Keping 2 - Ketakutan

1.2K 118 3
                                        

~~~

Velan segera merapikan buku-buku dan alat tulisnya dengan penuh minat ketika bel pulang sekolah berdenting nyaring. Dia bernapas lega. Akhirnya, dia bisa pulang juga setelah beberapa jam luntang-lantung tidak jelas, hampir saja dia pingsan kebosanan.

Mata pelajaran di hari Senin, seluruhnya bukan kesukaan Velan. Apalagi ketika harus berhadapan dengan ulangan harian kimia di jam terakhir. Bisa apa? Bisa gila. Keinginan Velan untuk membanggakan keluarga Jennie lewat kesuksesan tahu-tahu lesap bersama mendung di luar sana, digantikan oleh rencana lain yang lebih masuk akal untuk digapai otak pas-pasan Velan.

"Wajah lo kenapa kusut gitu?" tanya Olla begitu dirinya kembali ke tempat duduk asal, sembari juga membereskan peralatan sekolahnya di samping Velan.

"Abisnya tadi gue panggil-panggil, lo enggak denger mulu. Entah beneran enggak denger apa sengaja cuekin deh," cebik Velan.

Selama ulangan harian kimia berlangsung, siswa-siswi kelas XI MIA 1 diharuskan duduk sesuai urut absen. Berarti Velan dan Olla terpaksa berpisah karena nomor urut mereka berjauhan. Sebenarnya mereka duduk segaris diagonal, hanya saja terhalang satu meja. Olla berada sedikit lebih depan dari posisi Velan berada.

"Kenapa? Mau minta contekan?" tanya Olla, alis kanannya terangkat tinggi.

"Iyalah, apa lagi? Gue mana bisa kimia sih, orang setiap diterangin materi aja gue tidur. Dikasih soal gue malah bekerjasama dengan AI. PR juga mana pernah skip nyontek lo."

Olla tergelak pelan sambil menggeleng takjub menghadapi kejujuran tingkat dewa Velan. "Ya maaf, gue tadi fokus banget sampe enggak merhatiin sekitar."

"Ya udah ihh, nggak apa-apa kok. Lagian gue juga udah pasrah sama nilai yang bakal muncul, mau simbol kursi kebalik, angsa, atau tiang listrik sekalipun. Gue udah berserah." Velan menyampirkan tasnya yang berbentuk kelinci ke pundak kanan, bersiap untuk pulang dan berdiskusi dengan Tante Sukma untuk membelikan rumah baru boneka-boneka kesayangannya. "Tapi, kalau kapan-kapan gue minta bantuan lo ajarin materi kimia, gimana?"

"Boleh, bab apa aja yang lo belum ngerti?"

"Semuanyaaa!" Velan terkekeh, netranya ikut menyipit seiring tarikan kedua sisi bibirnya yang semakin melebar.

Olla mendengkus. "Dasar!"

"Ayolah, mau ya ajarin gue?" Velan menarik-narik lengan Olla layaknya anak kecil yang minta dibelikan balon Upin Ipin. "Please." Dia mengeluarkan jurus puppy eyes yang membuat Olla luluh.

"Oke."

Velan tersenyum manis hingga menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi. "Yeay! Makasih, Olla-ku cayang!"

"Jangan berlebihan ya, Vel. Gue jijik."

Bukannya merasa bersalah, Velan justru tertawa lebih keras. "Jijik-jijik gini tapi lo sayang kan sama sahabat lo yang paling imut ini?"

"Astaga, mending lo pulang aja deh," suruh Olla yang mulai tak tahan dengan tingkah kekanakan Velan. Tapi, dia juga heran mengapa betah bersahabat lama dengan spesies manusia semacam itu.

"Oke, kalo gitu gue balik dulu ya, bye!" Velan mengayunkan langkah keluar kelas seraya melambaikan telapak tangan bagai model terkenal, meninggalkan Olla yang masih tak habis pikir.

Velan berjalan melewati koridor. Tujuannya saat ini adalah tempat parkir siswa. Mumpung jam segini tempat itu masih belum ramai, Velan harus cepat-cepat tiba di sana. Supaya lebih mudah mengeluarkan sepeda motor. Kalau sudah ramai, pasti Velan akan kesulitan mengeluarkan sepeda motor matic merah muda miliknya dari barisan sepeda motor lainnya.

[KASRA] VelandraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang