliknya terganggu akan cahaya yang muncul di ruang tamu, karena penasaran ia pun berjalan perlahan menuju ruang tamu.

Ia melihat Jaemin yang sudah tertidur pulas dan sedikit bergerak gelisah di dalam tidurnya, Jeno tersenyum lalu berjalan mendekati Jaemin, ia duduk di sebelah Jaemin yang sedang tertidur, mengelus rambut Jaemin perlahan.

"Wajahmu sangat manis dan cantik, tapi nyatanya kehidupan mu dengan wajahmu sangat berbeda, dengan hebatnya kau menutupi itu semua dengan satu bahasa yaitu, senyuman, aku sudah berjanji pada almarhum tuan Na, untuk menjaga mu, aku akan menepati itu."

Jeno memandang wajah damai Jaemin saat sedang tertidur, lalu matanya memandang televisi yang masih menyala ia pun meraih remot yang di genggam Jaemin dengan perlahan, setelah dapat ia mematikan sambungan televisi nya dan mengangkat tubuh mungil Jaemin ke kamar milik Jaemin.

Jeno menyelimuti tubuh mungil Jaemin dengan selimut yang sangat tebal takut jika Jaemin kedinginan, sebelum pergi Jeno kembali mengelus puncak kepala Jaemin, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jaemin, mengambil satu kecupan di kening Jaemin.

"Sleep tight, Nana-ya"

—oOo—

Aneh ya? Maaf deh hehe

Aneh ya? Maaf deh hehe

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Take Over The Moon [ Nomin ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang