Keping 10 - Tidak Rela?

624 83 15
                                        

tandai ya kalau menjumpai typo~
selamat membaca🌺

~~~

"Cewek di kantin tadi, beneran bukan cewek lo?" Yolan melayangkan satu pertanyaan selang tiga detik usai keheningan mencuat di dalam ruangan bernuansa hitam itu. Sepulang sekolah, Galdo dan kawan-kawan langsung tancap gas ke rumah Tora. Mereka bersantai di kamar empu pemilik rumah selayaknya kamar sendiri.

Galdo sedang berbaring dengan mata terpejam di atas kasur milik Tora, akan tetapi Yolan yakin seratus persen bahwa cowok itu tidak tertidur. Yolan sendiri tengah asyik memainkan ukulele Tora di sofa dengan kaki dua-duanya terangkat. Hanya ngejreng-ngejreng ala kadarnya, dia memang terlahir tanpa bakat musik.

"Bukan," balas Galdo masih dengan mata terpejam. Benar kan? Cowok itu tidak tertidur pulas.

Tora yang menyadari percakapan semi-semi intimidasi itu menatap Galdo sekilas, kemudian kembali fokus pada layar televisi yang menampilkan serial kartun kesukaannya. Upin dan Ipin. Cowok bergigi gingsul itu memang penggemar berat kartun si botak kembar, dia tidak pernah bosan walau episodenya terus diulang-ulang. Kalau Galdo dan Yolan sih, sudah mblenger.

"Tapi kalian kelihatan dekat," timpal Tora.

"Gue juga masih heran kenapa tuh cewek bisa dapet posisi yang enggak biasa di antara cewek-cewek lain. Selama gue jadi sahabat Galdo, dia enggak pernah mau interaksi sama cewek. Aneh kan, Tor?"

"Menurut analisa gue, mungkin aja dia suka sama cewek itu. Ngaku aja deh, Do!" kata Tora mengompori sambil mencomot setoples ciki dari atas meja.

Galdo bangkit duduk, kebisingan suara dua ekor burung sejujurnya membuatnya kurang nyaman. Dia jadi tidak bisa tidur karena mereka. Lama-lama Yolan dan Tora serupa agen detektif saja, sebab selain sibuk bertanya, mereka juga suka sekali mencaritahu petunjuk untuk memecahkan misi alias rasa penasaran mereka sendiri. Padahal seingat Galdo, dia mana pernah penasaran dengan dua sahabatnya sampai mereka mau cerita tanpa diminta.

Tapi, tunggu. Apa tingkahnya sekentara itu?

"Berisik."

Alis kanan Tora terangkat. "Jadi, beneran enggak ada hubungan apa-apa nih?"

"Enggak."

"Yakin?"

"Hmm."

"Oke, kalo gitu si Velan-Velan itu buat gue aja, lumayan euy imut-imut gemesin," goda Tora, maksudnya supaya Galdo mengaku kalau sebenarnya dia dan Velan memang ada sesuatu atau paling tidak Galdo mengaku telah jatuh cinta. Tapi tampaknya ide Tora yang tidak cemerlang-cemerlang amat itu gagal, buktinya Galdo cuma diam. Ekspresi wajahnya sedatar hari-hari biasa.

Sesungguhnya tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Galdo pada titik terdalam. Ada sesuatu yang menjalar di dada tepat ketika Tora menyelesaikan kalimatnya. Dia membayangkan jika Tora benar-benar mendekati Velan.

Kok rasanya seperti ... tidak rela?

🌺🌺🌺

Galdo melepas kemeja seragamnya hingga menyisakan kaos putih. Rasanya sesak selama tiga puluh menit terjebak kemacetan. Jalanan padat merayap seperti sore-sore umumnya di Ibukota. Galdo lupa, harusnya dia menetap saja di rumah Tora sampai malam biar bisa pulang sat-set.

Galdo meraih sebotol air mineral masih disegel dari kursi belakang. Entah air kapan, dia persetan tidak mengecek dulu. Langsung diminum begitu saja saking hausnya. Sejatinya menunggu bukanlah hal yang menarik dan bisa membuatnya lupa akan rasa haus.

Ponsel yang tergeletak di kursi samping kemudi terus saja berbunyi. Galdo mendengkus ketika melihat nama yang tertera pada screen. Dia melempar asal ponselnya kembali ke tempat semula tanpa memedulikan dering yang seolah meraung.

[KASRA] VelandraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang