Rasa apa ini? Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perut. Rasanya aneh. Apa ini.. cinta?
🐾🐾🐾
Pagi yang cerah di Bandung, membuat siapa pun ingin keluar rumah dan menikmati udara segar. Seperti yang dilakukan oleh gadis ini.
Gadis dengan sweter coklat itu berjalan menelusuri kebun teh milik ayahnya. Sudah hampir 30 menit ia berada di sana.
Ia pun memutuskan untuk pergi menuju rumah pohon miliknya. Rumah pohon yang ayahnya buatkan untuknya bahkan sebelum ia lahir.
Dulu waktu ia kecil, ia akan selalu bermain ke rumah pohon. Melempar-lemparkan batu ke arah danau. Bermain ayunan dan memanjat lalu terjatuh.
Semua terasa menyenangkan. Tapi entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang saat ia bermain di rumah pohon sendirian.
Karena ia selalu penasaran, siapa pemilik rumah pohon yang sudah bertahun-tahun kosong.
Sesampainya di rumah pohon, ia langsung masuk ke dalam. Ia duduk di sofa kecil dan melihat foto-foto masa kecilnya itu.
Senja pun berjalan menuju teras rumah pohonnya. Ia duduk disana, tanpa sadar ada seseorang selain dirinya.
Merasa diperhatikan, Senja pun menoleh ke rumah pohon yang ada di sebelahnya.
Deg.
Ia melihat seorang lelaki yang tengah menatapnya. Lelaki itu manis, dengan rambut yang acak-acakan, mungkin terkena angin.
Sesaat mata mereka bertemu. Senja tak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Siapa dia? Apa dia anak rantau? Cukup lama mereka bertatapan dan diam dengan pikiran masing-masing. Sampai pada akhirnya lelaki itu membuka suara.
"Ha.. hai.." sapa lelaki itu dengan senyum manisnya, memperlihatkan lesung pipi yang di milikinya.
Senja yang merasa tak mengenal lelaki itu pun mengabaikan sapaannya. Ia menatap ke arah danau tanpa menghiraukan lelaki itu.
"Emm.. aku Fajar. Aku disini buat liburan. Aku yang tinggal di villa kemarin."
"Ga nanya," kata Senja tanpa menoleh ke arah Fajar.
Fajar menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "emm.. iya sih kamu ga nanya. Aku juga mau minta maaf ya, karena semalem aku teriakin kamu se.."
"Oke gapapa," Senja pun langsung turun dari rumah pohon dan duduk di tepi danau.
Fajar menyusulnya lalu tanpa izin ia duduk di samping Senja. Dia menatap Senja dari samping. Cantik. Satu kata itu sudah menggambarkan Senja.
Senjar menatap ke arah danau. Entah mengapa, ia merasakan ada yang aneh pada dirinya sejak bertemu dengan lelaki di sebelahnya ini.
Rasa yang tengah ia rasakan sulit untuk dijelaskan. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa ini? Apa ia grogi berada di samping lelaki ini?
"Jadi kamu yang punya rumah pohon itu?" Kata Fajar memecah keheningan.
Senja hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Fajar.
"Ohh, aku kira rumah pohon itu ga ada pemiliknya. Soalnya dulu waktu aku kecil, setiap aku main kesini selalu aja ga ada orang," jelas Fajar sambil melemparkan batu ke danau.
Apa? Tunggu. Jadi dulu Fajar sering bermain di rumah pohon itu? Tapi Senja juga sering bermain disini sejak ia kecil. Bagaimana mungkin mereka tak pernah bertemu?
Sudahlah, Senja tak ingin ambil pusing soal itu. Mungkin saja saat Fajar datang, Senja sedang tak bermain disana.
Mereka kembali terdiam. Fajar bingung harus membicarakan apa lagi. Sesaat ia tersenyum.
Ternyata benar, Senja memang indah. Entah Senja yang ada di langit atau pun yang tengah duduk di sampingnya ini. Selain indah, mereka juga.. dingin.
🐾🐾🐾
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Kita
Teen FictionFajar dan Senja. Dua anak manusia yang dipertemukan, tapi tidak untuk dipersatukan. Dua anak manusia yang dipertemukan oleh takdir, dan dipisahkan oleh nasib. Takdir mempertemukan mereka bukan untuk sebagai pasangan, melainkan sebagai...
