1st Phase - Revisi

1K 184 22
                                        

"Wa, udah beres?" Radit memasuki ruangan paling sepi dan tenang se-antero Resonance— soalnya isinya cuma berdua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Wa, udah beres?" Radit memasuki ruangan paling sepi dan tenang se-antero Resonance— soalnya isinya cuma berdua.

"Udah, gue udah research beberapa nama. Gue juga udah sempet pelajarin konten mereka di social media. Beberapa ada yang kurang organik sih, tapi gue rasa cocok sama brandnya" Dewa berdiri dari kursinya lalu mengambil iPad di meja sebelah nya.

"Dan, kalo mau narik masa ya cocok, mereka banyak fansnya"

Dewa memberikan iPadnya ke Radit yang menampilkan beberapa nama publik figur laki-laki.

"Oke, e-mail ke gue dong, biar gue sekalian masukin ke decknya. Besok gue mau meeting lagi sama orang Sociollanya"

"Sama Rasjid?"

"Bukan. Ada project managernya, Gian namanya"

—-

Jam 1.45

Radit sudah duduk di salah satu sudut outdoor sebuah cafe. Sengaja memilih spot ini supaya bisa ngerokok. Biasalah, obrolan laki biasanya lebih cair kalo sambil nyebat bareng.

Radit mengeluarkan bungkus rokok berwarna putih merah tak lupa lighter di atas meja setelah menyebutkan minuman pesanannya kepada waiters.

Baru saja Radit akan menyalakan rokok yang sudah disematkan di bibirnya saat terdengar suara perempuan di sampingnya sontak membuatnya menoleh,

"Radit ya?" Tanya perempuan dengan blazer warna abu-abu dan celana hitam dengan motif kotak-kotak datang dan menyapanya. Radit mengangguk, belum sempat Radit bertanya perempuan itu sudah duduk di hadapan Radit.

Radit masih terdiam sepersekian detik, masih berusaha memproses bahwa Gian yang Rasjid maksud tempo hari bukanlah laki-laki melainkan perempuan berambut panjang di hadapan nya saat ini.

"Gian" katanya sambil mengajak Radit berjabat tangan.

Dengan sigap, Radit menyambut tangan Gian, "Radit"

"Udah lama? Sorry ya agak telat, tadi ada meeting dulu sama Rasjid"

Radit mengambil kembali rokoknya dan menaruhnya di saku kemeja.

Manners.

"Mau pesen dulu?"

Gian mengangguk, "Mau pesen makan dulu deh, belum sempet lunch tadi" kata Gian sambil melambaikan tangan ke arah waiters, "Udah pesen, Dit?"

"Udah kok"

Gian mengangguk, "By the way" katanya, "Kalo mau ngerokok, ngerokok aja ya, santai kok"

Radit agak membulatkan matanya, agak salting karena ternyata Gian menyadari tingkahnya. Tanpa pikir panjang, Radit mengembalikan kotak tebal dan lighternya tadi ke meja, sambil mendekatkan posisi rokok favoritnya itu ke Gian terlebih dahulu.

Resonance TeamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang