🌼Part |1🌼

4.3K 319 20
                                        

Jika pandangan orang hidup aku itu beruntung maka mereka salah. Aku tidak seberuntung yang orang-orang pikir karena hanya melihat dan menilai dari apa yang mereka lihat saja tanpa tahu yang sebenarnya.

Kesepian? itulah keseharianku, rasa sepi bagaikan makanan sehari-hariku, dilahirkan sebagai anak tunggal dan dari keluarga yang lebih dari kata mapan.

Bersyukur?? sangat. Aku sangat bersyukur dengan kehidupanku yang serba berkecukupan, apapun keinginanku selalu terpenuhi tanpa penolakan. Tapi sayangnya semua itu tidak membuatku merasa bahagia ada yang hilang dalam hidupku, kebersamaan keluarga, perhatian dan kasih sayang kedua orang tuaku.

Aku tidak pernah merasakan rasa cinta dan kasih sayang mereka, mungkin keduanya berfikir jika materi adalah bentuk kasih sayang mereka kepadaku, terkadang aku bertanya-tanya siapakah yang di carikan nafkah oleh kedua orang tuaku sedang anaknya hanyalah aku seorang, sampai tua pun hartanya tidak akan habis olehku.

Namun Allah masih menyayangiku dengan mempertemukan aku dengan seorang sahabat yang sangat baik padaku, bahkan aku mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Iri?? ya kata itu pernah tersemat di hatiku. Aku iri dengannya, bukan hanya kedua orang tuanya tapi seluruh keluarga besarnya menyayanginya. Tidak hanya berlimpahan materi tapi juga cinta dan kasih sayang, memiliki tiga orang kakak sepupu yang sangat menyayanginya membuat hidupnya jauh lebih beruntung. Sedang aku? hanya bisa menyaksikan mereka dengan menahan segala sesak didada, apalah dayaku yang hanya bisa berhalusinasi mendapatkan semua itu.

Seperti saat ini, entah sehancur apa hatiku sekarang kembali ke tanah air hanya untuk melihat dan mendengar kedua orang tuaku yang sudah tidak serumah lagi. Dan yang lebih menyakitkan lagi Papiku memiliki wanita lain yang bahkan sudah memiliki seorang anak, begitu juga dengan Mamiku yang memiliki pria lain di hidupnya.

Mungkin air mataku sudah mengering hingga tidak mampu lagi menetes, jangan tanyakan sehancur apa hatiku rasanya aku ingin pergi menjauh saja dari kehidupan mereka menganggap jika memanglah aku hidup sebatang kara.

Hingga tiba saatnya hari dimana ketukan palu hakim memutuskan percerian kedua orang tuaku, aku terdiam seribu bahasa, hanya ada air mata yang mengalir, bukan perpisahan mereka yang aku tangisi tapi kenyataan hidupku yang terlahir di keluarga itu. Namun Aku bisa apa, aku tidak bisa memilih dari rahim mana aku dilahirkan, aku juga tidak bisa menyalahkan takdir yang kubisa hanya menangisinya.

Aku duduk di bangku taman belakang rumahku memandang langit gelap yang tak berbintang dikelamnya malam sekelam hidupku, samar kudengar langkah kaki menghampiri namun aku seolah tidak peduli.

"Maafkan Papi Nak, inilah jalan terbaik yang harus kami lakukan!" ucap Papiku yang ikut mendudukkan dirinya di sampingku.

"Maafkan Mami juga Nak, hanya inilah jalan satu-satunya agar kami bisa bahagia,"  Mamiku menimpali yang juga ikut duduk di sampingku hingga aku berada di tengah mereka.

Aku memandang lekat ke arah mereka bergantian menelisik wajah mereka satu persatu dengan kesenduhan.
"Pih.., Mih.. sebenarnya dimata kalian itu aku siapa? di hati kalian aku itu siapa?" cicitku.

"Kamu itu anak kami Nak, putri kami," sela Papiku.

Kembali kudongakkan pandanganku menatap gelapnya langit dengan pikiran menerawang.

"Anak? apakah kalian masih pantas menganggap aku sebagai anak dengan keegoisan kalian? Papi dan Mami hanya memikirkan kebahagiaan kalian sendiri tanpa pernah memikirkan perasaanku, jangankan perasaan mungkin kehadiran aku di hidup kalian tidak pernah kalian anggap," lirihku yang berusaha menahan sesak didadaku.

"Apa salah aku pada kalian, apa kehadiran aku di dunia ini tidak ada artinya di hidup kalian? mungkin iya secara aku di besarkan oleh seorang pengasuh. Disaat anak-anak yang lain bergelayut manja di lengan kedua orang tuanya sedangkan aku hanya bisa memimpikan hal itu terjadi, aku hanya bisa melihat mereka tanpa bisa merasakannya seperti apakah itu."

PEMILIK HATI (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang