Chapter 8

12 3 0
                                        

Kenapa gue?

Oliv pun hanya acuh dengan detakan yang ia rasakan. Dirinya mulai menyalami pria itu. Namun dirinya menundukkan kepalanya. Karena masih takut melihat wajah pria itu.

Sedangkan Agam merasakan bahwa tangan gadis itu sangat dingin. Dia menjadi mengira bahwa oliv takut padanya.

"Lo takut sama gue?" Bisiknya tepat di telinga gadis itu. Membuat bulu kuduk gadis mungil itu merinding.

Jantungnya pun kembali berdetak hebat saat suara itu terdengar jelas ditelinga. Seketika oliv menahan nafas karena grogi dan kaget secara bersamaan.

"Enggak" jawab oliv sambil melihat pria itu dengan sedikit gugup. Namun dia tak melihat bola matanya, melainkan hidungnya yang mancung.

"Ayo bul, duluan ya" Pamit Satria sambil menggandeng tangan Adiknya.

"Okee!!"

"Hati hati"

"Jagain dedek gumus gue ya" teriak Gio, namun hanya dibalas tawa oleh Gadis itu.

Oliv pun berjalan sambil memeluk tangan abangnya. Entah kenapa tatapan para gadis itu, membuat dirinya takut.

Oliv pun juga tahu bahwa sekolah ini adalah sekolah bully, jadi dirinya menjadi lebih takut saat ini. Tatapan itu seperti tatapan kebencian.

"Kenapa dek?" Tanya Satria yang merasakan lilitan ditangannya semakin erat.

"Enggak" jawab oliv.

"Gausah takut, ada abang" Guman satria sambil mengelus lembut kepala adiknya.

****

Disepanjang perjalanan pulang, Oliv hanya diam saja. Pikirannya kembali takut, jika mengingat ngingat wajah mereka.

"Makan kaga?" Tanya Satria

"Iya langsung pulang aja" jawab oliv yang tak mendengar pertanyaan Satria

Sedangkan Satria tertawa, saat jawaban adiknya itu tidak sama dengan apa yang dia tanyakan.

"Kaga nyambung lo tai" ledeknya sambil tertawa.

"HAH?"

"Emnmananhsjanmajan?" Tanya Satria yang sengaja ia buat buat.

"Iya bang" jawab oliv

Sedangkan Satria, lagi lagi dia hanya tertawa. Memang benar apa yang dia lihat di instagram wkwk.

***

Agam pulang kerumahnya dengan sangat Malas. Dia berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Suasana rumah ini membuat dirinya terus terusan emosi.

Setelah sampai di kamarnya, Agam langsung saja membaringkan tubuhnya di kasur king size nya.

"Kapan gue bisa punya keluarga kaya orang lain" tukas pria itu sambil sedikit mengeluarkan air matanya.

"HAH!!" Teriaknya Frustasi

Agam langsung saja mengganti pakaiannya, pria itu langsung pergi keluar dari rumah. Rasanya dia bisa gila jika lama lama disini.

Dia mengendarai motornya dengan sangat ugal ugalan. Dia tak peduli, sudah beberapa kali dia hampir menabrak seseorang.

Kini dia sudah berhenti didepan perumahan elit, dimana bundanya tinggal. Jujur, dia sangat merindukan orang tuanya.

Dia hanya mampu melihat dari depan saja. Mau se tidak peduli apa ibunya padanya. Dia masih tetap menyayangi perempuan itu.

"Bunda, Agam kangen" tukasnya lirih sambil menteskan air matanya.

Tiba tiba saja dia melihat ibunya terjatuh di halaman depan saat baru saja mengangkat jemuran. Alhasil Agam yang melihat itu langsung berlari kesana.

"Bunda!!" Teriaknya.

"Agam, kenapa kamu kesini?" Tanya Shinta sambil membereskan seluruh pakaiannya yang berserakan.

"Kamu pergi nak, bunda nggak mau lihat kamu ada disini. Kalau sampai papa Firman lihat. Dia pasti marah sama kamu" ucap shinta sambil mendorong dorong tubuh anaknya.

"Jangan temui bunda lagi, biar bunda saja yang mencari kamu" ucap wanita itu.

"Oke" setelah itu Agam benar benar pergi dari hadapan ibunya.

Dia merasakan hatinya berdenyut saat kata kata itu keluar dari mulut bundanya sendiri. Dia tak mengira bahwa wanita paruh itu akan mengucapkan kalimat yang menyakiti hatinya.

Dia mengendarai motornya menuju bar, entah kenapa rasanya dia akan minum banyak hari ini. Pikirannya lagi lagi kacau.

Dia masuk kedalam tempat dengan lampu remang remang  itu. Dia memesan 2 botol minum. Agam membawa botol itu ke bangku pojok.

Dia mulai menuang minuman itu dan meminumnya.
Dia pun meminum itu tanpa berpikir panjang. Hingga dia tak sadar jika sudah menghabiskan 1 botol.

"Bunda!" Keluhnya sambil terus mencoba membuka tutup botolnya.

"HAH!!" Teriak agam frustasi.

Dia pun membanting botolnya saat tutup itu tidak bisa dibuka. Lagi lagi penjaga toko dibuat kesal oleh kelakuan Agam.

Untung saja penjaga Bar itu adalah temanya. Jadi dia sudah hafal dengan tingkah Agam yang seperti itu. Ini bukan kali pertamanya untuk Agam seperti itu.

"Udah lah gam, ayo gue anter pulang" Ajak temannya.

"Nggak, biarin gue"

"Oke" jawab temanya. Karena dia tahu bahwa jika seperti ini, agam akan menjadi pemarah dan emosian.

****

Hari ini Oliv ingin pergi ke supermarket. Karena hari ini malam minggu, jadi dirinya harus menstok banyak makanan, untuk teman nontonnya.

Karena mungkin malam ini, Satria akan pulang pagi. Karena biasanya pria itu akan pulang pagi kalau malam minggu.

Kalau dibilang jangan pulang pagi, pasti dia jawab "masih muda. Ntar kalau udah nikah, nggak lagi!" Begitu katanya.

Oliv berjalan dengan piyama doraemon miliknya. Karen jarak rumahnya dan supermarket cukup dekat. Hanya didepan gang komple saja. Jadi dia memilih untuk berjalan kaki.

Dia berjalan sambil bersenandung kecil. Udara malam sangat membuat dirinya tenang. Dia tak sengaja melewati kios yang saat itu dirinya buat untuk berteduh. Seketika ingatan tentang Agam pun muncul diotaknya.

Oliv langsung saja membuang jauh jauh pikiran itu. Dirinya langsung saja masuk kedalam Supermarket.

Dia mulai mengambil Troli. Dia memasukan beberapa camilan kedalam troli. Setelah cukup banyak, dirinya langsung saja membayar semuanya di kasir.

****



















Hai guys.....

Mau tau lanjutan ceritanya nggak?

Aku kasih bocoran ya, kalau chapter selanjutnya full Oliv dan Agam💗

Jangan lupa untuk Vote🥰

Thank you for reading my story💏

Bekas lukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang