"Kau yang terpenting bagiku
Kau telah membuktikan
Bahwa sebuah hubungan yang tulus
Tidak akan mudah diputus
Oleh sebuah keegoisan."
[Name] seperti orang bodoh sekarang, seolah otaknya berhenti bekerja sesaat karena ucapan yang dilontarkan oleh Akutagawa barusan. Mungkin karena baru saja bertengkar dengan Dazai atau mendengar amukan Kunikida, telinga gadis itu jadi salah mendengar?
"Kurasa aku salah dengar, tidak mungkin kau mengajakku kencan, kan?" kata [Name] dengan tawa remeh seolah mempertanyakan masalah pendengarannya.
"Ayo kencan," ucap Akutagawa—lagi—dengan wajah sedikit bingung dengan reaksi [Name].
"Hah?! Jadi yang kudengar ini memang benar?" [Name] terkejut setengah mati mendengarnya. "Kau sungguh Akutagawa Ryunosuke yang kukenal, kan?" lanjut [Name] yang sepertinya masih tidak percaya kalau seorang Akutagawa mengajak seorang gadis kencan.
"Kenapa kau bereaksi seperti itu, [Name]? Aku tahu kalau kau tidak pernah berkencan dengan pria seumur hidupmu, tapi bukan berarti kau akan memasang wajah konyol seperti itu ketika ada pria yang mengajakmu kencan. Jika bukan aku, pria yang mengajakmu kencan pastilah akan menarik kembali ajakan kencannya setelah melihat reaksimu ini," ejek Akutagawa dengan senyum kecil saat ia merasa geli ketika melihat ekspresi [Name].
"Hidoii! Memangnya masalah besar kalau aku tidak pernah kencan," ucap [Name] dengan suara memelan di akhir, mengalihkan pandangannya dari Akutagawa karena malu atas ejekan pria itu.
"Iie, kalau begitu kita sama. Aku juga tidak pernah kencan dengan gadis manapun," Akutagawa berkata seraya memegang tangan [Name] dan menariknya pelan. "Kalau begitu ini sama-sama kencan pertama kita," sambungnya.
[Name] terkejut ketika mendengar ucapan Akutagawa, namun lebih terkejut lagi ketika melihat senyum pria itu yang merekah indah dan lembut. Mau tidak mau senyum Akutagawa menular pada [Name], membuat gadis itu ikut tersenyum.
Mereka berdua berjalan santai, berpegangan tangan layaknya kekasih. Obrolan ringan terdengar dari keduanya, menceritakan banyak hal untuk mengenai apa yang mereka alami. Tak jarang tawa terdengar dari keduanya, khususnya [Name]. Gadis itu kini dapat tersenyum dan tertawa dengan mudah, membuatnya berbeda dari sosoknya beberapa hari lalu.
Tempat tujuan pertama mereka adalah cafe yang ada di area cina, dekat pusat Yokohama.
[Name] meninggalkan kantor karena ia memang lapar, dan kebetulan ia bertemu dengan Akutagawa, sehingga gadis itu tidak harus makan sendirian.
"Itadakimasu [selamat makan]," ucap [Name] yang kemudian langsung melahap makanan di depannya.
"Kau sungguh akan makan itu? Bukankah ini bukan jam makan? Dan aku sangat yakin kalau kau sudah sarapan tadi," tanya Akutagawa ketika melihat [Name] memesan semangkuk besar Katsudon.
"Aku lapar lagi karena bertengkar dengan Dazai-san," jawab [Name].
"Kau bertengkar dengan Dazai-san? Apa ada yang terjadi?" tanya Akutagawa yang merasa tertarik dengan ucapan [Name].
"Dia menyebalkan, itu sudah cukup untukku bertengkar dengannya." [Name] memasang wajah kesal ketika mengingat apa yang Dazai lakukan padanya.
Akutagawa memandangi [Name] yang sedang lahap makan, sebelum ia bicara lagi, "Hubunganmu dengan Dazai-san sepertinya sudah membaik."
KAMU SEDANG MEMBACA
REFRAIN (DAZAI X READER)
FanfictionDazai Osamu, mantan elit Port Mafia yang telah masuk dalam Agensi Detektif Bersenjata harus berhadapan dengan orang yang paling dibencinya, [Name]. Karena kejadian di masa lalu, Dazai tidak pernah sekali pun bersikap baik pada gadis itu, sampai ia m...
