"Ra! Are you Serious?! Makrab ini digarap sama calon anggota himpunan dari 2 bulan yang lalu dan-" kalimat Rangga terputus seiring dengan terdengarnya celotehan nyaring dari Dinda.
"Lo sendiri kenapa jadi finding out someone to blame sih. Kan gue udah bilang kalo kesalahan ini bukan sepenuhnya kesalahan Tara," celoteh Dinda yang sedari tadi hanya sibuk dengan surat-surat yang harus diserahkan ke pihak Prodi.
"Tapi himpunan angkatan atas nunjuk Tara buat jadi koordinator utama di makrab ini. Lo yang gatau amukan kating-kating kaya gimana mending pacaran tuh sama surat-surat lo!"
"Mulut lo jaga ya!"
BRAK!
Sebuah suara yang cukup keras menginterupsi perdebatan singkat antara Rangga dan Dinda. Iya, itu adalah amukan Tara yang sedari tadi menahan emosi karena dirinya yang merasa paling dipojokkan oleh Rangga, wakil sekretaris makrab.
"Disclaimer ya, gue disini bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab. Meskipun gue yang megang kendali tapi gue punya team yang sama-sama harus bertanggung jawab juga." Ucapan Tara berhasil membuat Rangga memasang wajah "julid" nya kearah Tara.
"Yang barusan marah-marah bisa denger kali ya Ra. Mukanya udah asem aja tuh," sindir Dinda kepada Rangga.
Seakan merasa dipojokkan, Rangga lalu meleos dan keluar dari ruangan himpunan dengan wajah yang siap untuk menyebarkan kejulidan ke anak-anak forum julid yang lain.
Melihat tingkah Rangga yang berubah seperti anak gadis PMS itu, Tara hanya bisa memijat pelan dahinya dan menghela nafas berat.
"Ra apa lo ga takut tuh si Rangga nyebarin gosip tentang lo ke anak-anak yang lain? Tau sendiri lah mulut dia kan macem bom atom, sana sini meletup-letup Ra kan ngeri."
"Yah udahlah toh dengan dia ngejulid juga ini masalah gaakan beres. Mending lo fokus aja ngurusin masalah surat menyurat deh, seengganya ada yang beres minimal satu divisi."
"Ehe okey Ra."
Di bangku pojok kantin, seonggok manusia terlihat sedang membahas sesuatu. Sesuatu yang nampaknya sangat tidak penting.
Sebuah forum yang dibentuk oleh yang mulia Rangga Arkasia Anggara ini, terlihat semakin gencar dalam mencari informasi di sekitar kampus. Lebih tepatnya informasi julid masa kini.
"Eh tapi bener dia gamau tanggung jawab Ga?"
"Iya bener! Dia malah bilang gini, ehem, lagian kan gue punya team yang harus bertanggung jawab juga blablabla dih kesel kan." Celoteh Rangga sambil melakukan impersonation ala Tara.
"Dih apaan sih gajelas banget itu cewek," celetuk salah satu member forum yang bernama Susi.
"Ttttt-tapi kan emang Tara bener sih. Emang kita-kita ini juga harus tanggung jawab masalah makrab ini." Salah satu oknum forum bernama Tasya menjustifikasi pernyataan Tara, walaupun Tasya sedikit gaenak aja kalo udah nolak julidan si ratu rumpi.
"Tapi nih ya Sya, kan dari awal kita udah deal sama tema makrab yang pertama terus si Tara malah gonta-ganti tema yang katanya ga cocok buat makrab kampus," balas Rangga yang dibalas anggukan kecil oleh Tasya.
"Jadi si Tara maunya apa sih?!" Oknum bernama Susi mulai ngegas.
"Tau nih gajelas banget tu cewek. Apa kita aduin aja ke kating? Eh tapi jangan sih nanti kita juga yang kena semprot ehe," ujar Rangga yang kembali fokus dengan mie ayam special made by Pa Tarjo.
Di lain sisi, kehadiran seorang lelaki berperawakan tinggi dengan rambut hitam legam dan fashion yang casual, berhasil menyita perhatian anggota forum julid termasuk Rangga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Makrab (ON GOING)
أدب الهواةTara gapernah kaget kalo namanya selalu jadi bahan perbincangan anak-anak kampus. Berawal dari makrab yang bikin Tara naik darah ditambah orang-orang aneh yang eksistensinya patut diragukan. Tara gapernah benci orang tapi di otaknya semua orang itu...