"Aku pernah melihatmu sebagai yang terburuk.
Dan aku tahu bahwa aku salah.
Sebab baik dulu maupun sekarang
Kau tetaplah yang terbaik."
Mata cokelat [Name] perlahan terbuka. Tatapannya kosong untuk beberapa detik, sebelum ia menoleh ke samping kanan. Gadis itu tidak memasang ekspresi apa pun saat melihat sosok yang tak asing baginya sedang duduk di kursi di samping tempat tidur seraya menatap [Name] penuh rasa senang.
[Name] menatap pria berambut hazel itu cukup lama, seakan sang gadis mencoba mencari tahu di dalam kepalanya semua tentang siapa pria yang ia lihat ini. Hingga akhirnya setelah lebih dari sepuluh menit dalam diam, [Name] mengernyitkan dahinya saat melihat pria itu tersenyum lembut.
"Dazai-san?" [Name] memanggil nama pria yang ia llihat sejak tadi dengan suara amat pelan. Gadis itu ingin memastikan apakah ia sedang bermimpi atau tidak, mengingat sudah lama sekali sejak terakhir ia melihat senyum seperti itu di wajah Dazai.
"Aku di sini, [Name]," ucap Dazai begitu lembut. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah [Name], memegang tangan gadis itu yang terasa dingin.
[Name] kembali diam.
Dazai tidak terlalu terkejut ketika melihat sikap [Name] yang terkesan aneh seperti ini. Ia sudah mendengar penjelasan mengenai efek setelah [Name] menggunakan kemampuan negatifnya. Untuk beberapa jam ke depan, gadis itu akan seperti orang lingung, orang yang hilang ingatannya, mengingat kemampuan negatif sang gadis berasal dari ketidakstabilan mental. Tentu kemampuan negatif itu pasti akan berefek pada daya ingat, emosi, maupun pikiran sang gadis.
"Aku akan panggilkan Yosano-sensei untuk mengatakan kalau kau sudah siuman," kata Dazai, melepaskan tangan [Name] dari genggamannya.
[Name] menggenggam tangan Dazai, menolak untuk ditinggalkan pria itu. Namun [Name] tidak berkata apa pun, ia hanya menatap Dazai dengan pandangan orang yang tidak ingin ditinggal.
"Aku tidak akan lama, aku janji. Aku akan segera kembali bersama Yosano-sensei," janji Dazai sambil melepaskan genggaman tangan [Name] selembut mungkin.
Dazai setengah berlari menuju ke ruangan Yosano, tak ingin sampai membuat gadis itu menunggu terlalu lama.
"Dia sudah sadar?" Yosano terkejut dengan kedatangan Dazai yang tiba-tiba bersama dengan kabar yang dibawanya. Yosano langsung terlihat senang begitu mendengar kabar baik yang ia tunggu sejak semalam.
Tak berlama-lama Yosano dan Dazai langsung bergegas menuju ke ruang kesehatan tempat [Name] berada.
Hari sudah menjelang siang, kira-kira pukul sepuluh sekarang. Suhu sekitar mulai menghangat, setelah sebelumnya subuh tadi sempat turun hujan deras di luar. Dazai benar-benar menjaga gadis itu tanpa beranjak sedikit pun. Banyak hal yang ia pikirkan semalaman, khususnya tentang keadaan [Name] saat ini.
"[Name]-chan?" panggil Yosano penuh semangat saat ia memasuki ruangan.
[Name] saat ini sudah duduk di atas ranjang. Dengan pakaian pasien yang mirip dengan piyama tidur berawrna biru pucat. [Name] terlihat seperti orang yang telah sakit selama bertahun-tahun. Mata gadis itu melihat ke arah Yosano dan Dazai, namun tak ada apa-apa dalam tatapan gadis itu. Ia kemudian menundukkan kembali kepalanya.
"Ada apa dengannya?" Yosano terkejut dengan keadaan [Name] yang seperti raga tanpa jiwa ini.
"Efek dari kemampuan negatifnya. Pikiran [Name] mungkin sedikit kacau, dia bisa seperti ini sampai beberapa jam ke depan," jelas Dazai. Toh ia juga baru pertama kali melihat kondisi [Name] secara langsung setelah menggunakan kemampuan negatifnya, sebelumnya ia hanya membaca dari dokumen tentang [Name] yang ditunjukan oleh Ango tempo hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFRAIN (DAZAI X READER)
FanfictionDazai Osamu, mantan elit Port Mafia yang telah masuk dalam Agensi Detektif Bersenjata harus berhadapan dengan orang yang paling dibencinya, [Name]. Karena kejadian di masa lalu, Dazai tidak pernah sekali pun bersikap baik pada gadis itu, sampai ia m...
