Dua.

36 7 0
                                        

Akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Menatap indah sinarmu yang hanya sementara itu.


🐾🐾🐾


Siang ini Fajar mengemasi pakaiannya untuk di bawa ke Bandung. Dia hanya membawa beberapa baju, celana dan perlengkapan lainnya.

"Kamu mau berapa hari disana?" tanya Lea sambil membantu anaknya mengemasi pakaian.

"Kurang tau, Bun. Kalau Fajar udah mulai bosen mungkin baru Fajar balik."

Lea pun mengangguk lalu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Fajar melirik jam tangannya, pukul 12.24. Fajar pun mempercepat kegiatannya. Setelah selesai ia langsung turun menuju meja makan.

"Sayang, ini makan dulu," kata Lea sambil menuangkan nasi dan lauk ke piring anaknya.

Fajar makan dengan gerakan cepat. Sampai ia tersedak oleh makanannya. "Uhuk uhukk.." Fajar menepuk-nepuk dadanya.

"Tuh kan, makanya pelan-pelan," kata Lea sambil memberi minum ke anaknya.

"Fajar takut di jalan macet, Bun. Nanti Fajar ga bisa liat senja di Bandung," kata Fajar sambil melanjutkan makannya.

Lea hanya bisa menghebuskan napas, pasrah. Jika putranya ini sudah punya ke inginan, maka itu harus ia dapatkan.

Tiga jam lebih sudah Fajar tempuh dari Bogor ke Bandung. Akhirnya ia sampai di villa milik bundanya. Fajar masuk ke dalam villa yang di sambut oleh Bi Inah.

"Eh den Fajar. Bibi udah siapin makanan buat den Fajar," kata Bi Inah yang sedang mengepel lantai.

"Oh iya Bi, makasih. Nanti Fajar makan. Mau mandi dulu," Fajar pun langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Ia segera mandi dan berganti pakaian. Fajar mengenakan kaos putih dan celana pendek coklat. Lalu ia melirik jam tangan, pukul 16.35. Fajar pun langsung berlari kecil menuju balkon kamarnya. Dan yash! Senja tiba. Tepat waktu.

Hari ini, di Bandung, Fajar kembali bisa melihat senja. Fajar sangat gembira. Ia sampai ingin berteriak, untuk melepas rindunya pada senja.

32 menit sudah Fajar habiskan hanya untuk menatap senja di langit. Senja pun sudah pergi, Fajar memutuskan untuk turun ke meja makan. Kasihan kan masakan Bi Inah telah lama menunggunya untuk di santap.

"Den Fajar, makanannya udah dingin. Tunggu, bibi hangatkan dulu," kata Bi Inah sambil berjalan ke arah dapur dan membawa masakannya tadi.

Setelah 3 menit menunggu, akhirnya Bi Inah datang dengan membawa makanan yang sudah di hangatkannya tadi.

"Makasih Bi. Ehh Bi Inah, mau kemana?" tanya Fajar yang melihat Bi Inah ingin beranjak pergi.

"Bibi mau bersih-bersih di belakang den."

"Ga makan Bi?"

"Nanti Bibi makan di belakang sama Mang Ujang."

"Udah ga usah. Bibi makan disini sekarang sama Fajar. Panggil Mang Ujang juga," kata Fajar sambil menyiapkan dua piring lagi untuk Bi Inah dan Mang Ujang.

"Tapi den.."

"Ga ada tapi-tapian Bi. Udah sana panggil Mang Ujang suruh makan bareng," Bi Inah pun mengangguk lalu pergi ke belakang untuk memanggil Mang Ujang.

Setelah makan selesai, Fajar pun pergi ke ruang tengah dan menonton tv. Bi Inah kembali membereskan halaman belakang, dan Mang Ujang pergi membersihkan kebun di halaman depan.

Satu jam.
Dua jam.
Dua jam tiga puluh menit.

Fajar bosan. Ia pun mematikan tv dan beranjak menuju halaman depan. Ia melihat Mang Ujang sedang menyirami tanaman.

"Mang, sini biar Fajar aja yang nyiram. Lagian udah malem gini masih aja nyiram," kata Fajar yang sudah mengambil alih selang dari tangan Mang Ujang.

"Eh den, ga usah biar Mang Ujang aja," Mang Ujang merasa tak enak kepada majikannya itu.

"Udahlah Mang. Mang Ujang mandi aja, biar Fajar yang nyiram," Fajar sedikit memaksa.

Mang Ujang pun izin untuk membersihkan dirinya. Fajar menyirami tanaman sambil bersenandung kecil.

"Aduhh dingin," keluh Fajar saat kakinya terkena air, "lagian Mang Ujang ngapain coba mandiin tanaman jam segini."

Fajar kembali melanjutkan aktivitasnya. Fajar mendengar suara langkah kaki kian mendekat. Ia was-was, takut kalau itu adalah penculik yang ingin menculiknya. Secara Fajar adalah orang yang tampan, itu menurutnya pribadi.

Suaranya kian mendekat.
Makin dekat.
Makin dekat lagi.
Dan..

"Waaaaaa setaannn!!" teriak Fajar ketika melihat seorang gadis lewat di depan rumahnya. Fajar menutup matanya dengan rapat.

Gadis yang di bilang 'setan' oleh Fajar hanya menatapnya dengan tatapan datar. Bingung dengan tingkah laku Fajar, ia pun melanjutkan langkahnya.

Mang Ujang yang baru selesai mandi pun datang dengan sedikit berlari karena mendengar teriakan Fajar.

"Kenapa den??" tanya Mang Ujang dengan raut khawatirnya.

"Tadi ada setan lewat Mang!"

"Mana setannya?"

"It.." Fajar melihat gadis tadi sudah hilang dari hadapannya.

"Tuh kan beneran setan! Tadi ada disini, sekarang udah ilang!!"

Mang Ujang pun memerhatikan sekitar. Ia melihat seorang gadis yang familiar baginya berjalan setelah melewati villa majikannya.

"Hahahaaa.. Den Fajar, astaga," Mang Ujang menertawakan sikap majikannya ini.

"Ihh kenapa Mang? Benerkan yang tadi setan?" tanya Fajar dengan raut wajah bingungnya.

"Yang itu bukan yang den bilang setan?" Mang Ujang pun menunjuk ke arah gadis tadi yang berjalan belum jauh dari villa. Fajar melihat gadis yang dimaksud oleh Mang Ujang dan mengangguk yakin.

"Haha.. Itu teh si Senja, den," kata Mang Ujang sambil geleng-geleng kepala.

"Yaudah atuh Mang Ujang ke kamar dulu. Den Fajar udahan aja nyiramnya, udah malem," Mang Ujang pun pergi masuk ke dalam dan meninggalkan Fajar yang masih kebingungan.

"Sen.. ja..?" tanpa sadar Fajar tersenyum mendengar nama itu.

🐾🐾🐾

Kisah KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang