Baru saja aku mau menutup pagar rumah tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pagar rumahku, sungguh aku terkejut melihat pemandangan di depan mataku ini, seorang pria paru baya bersama dengan wanita dan seorang anak kecil di gendogannya.
"Assalamu'alaikum," sapa wanita itu yang kutaksir usianya 30 tahun ke atas.
Aku tertegun, lama aku terdiam tidak membalas sapaannya mengapa dia membawa wanita ini kehadapanku, apakah aku harus mengusir mereka. Sungguh aku tidak seburuk dan sejahat itu, aku masih punya nurani untuk menerimanya masuk ke dalam rumahku.
"Assalamu'alaikum Nak!!" sapanya lagi.
Aku tetap diam mematung, kembali aku merasakan sesak di dadaku namun bukankah sebagai anak aku harus menghormatinya? anak? tidak.. aku belum bisa menerima kenyataan.
"Wa..aa..alaiiiiikumussaalam," jawabku tergugu.
"Sayang kami boleh masuk?" tanya Papiku memecah keheningan.
Ya yang berada di depanku saat ini adalah Papiku bersama dengan keluarga barunya yang baru pertama kali kutemui saat ini.
Tak kuasa lagi menahan air mata, aku berlalu masuk meninggalkan mereka setelah mempersilahkan masuk. Kubuka pintu rumahku lebar-lebar tanpa menyambutnya, ku ayunkan langkahku masuk ke dalam kamar bergegas membesihkan diri dan di kamar mandi inilah air mataku bertumpah ruah, aku menyesal mengapa bukan tempat yang sangat jauh aku pergi dimana mereka tidak akan tahu keberadaanku, tapi dimana pun itu Papiku tetap bisa menemukanku.
Ku dengar suara ketukan dari luar kamarku, lagi-lagi nuraniku menuntunku untuk segera membersihkan diri dan keluar menemui mereka.
Setelah hatiku merasa tenang barulah aku keluar dari kamar, sebelum menemui mereka aku masuk ke dalam dapur untuk membuat minum dan menyiapkan cemilan bagaimanapun aku tidak menyukainya mereka tetaplah tamuku.
"Maaf menunggu lama," ucapku meletakkan isi nampan diatas meja.
"Tidak apa Nak," jawabnya tersenyum membuat dadaku kembali sesak. Rasanya aku ingin meneriakinya melarang memanggilku Nak, pikirku karenanya keluargaku hancur, aku tidak mendapat perhatian dan kasih sayang Papi karenanya.
"Sayang perkenalkan ini Retno istri Papi yang juga Mama kamu sekarang, dan ini adik kamu," ucap Papiku mengawali obrolan memperkenalkan aku dengan keluarga barunya.
Aku hanya diam menanggapinya memandang wajah anak laki-laki yang berada di pangkuan Papiku membuat hatiku iri, tidak di pungkiri lagi wajahnya benar-benar copyan Papiku.
"Calamulekum Kaka," sapanya yang kutaksir berumur tiga tahun.
"Sudah selama inikah Papiku berkhianat? ah entah karena Mamiku pun sama." batinku meringis.
"Namaku Padillah caaapikk Plamudya," ujarnya yang masih cadel.
"Namanya Fadillah Syafiq Pramudya" jelas mama anak itu.
"Oh Tuhaaaaan.. rasanya aku ingin mengganti namaku saat ini juga, mengapa Papiku memberikan nama yang hampir sama dengan namaku," batinku berteriak.
Entah dorongan dari mana aku menjawab sapaannya meskipun rasanya aku muak dengan mereka.
"Wa'alaikumussalam," gumamku. Meski lirih namun masih terdengar di telinga mereka.
Lagi-lagi rasa sakit yang membuncah memenuhi rongga dadaku, dulu sewaktu menjadi putri satu-satunya jangankan perhatian, kasih sayang pun tidak pernah aku rasakan apalagi sekarang orang di depanku ini sudah memiliki anak dari wanita lain hingga sampai kapan pun aku beranggapan tidak memiliki orang tua lagi.
"Papi kemari selain mengunjungimu dan melihat keadaanmu papi juga berniat memperkenalkan kamu pada Mama Retno yang sekarang sudah menjadi Mamamu dan adikmu Fadil."
KAMU SEDANG MEMBACA
PEMILIK HATI (END)
RomanceCerita ini spin off dari LOVE IN SILENCE Jika hati telah memilih, disitulah dia akan singgah untuk bertahta, namun jika hati yang terpilih itu memiliki hati yang lain, maka perlahan hati yang memilih itu akan mundur perlahan tanpa menoleh. Tetapi ak...
