Seminggu sudah berlalu dan selama itu Azzal belum juga menghubungi Adillah, pernah suatu saat Adillah mencoba menghubunginya namun zonk, nomor Azzal tidak pernah aktif, Adillah juga mencari tahu melalui sahabatnya namun Sasha juga tidak tahu menahu, akhirnya Adillah memutuskan untuk berhenti berharap, dia tidak ingin kecewa terlalu dalam dia hanya menyesali akan keputusannya dulu menerima Azzal.
Siang ini dengan memakai seragam kerja seperti pegawainya yang lain Adillah kembali fokus mengurus kafenya tanpa memikirkan Azzal lagi, ya Adillah menempatkan dirinya seperti pegawainya yang lain tanpa membedakan antara dirinya dan bawahannya karena bagaimana pun dia juga turun tangan membantu. Tanpa dia sadari orang yang dia layani di salah satu meja pengunjung tersenyum penuh arti memandangnya.
"Mau pesan apa Pak?" tanya Adillah tanpa memperhatikan siapa yang duduk di meja itu, pasalnya lelaki itu memakai topi dan kacamata hitam juga masker.
Lama menunggu jawaban dari pelanggannya membuatnya merasa jengah namun dia tetap menampilkan senyumnya melayani orang tersebut.
"Maaf Pak, mau pesan apa?" Ulangnya lagi.
"Mau pesan kamu kalau boleh," jawab pelanggan tersebut.
"Sepertinya kenal dengan suaranya," batin Dillah.
"Apa boleh?" tanya orang itu lagi.
Adillah yang sudah mengenali suara tersebut berubah masam mengetahui dirinya dikerjain dan lebih menjengkelkannya lagi orang itu baru muncul setelah membuatnya kecewa, ingin rasanya Adillah menangis saat itu juga namun dia menahannya.
"Gak lucu..." lirih Adillah yang terlihat kecewa dengan orang di depannya.
"Surprise," ucap Azzal beranjak dari duduknya menghampiri Adillah yang berdiri mematung di hadapannya.
"Gak lucu tau nggak," geram Adillah meninggalkan Azzal.
Sadar akan kesalahannya Azzal mengejar Adillah dan meraih tangannya.
"Maaf," ucapnya.
"Sebenarnya aku mau ngasih surprise ke kamu makanya selama seminggu ini gak hubungin kamu," lanjutnya lagi menjelaskan namun Adillah sudah tidak peduli lagi.
Azzal menarik tangan Adillah kearah kursi di dekatnya mengarahkannya untuk duduk.
"Maaf Kak, aku harus kerja nanti kena teguran," elak Adillah karena saat ini dirinya benar-benar kesal dengan kelakuan Azzal.
"Ruangan manager kamu dimana?" tanya Azzal.
"Mau ngapain?" tanya balik Dillah.
"Mau mintain kamu izin hari ini."
"Gak mau, kakak pulang aja sana aku masih sibuk."
Azzal tidak menyerah dia tetap berusaha membujuk Dillah karena dia sadar dirinya memang bersalah.
"Baiklah aku menunggu kamu di sini sampai shift kamu selesai."
Tapi Dilla tidak perduli dia tetap melangkah menuju ke meja lain untuk melayani pelanggan.
Baru saja Azzal mau mendudukkan dirinya di kursi tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Loh Kak Muaz!!" kagetnya.
"Ngapain berdiri terus disitu?" tanya Muaz yang juga baru masuk ke kafe itu bersama istrinya.
Bukannya menjawab Azzal malah bertanya balik, "kakak sendiri ngapain disini?" tanyanya bego.
"Orang ke kafe itu ngapain?" tanya balik Muaz yang berpikir jika adiknya ini tiba-tiba lemot yang di balas cengengesan oleh Azzal.
"Sendirian aja Zal?" tanya Andini yang tidak melihat siapa-siapa bersama Azzal.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEMILIK HATI (END)
Storie d'AmoreCerita ini spin off dari LOVE IN SILENCE Jika hati telah memilih, disitulah dia akan singgah untuk bertahta, namun jika hati yang terpilih itu memiliki hati yang lain, maka perlahan hati yang memilih itu akan mundur perlahan tanpa menoleh. Tetapi ak...
