Gebarsten 10[Menunggu dan menunggu]

7 9 3
                                    

Assalamu'alaikum...
Part 10,langsung baca aja...
.
.
.
.
.
.

"Jo,adek lo udah gakpapa kan?."

Jovian dan kedua sahabatnya kini tengah berada di belakang berdempetan dengan kantin Bu Sit, tempat biasa Jovian dan kedua sahabatnya nongkrong. Jovian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa empuk yang berada di depan bak seorang pemimpin.

Ruangan tak sedikit luas itu memang khusus untuk mereka bertiga, yang sudah terkenal dengan The Junas ( pasukan SMA Arjuna) ruangannya tertutup dan di desain bagaikan sebuah hotel, dilengkapi dengan sofa, televisi, kulkas bahkan AC. Tidak ada yang mengetahui ruang tersembunyi ini selain Bu Sit dan kedua sahabatnya itu. Dan mereka tak perlu takut bila guru memarahi mereka, karena SMA Arjuna adalah milik keluarga Arengga ayah Rian.

"Jihan gakpapa kok, tadi udah ada adeknya Rian yang jaga, Gea. " Jovian memejamkan mata. "Ini rencana lo kan ri, sama adek lo?. "

Cowok itu tau jika tadi ia sempat lihat Rian dan Gea berada di samping koridor UKS. Dia hanyalah pura-pura baik di depan Jihan karena ada yang mengawasinya.

Rian dan Arkan saling menatap satu sama lain, seolah tengah melakukan telapati. Kedua cowok itu mengetahui jika Gea lah yang ada dibalik semua ini.

"Eum... Itu bukan gue kali, lo salah liat. "
Ucap Rian yang tengah menikmati cemilan di depannya. "Iya nggak kan, dari tadi gue disini. Kalau Gea ada di kantin depan. "

Arkan mengangguk kaku. "I-iya dari tadi Rian disini sama gue, lo gak liat cemilannya ampek habis gini. Mungkin lo salah lihat atau mungkin itu hantu yang pernah mati di sekolah sini. " Arkan berbohong karena dari tadi kakinya di injak dengan sepatu hitam tebal milik Rian. Pantas saja! Pasti sakit.

Jovian bangkit dari tempat duduknya kemudian meninggalkan tempat tersembunyi dan keluar dari pintu belakang Bu Sit, tak peduli lagi dengan Jihan dan mengabaikan panggilan dari kedua sahabatnya yang menyuruhnya berhenti melangkah.

Jovian berjalan melewati koridor sekolah, berniat untuk memasuki kelas. Ketika cowok itu hendak berbelok ke arah kanan tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin dan basah mengenai seragam putih berlengan pendek yang ia gunakan.

"Maaf, maaf gue gak sengaja. " Ucap seorang yang berada di hadapan Jovian.

Jovian menghela napasnya panjang lalu mendongak menatap orang yang sudah dengan berani menumpahkan ice tea di seragamnya. Dia Kinan, cewek yang baru saja berlari ingin segera pulang karena hampir saja ketahuan pak Udin itupun tak sengaja menabrak Jovian.

"Lo punya mata gak sih. " Jovian berdesis.

Kinan tak peduli dengan ucapan Jovian, ia terus berlari. "Tunggu." Cowok itu mengambil lengan Kinan lalu di letakkan di bagian seragamnya yang basah. "Main lari-lari aja, ini bersihin dulu. "

Kinan melepaskan tangannya dari seragam Jovian kasar, cewek itu menatap Jovian tajam. "Gue buru-buru dan gak ada waktu buat bersihin seragam lo. "

"Gue nggak mau tau, pokoknya bersihin dulu. "

Kinan menarik seragam Jovian dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jovian membuat keduanya berdekatan dan nyaris dahinya saling bersentuhan. "Jo, gue bener-bener gak ada waktu ngerti. Awas kalo lo bilang sama pak Udin gue ada di sini, abis lo. "

Gebarsten (Revisi) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang