Cerita ini hasil pemikiran nyata penulis sendiri. Maaf jika ada nama, tempat, latar dll.
Yang gak tau cara menghargai usaha seseorang dan gak tau tata krama saat bertamu, gak usah baca cerita ini yah. Makasih 😇
Follow IG: syhnbahy__
.
.
.
POV Wafa Xeanna.
Lima belas menit menunggu, pesanan kami akhirnya datang juga. Makanan yang dipesan Papa sangat mewah bagiku. Aku bahkan tercengang ketika Papa memberikanku buku menu-nya.
"Makan, jangan diliatin terus," tegur Papa.
"Iya, Pa."
Kami makan dengan lahap. Makanan di sini memang enak, sesuailah sama harganya yang juga enak di mata, nyesek di kantong.
"Dev." Acara makan kami terhenti ketika mendengar seseorang memanggil Papa.
Papa yang namanya disebut, langsung mendongakkan kepala ke atas untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Ja—jane?" ucap Papa lirih.
Jane? Jadi, wanita ini adalah Jane yang diperdebatkan Papa bersama bosnya?
Untuk sekelas wanita dewasa, dia tampak cantik. Bagaimana Papa bisa bermasalah dengan wanita ini?
"Dev, apa kabar? Apa ini putrimu? Dia sangat cantik," ucap Jane.
Sepertinya pasokan atmosfer di sini berkurang, Papa terlihat tidak suka dengan kedatangan Jane.
"Wa, kita pulang sekarang, Nak," titah Papa.
"Tapi 'kan, makanannya belum habis, Pa." Aku mencoba untuk memprotes ucapan Papa yang persuasif.
Tidak boleh membuang-buang makanan 'kan? Oh sungguh, makanan ini sangat enak. Aku sampai tidak tega untuk tidak menghabiskannya.
"Papa bilang pulang, itu berarti pulang!" tegas Papa sekali lagi.
"Dev, biarin dulu Wafa makan. 'Kan jarang kamu ngajak makan dia di luar," bela Jane padaku.
Hei, bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku belum pernah bertemu dengannya sebelum ini.
"Kamu jangan ikut campur dengan urusan saya. Jarang atau tidaknya saya membawa dia keluar, itu bukan urusan kamu," sarkas Papa pada Jane.
"Aku cuman mau ngajak kalian makan bareng," sanggah Jane membela dirinya sendiri.
"Ngajak makan? Atau kamu pengen ngejebak aku kayak kemaren?" ucap Papa lagi.
Menjebak? Jane menjebak Papa dalam hal apa?
Dengan kasar Papa menarik tanganku untuk pergi. Sebelumnya, kami sudah menyempatkan diri untuk membayar bill makanan kami di kasir.
"Dev, tunggu! Biarkan aku menebus kesalahanku kemarin," ucap Jane saat kami sudah mencapai pintu restoran.
"Menebus kesalahan seperti apa? Kesalahan karena telah menjebakku, atau kesalahan karena karena kamu tidak bisa menahan hasratmu itu?" tekan Papa lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Papa is Duda Keren (Sudah Terbit)
Ficção GeralDevan Mahendra, seorang laki-laki dengan usia yang sudah memasuki kepala empat harus hidup bersama anak gadisnya. Kehilangan istrinya saat lima tahun lalu tak membuat Devan putus asa dalam membesarkan anak semata wayangnya. Walau Devan sudah memili...
