Musim panas telah berakhir datanglah musim gugur. Sebulan telah berlalu semenjak Hijikata menerima ajakan Gintoki untuk menjalin hubungan kekasih bersama samurai ubanan tersebut.
Setelah itu dirinya menangkap basah Gintoki yang bermain di belakangnya. Mau marah tapi tak mampu meluapkan emosinya. Sepertinya HIjikata sudah lama menebak kalau suatu saat nanti dia akan dikhianati oleh Gintoki.
Sebenarnya, Hijikata tidak bisa memaafkan Gintoki yang telah mempermainkan perasaannya. Dia tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana rasa sakit yang di alaminya pada saat ia melihat kekasihnya sedang memadu cinta dengan seseorang yang sekalipun tak pernah dilihatnya.
Walau demikian, Hijikata tak sanggup untuk menyalahkan Gintoki sepenuhnya. Dalam percintaan dia selalu bermain menjadi korban, sekaligus pelaku. Hijikata selalu menyalahkan dirinya yang lebih memperhatikan pekerjaannya, ketimbang memikirkan cara untuk mengembangkan hubungan ini.
Saat itu, Hijikata mengira dirinya akan berakhir di campakan oleh Gintoki. Namun dugaannya terbalik. Gintoki sendiri yang malah memohon padanya untuk tidak mengakhiri hubungan omong kosong ini.
".....Aku sungguh mencintaimu."
Gintoki mengungkapkan perasaannya. Hijikata senang, dia sangat bersyukur setelah mengetahui Gintoki rupanya tidak membencinya. Selama ini ia mengira Gintoki hanya sekedar mempermainkannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka berciuman di pinggir jalanan sepi, di tengah malam. Keduanya saling bertukar rasa alkohol yang pahit dengan sedikit rasa manis yang memabukan.
OXO
"Tapi Danna....Kau belum menjelaskan alasan kau selingkuh di belakang si brengsek Hijikata kan?"
Sougo bertanya. Ujung mata remaja itu melirik, sinar matanya hampa menunjukan kebosanan yang luar biasa. Dari semua orang di muka bumi ini, kenapa pula Gintoki harus curhat kepadanya?
Gintoki mengangguk paham lalu menghela nafas lelah. "Dia tidak mau aku menjawabnya," jawab Gintoki seraya menggosok dagunya pelan. "Hijikata sangat membingungkan. Apa dia selalu seperti ini?"
"Entahlah." Sougo bergidik bahu, remaja itu masih tetap bertingkah cuek, setidaknya dia masih punya hati karena sudah mau-maunya mendegarkan keluh kesah lelaki gelandangan macam Gintoki.
"Setidaknya kau harus tetap menjelaskannya meski tidak di tanya," lanjut remaja itu lalu melangkah pergi meninggalkan Gintoki yang masih duduk di kursi taman.
Tidak lama kemudian Hijikata datang melewatinya. Sudah rutinitas keseharian Sougo untuk membuat wakil komandannya kewalahan dengan mencari-cari anak buahnya yang suka membolos patroli, macam dirinya.
"Oi Sougo! Aku meneleponmu dari tadi, setidaknya angkat lah teleponmu!" seru Hijikata yang suaranya semakin mendekat.
"Hahaha...."
Gintoki tertawa garing melihat pemandangan di depannya. Hijikata itu tidak ada bosan-bosannya apa menceramahi anak bengal macam Sougo? Cara seperti itu tidak akan pernah berhasil.
"Seperti biasa kau bersemangat sekali huh....Ougushi-kun?" sapa Gintoki dari tempat duduknya.
Kini kekesalan Hijikata berpindah pada lelaki pengangguran tersebut. "Namaku Hijikata!!" protesnya sambil mengacungkan kepalan tangannya, bersungut-sungut menghentakan kakinya dengan keras.
"Hahaha...."
Kali ini Sougo yang tertawa garing. Sepertinya yang punya hobi membuat Hijikata kesal bukan hanya dirinya seorang. Lagipula, Hijikata memang gampang untuk di kerjai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't be Angry Honey
FanfictionPairing : GinHiji Baru sebulan Gintoki dan Hijikata jadian. Dikarenakan kesibukan masing-masing, mereka berdua jarang bertemu dan hubungan mereka sama sekali tidak mengalami perkembangan. Pada suatu malam, kebetulan Hijikata menemukan pedang kayu G...
