~~~
Begitu langkahnya menyentuh ubin kelas, Galdo langsung melempar benda kecil persegi panjang ke arah dua temannya yang sibuk main game online sambil misuh-misuh. Tora mengaduh kesakitan saat benda itu sempat mengenai pelipisnya, lalu jatuh tepat di sisi meja.
"Anjir, sakit woi!" pekik Tora. Dia mau mengeluarkan sumpah serapah lebih lanjut, tapi hurung saat melihat sebungkus permen karet berwarna ungu yang melambai-lambai menggiurkan. Pas sekali untuk liurnya yang sekarang lagi pahit. "Wih, permen karet! Punya siapa nih?"
"Galdo," balas Yolan singkat.
Galdo beralih duduk di bangkunya, yakni tepat di belakang Yolan dan Tora. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemeja dan mulai memainkannya tanpa mengubah ekspresi datar, seperti biasa. Rutinitas. Pemandangan yang maenstrim, terutama bagi Yolan dan Tora sendiri.
Tora memutar tubuhnya ke belakang. "Woi triplek, lo dapet permen karet dari mana?" tanyanya sesaat setelah menepuk meja Galdo cukup keras supaya cowok itu melepaskan perhatian dari ponsel.
"Mau apa enggak?" tanya Galdo ketus. "Kalau enggak mau, buang aja."
"Eh, ya mau dong!" Tora menyobek bungkus permen karet berwarna ungu itu, lalu mencomot salah satu dari enam isinya. "Gue mah enggak pernah nolak rezeki! Hmmm, enak. Manis."
Yolan meletakkan ponselnya kasar, frustasi dari tadi main kalah melulu. Dia ikutan mengambil permen karet yang masih dibawa Tora, lebih tepatnya sih meminta paksa. "Dari salah satu fan lo ya?"
Galdo tidak menjawab, dia hanya sedikit menggerakkan sisi bibir. Sementara tatapannya stuck terfokus pada layar ponsel. Cowok itu justru asyik meng-scroll Instagram, padahal jelas-jelas indera pendengaran Galdo menangkap pertanyaan kekepoan Yolan.
Tidak dianggap membuat Yolan berdecak kesal. "Bjir, susah emang punya temen dingin kayak es kutub, serasa ngomong sama tembok! Mending lo temenan aja sama beruang atau pinguin sana, Do."
"Kali ini fan yang mana, Do?" timpal Tora, dicueki sedemikian rupa tak membuatnya tumbang. "Enggak mungkin kan lo beli permen karet ini di kantin, setahu gue Bu Pipin enggak menyediakan permen lagi semenjak ditegur guru-guru karena banyak murid yang makan permen waktu pelajaran."
"Hm, emang bukan, banyak nanya lo berdua," jawab Galdo pada akhirnya, meskipun dengan nada agak ketus.
"Terus? Dikasih?" tanya Tora semakin penasaran.
"Dari adik kelas."
"Cewek?"
"Iya."
Yolan dan Tora saling memandang, tampak terkejut. "Tumben lo terima pemberian fan," tangkas Tora.
"Bukan fan," jawab Galdo. "Dia bahkan enggak kenal gue siapa."
"Emang ada yang enggak kenal sama lo di sekolah ini?" Satu alis Tora terangkat tinggi, satu detik berikutnya air mukanya tiba-tiba berubah seperti menerawang masa depan. "Anjai, berarti tuh cewek tipe-tipe yang enggak begitu peduli sama sekitar. Pasti introvert! Pake kacamata ya? Rambutnya panjang diiket dua? Ada tompelnya nggak?"
Galdo terdiam, bayang-bayang gadis cerewet bernama Velan itu menggerayangi isi kepala. Tapi, tidak ada sedikitpun aspek dalam benaknya yang membenarkan kalau Velan itu tipikal gadis introvert. Buktinya, Velan saja berani bertingkah di depan Galdo, padahal mereka tidak saling kenal. Dia bahkan berani menghadang kakak kelas cowok asing untuk membantunya melakukan hal sesederhana menyimak hafalan naskah. Sungguh bukan aliran introvert, justru sebaliknya.
"Cantik enggak, Do?" celetuk Yolan menggoda. Senyum jahilnya mengembang bak setan mesum.
"Biasa aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
[KASRA] Velandra
Teen Fiction"Kak, gue jatuh cinta." "Bodo amat. Mau lo jatuh cinta atau jatuh miskin sekali pun, gue enggak peduli." "Kalau lo tahu siapa cowok yang gue taksir, lo enggak akan ngomong gitu." "Siapa emangnya?" "Lo." 🌺🌺🌺 [TIDAK DIPRIVATE, TAPI ALANGKAH BAIKNYA...
![[KASRA] Velandra](https://img.wattpad.com/cover/181959949-64-k619800.jpg)