14. Gila

550 73 31
                                        

Matahari telah menampakkan dirinya, diiringi dengan langit hitam berganti menjadi biru. Kokokan ayam mulai menyeru membuat orang-orang terbangun dari mimpi indahnya. Namun, tidak bagi pemuda bernetra abu-abu dibalik jeruji besi itu.

Ia tidak bisa tidur semalaman. Matanya terus melihat sebuah gambar bunga Matahari yang menurutnya sangat indah. Diperhatikannya gambar tersebut hingga tanpa sadar air matanya kembali mengalir.

Solar sangat merindukannya. Ia merindukan segalanya tentang gadis itu. Terkadang Solar tertawa sendiri mengingat tingkah lucu Thornie. Dan terkadang pula ia menangis setelah menertawakan itu semua.

Seperti orang gila. Itulah yang dipikirkan oleh orang yang melihatnya.

Kesehatan Solar juga mulai memburuk. Ia tidak mau makan sejak hari pertama ia ditahan. Paling tidak ia hanya makan sekali dalam sehari dan itupun hanya beberapa suapan.

Tang tang tang

Suara besi beradu terdengar, membuat pemuda yang tertunduk itu mendongak. "Ada yang ingin mengunjungimu," ujar penjaga itu. Solar hanya mengangguk dan melipat kertas gambar itu, lalu memasukannya ke dalam saku celananya.

Mengelap kasar wajahnya, dan ia pun keluar untuk sementara dari balik jeruji besi itu bersama penjaga yang memanggilnya tadi.

Suara derap langkah kaki terdengar memenuhi koridor. Hampir sampai di ruang kunjungan, penjaga itu malah berbelok membuat Solar sedikit kebingungan.

Langkah mereka semakin jauh dari ruang kunjungan, membuat Solar tak tahan dengan rasa penasaran memilih untuk bertanya.

"Siapa--"

"Kau tak ada hak untuk berbicara padaku,"

Solar kembali menutup mulutnya. Diurungkannya lagi niat ia untuk bertanya dan memilih untuk menerka-nerka orang yang mengunjunginya.

Solar tahu ia tinggal sebatang kara, mungkin hanya keluarganya Fang saja yang masih ada hubungan dengan dirinya. Selebih itu, ia tidak memiliki siapa-siapa.

Jadi, siapa yang ingin mengunjunginya?

Pada akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan. Hanya ada beberapa tumpukan berkas, buku, meja dan dua kursi yang saling berhadapan di sana.

Apa-apaan ini? Kenapa ia malah dibawa ke sini?

"Maaf, aku berbohong padamu, Solar Light," ujar penjaga itu setelah menutup pintu. Solar yang merasakan firasat aneh, mulai memasang kuda-kuda.

Penjaga itu hanya tersenyum, ah tidak. Ia menyeringai mendekati Solar dengan kedua tangannya ia sembunyikan dibelakang punggungnya.

Penjaga itu semakin dekat dan Solar pun menyiapkan ancang-ancang apabila ia diserang. Tinggal tiga langkah lagi penjaga itu mendekat ke arahnya, Solar dengan kekuatan penuh menyerang penjaga itu.

Belum sempat bogem mentah itu mendarat, Solar sudah mendapatkan tendangan telak di perutnya, membuat ia terjatuh menabrak meja.

Penjaga itu berjongkok, menyamai tingginya dengan Solar yang terduduk. Solar ingin melawan, namun tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.

Wajahnya mulai pucat dan ia sedikit terbatuk-batuk karena tendangan tadi. Punggungnya juga terasa nyeri karena menabrak meja dari kayu jati itu. Kepalanya juga merasakan sakit dan pusing secara bersamaan karena tidak memiliki asupan nutrisi yang cukup belakangan hari ini.

"Ssst.. Jangan takut. Aku tidak akan melukaimu," ujar penjaga itu dengan seringaiannya yang sangat menakutkan. Dikeluarkannya tangannya untuk meraih kepala pemuda itu. Solar hendak menepisnya tapi, ia sudah tidak kuasa lagi.

LIVE  or  EVIL (Boboiboy Fanfiction)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang