Bagaimana ya menjelaskannya? Seharusnya di hari Senin ini, Metawin melaksanakan misi mundur alon-alon nya dengan lancar, tapi dilihat dari kondisi sekarang hidupnya adalah sirkus.
Terjebak di tengah hujan mengakibatkan Metawin hampir menunggu di halte, sumpah, keadaannya sekarang sedang berada di mobil Bright, terdiam dengan pikiran kalut.
Paginya berjalan seperti ini.
Metawin berlari ke halte bus terdekat, tadi diturunkan oleh mas Go-Jek di tepi jalan karena tentu pria itu tidak bisa melanjutkan perjalanan tanpa jas hujan yang terlupa oleh driver.
"Mohon maaf ya dek, saya lupa." tutur driver itu, Metawin hanya tersenyum masam, terlupa sudahlah absen kelas pertamanya.
"Gapapa mas, mau diapa juga, makasih ya mas!" Metawin menjawab, melarikan tungkainya ke halte bus, kepalanya tertutup dengan tote-bag krem andalannya.
Hah. Sial.
Pria itu hampir saja berdempetan dengan belasan orang yang menepi disebabkan oleh rintik yang menghujam kota Jakarta, jika Bright dengan mobil CRV abu-abunya tidak menepi membuka kaca sembari berteriak, "Meta! Sama gue aja!"
-
Sekarang ia disini, duduk disebelah Bright dengan celana katun-nya yang masih lembab terkena siraman rohani dari Tuhan.
Kedua insan sibuk mengatup mulut dengan gema suara radio mengisi mobil, embun menutupi kaca-kaca yang membatasi Metawin dan Bright dengan jalanan.
Satunya sibuk memikirkan tentang misi yang tidak sesuai rundown, satunya juga sibuk memikirkan tentang katanya 'perasaan' dia.
"Ta,"
"Hm?" jawab Win, menoleh sedikit ke arah sang supir hari ini, terduduk rapi dengan jaket jeans tersampir dan rambut hitam legam.
"Meta marah?" Bright membalas tatapan Metawin, menoleh menunggu sembari waktu 60 detik dari lampu merah itu habis.
Yang ditanya hanya menggeleng, "Kata siapa?" jawabnya, waduhai, kebohongan keberapa lagi yang pria ini tuturkan, Meta ngga marah Bright, cuman kesal!
"Kenapa pulang duluan?"
"Kapan?"
"Waktu gue tanding."
Kekehan kecil tumpah dari mulut manis si muda yang spontan menutup mulutnya, "Lah, kan Meta udah bilang alasan-nya?"
"Ga cukup,"
"Mana ada alasan cukup ngga cukup, bukan beras ini sekilo dua kilo," Meta tertawa, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Kak, jalan, udah ijo tuh!"
Bright menghela nafas, mengubah pandangan ke depan kemudian menekan pedal gas, bukan ini jawaban yang ditunggu Bright, sejujurnya, ia menunggu kalimat seperti confe- ah sudahlah, biarkan Bright berkutat dengan perasaannya.
Pria itu menoleh lagi ke pria bergigi kelinci yang tampaknya sibuk bermain dengan kuku, tabiat yang Win lakukan jika sedang gugup.
Oh?
Bright membuatnya gugup?
"Ta," ucapnya,
"Iyaa?" Pandangan Win berpusat ke Bright, rautnya terlihat, manis, Win manis sekali hari ini.
"Maafin gue,"
"Kenapa?
"Gapapa,"
Toyoran keras dirasakan Bright di lengan kirinya, "Aduh, sakit cil," Pria itu mengaduh, kemudian tersenyum pelan, he misses this,
"Dih, lagian minta maaf tapi gatau salahnya, buat apa juga kalau gatau salahnya, Ka Bri gini ya sama cewenya?"
"Mana ada!" belanya,
Metawin mengiyakan, suara rintik hujan mengecil saat Bright memasuki pelataran kampus dengan lagu 1000x bermain, kendaraan itu berhenti di depan gedung Fakultas Hukum,
"Kak, Meta duluan ya, makasih udah anterin, gue maafin kok apapun salah Ka Bri," tuturnya sembari keluar dari mobil, berdiri di hadapan pintu yang Bright buka kacanya,
"Dah!" gesturan tangan Win tidak dibalas, mobil itu tidak bergerak, hanya menyisakan Bright yang mematung.
Win tersenyum pahit, kemudian berjalan masuk,
"Metawin!"
Teriakan itu menghentikan tubuh Metawin, yang menoleh ke Bright, membalas tatapan itu, "Apa lagii?"
"Jadi pertamina yuk?"
"Mau kaya banget lo kak?"
"Ngga, supaya mulai dari 0,"
Sial. Sial sekali hidup Metawin.
———
Siapa yang rindu cerita ini? aku! i'm sorry for the late updates huhu i was busy with school :( hope you guys still looking forward to to Metawin dan Bright <3
Menurut kalian Metawin jadi move on apa ngga? akan menunggu kritik, saran, comments kalian!!
xoxo, K
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Casanova / brightwin
Fanfictiondimana Bright seorang Casanova dan Win bukan siapa siapa. 2020. #4 on sarawat
