" berhenti mengikuti perasaan, jalankan apa yang kau inginkan maka kan kau dapatkan sebuah kepuasan"
Seorang gadis cantik duduk ditepian pantai di atas pasir tanpa alas, rambutnya sebahu menari di hembus angin. Kakinya mengunjur mengarah lautan biru, deru ombak serta lambaian nyiur membuat suasana begitu menenangkan. Gadis itu sangat menikmatinya, beberapakali terlihat menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Seorang diri disana, lokasi pantai yang mulai sepi pengunjung hanya tinggal beberapa orang saja. Senja menyapa dengan jingganya, memberikan kehangatan dan kenyamanan.
Seakan ada beban berat yang dipikulnya. Tapi entah apa itu, sendari tadi ia tak beranjak dari posisinya, seperti sudah nyaman. Matanya masih tertutup , kedua tangannya menahan agar tubuh mungil itu tidak terjatuh.“Lisa. cepat kembali ke rumah,” panggil Siska dari kejauhan
Siska menghancurkan lamunannya, gadis itu menoleh dan perlahan beranjak dari posisi dengan wajah dingin menghampiri sumber suara. Melewati siska meninggalkannya tanpa kata. Siska mengikutinya dari belakang pasrah dengan keadaan kakaknya itu.
“ Dasar gadis aneh, nggak mau nanya gitu, Ada apa? Atau mau ngapain? nih di kacangin, lewat gitu aja.” Siska kesal dengan dinginnya sikap sang kakak.
Talisa Ranum nama gadis itu, Lisa panggilannya, adalah anak kedua dari empat orang bersaudara. Lisa anak yang tak banyak bicara, dia sering sekali mengurung dirinya dikamar tanpa makan dan minum, keluarganya sangat khawatir kepada putrinya itu, karna sudah sering sekali dimarahi dan dia tak berubah, hingga saat ini orang yang ada rumahnya tidak mempedulikan apapun yang Lisa lakukan, ia seperti hantu disana.
Tidak bersuara, cuek,tidak peduli bahkan dengan dirinya sendiri. Namun Lisa selalu menjadi prioritas bagi Ibunya, ia selalu mencari lisa, memperhatikan Lisa, YA! mungkin karna ibunya khawatir akan Keadaan Lisa. Jika lisa tak kembali sang ibu akan memerintah anaknya yang lain untuk mencarinya. Siska merupakan sosok yang sering sekali di jadikan sasaran menjadi detektif dadakan oleh ibu karna Siska adik Lisa yang sangat patuh. Mereka sangat mirip seperti pinang dibelah dua, hanya sifatnya saja yang sangat bertentangan.
Sesampainya dirumah, seperti biasanya Lisa akan masuk ke kamar lalu menguncinya, tanpa menghiraukan pertanyaan sang ibu lalu ia akan memarahinya dari luar atau menjadikan adik laki-laki Lisa pelampiasan amarah.
Bukan tanpa sebab lisa menjadi pendiam, dulu memang sudah pendiam namun tidak se-pendiam sekarang. Lisa anak yang cerdas dan populer disekolah nya, buktinya ia adalah ketua OSIS di sekolah, gadis remaja pertama yang menduduki jabatan itu di sekolah tersebut, patut untuk diberi penghargaan namun ia tak dihargai oleh keluarganya, tidak seorang pun dirumahnya yang tau Lisa banyak mendapatkan penghargaan disekolah, banyak memenangkan olimpiade di tahun pertama bersekolah di SMA nomor satu didaerahnya yang keluarganya tau , Lisa hanya menghambur hambur-kan uang dengan memilih bersekolah disana. Sekolah itu memang terkenal mahal, setiap bulan ibu Lisa mengirimi uang yang cukup besar ke rekening pribadi Lisa tanpa ia minta.
~Flash back~
Semua keluarga berkumpul diruang tamu untuk membahas kelulusan lisa dan masa depan lisa. Keadaan ini dilakukan pada setiap anak saat hendak melanjutkan sekolah di dalam keluarga seperti kakak Lisa sebelumnya.
“ Lisa, kamu udah lulus, gimana nilai akhir kamu?”
“ Tidak buruk.” jawaban Lisa sontak membuat semua keluarga diruang tamu menatap tajam Lisa mewakili kekesalan.
“Kamu mau lanjutkan SMA dimana?’’ Ibu mencairkan suasana.
“SMA TANJUNG.” Lisa dengan lantang menjawab pertanyaan sang ibu yang sekali lagi membuat semua orang kembali memandangi lisa dengan raut muka tak percaya
KAMU SEDANG MEMBACA
Antalogi cerpen
Short StoryHWC ( Honnest writer community ) kumpulan cerpen, cerita pendek yang dirangkai dengan harapan yang diawali dengan proses yang panjang. memberi banyak harapan pada rumah kita ini HWC. menberikan cerita penuh harapan membangun rumah dengan sastra da...