Oleh: Zahra Indah Putri Suryana
Semilir angin menemani senjaku bersama dia. Ku lirik, ia terus berusaha menyejajarkan langkahnya. Namun, aku tetap berusaha mendahului. Hingga akhirnya, kedua kakiku berhenti, membuat ia menatapku heran. Meski begitu, mulutnya bungkam, "Sampai kapan kita menunda perpisahan, Rey?"
Air mukanya langsung berubah, merasa ucapanku tadi menambah lelah daksanya. "Rain ...," suaranya tercekat, "kita akan terus bersama, walau akhirnya bukan aku yang berhak memilikimu. Biar seperti ini sebentar saja, hingga kita bertemu jodoh masing-masing." Dalam nada bicaranya, aku dapat menangkap perasaan Reyhan yang terluka.
Perlahan, air menetes dari mataku. Rasa sesak terus memenuhi dadaku. Aku salah, ternyata saling mencintai tidak cukup bagi kita. Sebab ada Al-Qur'an dan Injil yang tak bisa disatukan.
8 Desember 2020

KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Pentigraf
Short StoryAksara-aksara kami susun menjadi beberapa cerita yang disebut "Pentigraf". Duduk dan bacalah beberapa cerita yang kami tulis ini.