Tibalah hari yang di nantikan oleh Azzal, sungguh dirinya tidak bersabar lagi menunggu hari ini tiba, Kini keluarga besar Hadinata sudah berkumpul di kediaman Pak Abrisam karena sebentar lagi mereka berangkat ke kediaman Pak Zahir.
Begitupun dengan Muaz ini pertama kalinya dia pulang ke Jakarta selama pernikahannya.
"Wah akhirnya kamu pulang Nak," sindir Pak Ibra selaku pamannya.
"Maaf paman," hanya kata itu yang keluar dari mulut Muaz.
Sedang di tempat lain di kediaman Pak Zahir juga disibukkan mempersiapkan segalanya, mereka juga kedatangan tamu yang tidak pernah Dillah harapkan.
Seperti dengan yang lainnya Ayudisa Aswari selaku Maminya Adillah juga terperanjat ketika tiba di depan rumah mantan suaminya, namun dia berusaha mengenyahkan pikirannya.
"Mbak Ayu," gumam Retno.
"Silahkan masuk Mbak," sambutnya kepada Ayu maminya Dillah.
Tidak banyak keluarga dari pihak Pramudya karena memanglah Papi Adillah anak tunggal kedua orang tuanya pun sudah lama meninggal hanya ada paman dan keluarga dekat lainnya, begitupun dari pihak Maminya, meski begitu rumah sederhana itu terlihat begitu ramai.
Dillah segera masuk ke dalam kamarnya setelah melihat maminya masuk ke dalam rumah.
Melihat Dillah yang menghindarinya Maminya bergegas mengejarnya masuk ke dalam kamar.
"Sudah ingat kalau Mami punya anak?" sindir Dillah ketikan Bu Ayu berhasil masuk kedalam kamarnya.
"Kamu kok ngomong gitu sih Nak? Mami minta maaf sayang," ujarnya.
"Mengapa kalian lakuin ini ke aku Mih, apa salahku Mih? sedari lahir aku tidak pernah menyusahkan kalian sampai detik ini, lalu mengapa kalian lakuin ini ke aku Mih?" Isak Adillah yang sudah tidak mampu lagi menahan gejolak hatinya.
Bu Ayu menarik Adillah kedalam pelukannya dan ikut menumpahkan air matanya, tiada kata yang bisa dia ucapkan selain kata maaf.
"Maafkan Mami sayang."
"Benar kata orang bahwa selembar kertas lebih berharga di hidup Mami di bandingkan aku anak Mami sendiri," isaknya lagi mengingat kata yang pernah Azzam ucapkan sebagai candaan kepadanya.
Bu Ayu sungguh tertohok mendengarnya, dia tidak menyangka jika putrinya berpikiran seperti itu, namun dia juga tidak menyalahkan anaknya karena dulunya dia lebih mementingkan kariernya ketimbang keluarganya.
"Maafkan Mami sayang, maafkan Mami." ulangnya lagi.
"Kamu mau dengar cerita masa lalu?" tanya Maminya namun tidak mendapat tanggapan dari Dillah hatinya masih begitu sakit namun Bu Ayu tetap bercerita menjelaskan semuanya.
"Pernikahan Papi dan Mami adalah pernikahan bisnis, kami di jodohkan oleh kedua orang tua kami semata-mata demi kemajuan dua perusahaan, waktu itu Mami memiliki kekasih yang tidak direstui oleh Ayah Mami bahkan Kakekmu akan menghancurkan seluruh keluarga kekasih Mami jika mami tidak menurut."
"Begitu pun dengan Papimu, juga mendapat ancaman dari Ayahnya, tapi Naasnya kekasih Papimu tidak menerima pernikahan kami dia pun mengalami depresi hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya membuat Papi merasakan sakit yang mendalam tapi dia tidak berdaya."
"Pernikahan kami terjadi atas paksaan mereka, pernikahan yang tanpa di landasi dengan cinta bahkan tidak saling mengenal waktu itu membuat kami semakin tersakiti, meski telah menikah dan hidup bersama Papimu tidak pernah memandang Mami."
"Papimu setiap hari menyambangi makam kekasihnya tiada hari tanpa menangisinya, begitu juga dengan Mami yang tidak bisa melupakan kekasih Mami. kami masih sering bertemu sembunyi-sembunyi agar tidak tercium oleh kedua keluarga tapi dengan izin Papimu, dan kami pun membuat perjanjian pernikahan jika dalam waktu setahun kita tidak bisa saling mencintai kami akan bercerai."
KAMU SEDANG MEMBACA
PEMILIK HATI (END)
RomanceCerita ini spin off dari LOVE IN SILENCE Jika hati telah memilih, disitulah dia akan singgah untuk bertahta, namun jika hati yang terpilih itu memiliki hati yang lain, maka perlahan hati yang memilih itu akan mundur perlahan tanpa menoleh. Tetapi ak...
