Desire and Logic

656 65 21
                                        

!!WARNING: FOR 18+ ONLY!!  

Setelah beberapa saat lari menjauhi kantor Yorozuya. Kedua orang itu berhenti di bawah pohon gersang di pinggir sungai. Mereka berdua saling menatap lalu tertawa bersamaan. Setelah mengalami apa yang terjadi barusan. Kejadian-kejadian sebelumnya sudah tidak begitu terasa penting lagi.

Hijikata memang tidak memaafkan kelakuan Gintoki yang bermain di belakang tapi kemarin dia sudah membalasnya dengan tindakan yang sama. Mau apapun alasannya, dia juga sudah menyentuh tubuh wanita lain, meski tidak sejauh yang di lakukan Gintoki.

Anggap saja mereka impas, hanya untuk saat ini.

"Ngomong-ngomong Hijikata-kun," panggil Gintoki sambil menstabilkan deru nafasnya. "Apa kau sudah selesai bekerja?" tanyanya.

"Oh kurang lebih begitu," jawab Hijikata ambigu seraya menyalakan sebatang rokok. Bibirnya mengapit gulungan kecil berwarna putih itu dan menghisapnya, tak menyadari Gintoki yang sedari tadi memperhatikannya.

Entah apa yang ada di pikiran seorang perokok berat, Gintoki tidak akan pernah memahaminya.

Keduanya kembali bertemu tatap, dan Hijikata menyadari tatapan intens pria di sampingnya itu lalu bertanya "Ada apa?"

Tak mengatakan apapun, Gintoki merebut rokok dari mulut Hijikata. Dan mengganti gulungan putih itu dengan bibirnya sendiri. Tak meratapi nasib rokoknya yang terbuang dan diinjak. Di luar dugaan, Hijikata membalas ciumannya.

Mereka saling melumat satu sama lain, saling bertukar air liur, sampai akhirnya kedua bibir mereka terpisah dengan benang bening sebagai jembatan perantara bibir mereka.

"Hijikata," desah Gintoki di sebelah telinga si empunya nama. "Aku sudah tidak tahan..."

Hijikata memerah padam saat menyadari Gintoki memeluknya dalam keadaan miliknya yang tengah menegang menyentuh bagian pahanya.

"K-kau..." Hijikata tak mampu berkata-kata. Mau menolak, tapi dia juga dalam keadaan yang tak beda jauh dari Gintoki.

Melihat sisi erotik lelaki yang biasanya terlihat lusuh itu cukup membuatnya terangsang. Namun sebagai seorang polisi, terlebih lagi seseorang dengan statusnya, dia tidak bisa mengambil resiko.

"Hanya dengan satu ciuman saja keadaan mu sudah begini?" tanya Hijikata sambil mengamati sekeliling mereka. Ingat, saat ini mereka ada di tempat terbuka. Apa yang akan orang-orang katakan kalau melihat seorang petugas sedang melakukan hal yang tidak-tidak di tempat seperti ini?

"Hahaha..." Gintoki cengengesan. "Mau bagaimana lagi? Aku selalu ingin menyentuhmu," jawabnya malu-malu.

Hijikata tersenyum miring mendengarnya, setidaknya kali ini bukan dia yang mempermalukan dirinya sendiri.

Tapi Gintoki ada benarnya juga. Sekali lagi Hijikata memperhatikan sekelilingnya. Hari sudah gelap dan mereka berdua berada cukup jauh dari jalanan utama yang sepi. Di sekitar mereka tertutup semak-semak dan tidak ada penerangan apapun.

Setelah menimang-nimang, masih saja dia tidak bisa mengambil resiko. "Pinjami aku itu," minta Hijikata sambil menunjuk kimono putih yang selalu asal-asalan di jadikan baju luaran oleh Gintoki.

"Eh?" Gintoki mulanya tidak begitu memahami rencana Hijikata. Tanpa bertanya, ia menuruti kemauan kekasihnya itu.

Setelah mendapatkan apa yang di mau, Hijikata berjongkok sambil bersembunyi di bawah kimono putih pinjamannya. Sekarang kebaradaannya seperti menghilang, hanya Gintoki seorang yang bisa melihat pergerakannya.

Gintoki tidak mempercayai matanya sendiri. Andai ini mimpi, jadikan ini mimpi indah. Kekasihnya itu berjongkok di bawah sela kedua kakinya, lalu mengigit, membuka resleting celananya. Mereka berdua terkesikap saat menyaksikan barang milik Gintoki yang sudah menegang dan membesar, terlihat kesempitan di dalam celana dalam si empunya.

Don't be Angry HoneyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang