Sifra Maree
Di saat aku sedang duduk dan menunggu, secara tiba-tiba ada seorang pria yang datang menghampiriku.
Well, pria ini tampan sekali. Dia juga membawa minuman di tangannya yang kuyakini adalah scotch.
Ketika kulihat secara keseluruhan, pria ini sepertinya memiliki model wajah yang mahal. Pasti dia orang kaya.
Sepertinya kedatangannya ini karena ingin bersenang-senang saja. Jika dia ingin seks, maka dia bisa mendapatkannya dengan mudah. Pria ini tampan sekali soalnya.
Dia menaikkan alisnya. “Prostitutor?” tanyanya.
“Ya,”
“Benarkah? Kau cantik sekali. Kau bisa mendapatkan semua pria di dunia tanpa harus bekerja menjadi prostitutor.”
Aku menaikkan alisku. “So, what? Justru karena aku cantik dan aku bisa mendapatkan semua pria di dunia ini, aku menggunakan keberuntungan itu untuk mencari uang.”
“Oh, ya? Well, kalau begitu, spend the night with me and I’ll pay you ten thousand euros.”
Huh? £10,000? Hanya untuk semalaman saja?
Aku tergoda dengan uang sebanyak itu, kalau boleh jujur. Tapi aku tidak boleh mudah terpengaruh. Mungkin saja dia hanya berbohong atau dia berniat menipuku?
Jadi, aku harus waspada.
Aku menatapnya. “Sepuluh ribu euro? Untuk melakukan apa?”
Dia tersenyum tipis. “The bed is empty and large. Let’s start there and see what happens,” katanya sembari memberikan kedipan mata padaku.
Perlahan-lahan, dia semakin mendekat padaku, bahkan dia sudah duduk di sebelahku.
Kurasakan deru nafasnya yang membuat seluruh tubuhku merasakan keanehan.
Pria ini berbisik di telingaku, “jika kau setuju, maka aku menjamin kau tidak akan menyesal, karena aku hebat di ranjang.”
“Is that so?”
“Ya.” Dia mendekatkan hidungnya pada leherku. “Bibirmu itu—they’re the sweetest thing I’ve seen in a very long time. Do they taste as good as they look? I bet they do.”
Di saat si pria ini mulai menaruh tangannya pada pahaku, di situlah seorang pria lainnya datang dan menghampiri kami. “Jeon, astaga, yang benar saja kau ini!” si pria itu pun menatapku. “Maafkan temanku ini, ya. Dia memang seperti ini saat mabuk; kehilangan kontrol dan melakukan hal tidak pantas seperti ini.”
Pria Jeon ini membela dirinya. “Melakukan hal tidak pantas? KJ, dia ini prostitutor. Aku mengatakan padanya bahwa aku ingin memesannya malam ini. Apa yang salah?”
“Memesannya—oh, astaga, Jeon, nenekmu akan sangat marah jika dia tahu.”
“Aku tidak peduli!” pria Jeon ini menatapku. “Jadi, bagaimana? Kau menerima tawaranku? Jika iya, maka aku akan segera memberikan sepuluh ribu euro nya padamu.”
Kalimat yang keluar dari mulut pria Jeon ini membuat temannya terkejut. “Sepuluh ribu euro—what the fuck?”
“KJ, shut up!”
Karena aku tidak bisa menolak uang sebanyak itu, jadi aku mengangguk. “Oke, baiklah. I’ll spend the night with you,”
Pria Jeon ini tersenyum. “Bagus,” lalu dia menatap temannya. “Kau pulang saja dengan Álvaro dan Reese. Aku akan pergi ke hotel nanti menaiki taksi.”
“Jeon, tapi—”
“Semua akan baik-baik saja. KJ, kau bisa pergi.”
“Oke, baiklah, terserah apa yang ingin kau lakukan. Tapi ingat baik-baik; jangan sampai ketahuan oleh media. Pokoknya tidak boleh sampai ketahuan identitasmu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
SEPTEMBER IN PARIS
Fanfic[EBOOK PROJECT - FULL VERSION FOR SALE ONLY] Semua berawal dari malam itu. Malam panas di awal musim gugur di Paris pada bulan September yang terjadi di antara kami. Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah bar. Di mana saat itu Jungkook sedang men...
