capek juga lama2 ama sider:(
____________________
"Makasih Jun."
" Jihan? ngapain disini?"
Pertanyaan itu lagi?
" Loh? Yora ngapain disini?" Junkyu bertanya pada orang di samping laki laki itu.
" Aku lagi main sama Jihoon." jawabnya sambil tersenyum tipis.
" Ohh..."
" Junkyu, aku mau angkat telepon dari ibu dulu, nanti kesini lagi." Jihan segera beranjak ketika melihat anak laki laki itu bersama mantan sahabatnya.
Tapi Jihan tidak berbohong, Dia memang menerima panggilan dari ibunya.
" Ada apa bu?"
"Masih lama pulangnya? "
"Gatau, tapi kayaknya sebentar lagi. Emang ada apa?"
" Kakak udah sampe. Cepetan ya, Dia nanyain kamu. "
" A-apa? Ahh.. Iya iya, Jihan bentar lagi pulang." jawab Jihan lalu mematikan teleponnya.
Agak canggung ya.
Tapi bukan itu, Kakaknya sekarang sudah sampai di rumahnya! Apakah ini mimpi? Ah, Dia rasa ini bukan mimpi!
" Junkyuuu!!! Ayo pulanggg!!!" Jihan agak berteriak ketika menghampiri Junkyu. Untung kedua orang itu sudah tidak di sini.
" Keliatannya seneng banget? ada apa?"
Park Jihoon.
Dia bertanya pada Kim Jihan.
Dadanya kini berdegup kencang. Perasaannya campur aduk, antara rasa benci, suka, dan trauma.
" Junkyu! Ayo!" Jihan tidak bisa berlama lama disini. Ah! Kacau!
Junkyu melepaskan genggaman Jihan, "Bentar Jihan, Aku panggil Kakak dulu." meninggalkan Jihan dan Jihoon sendirian.
Jihan menundukkan kepalanya. Dia merangkul lututnya karena udara malam ini terasa sangat dingin. Dan ia meninggalkan jaketnya di dalam mobil.
" Nih, pake. Aku tau kamu kedinginan." anak lelaki itu memberikan sebuah mantel agak besar berwarna putih tulang.
Jihan menoleh ke sebelahnya, "H-Hah? ah. Makasih." ujarnya. Dia memakaikan mantel pemberian Jihoon.
" Kenapa kamu ngejauh dari Yora? Dia kan anak baik." Jihoon memulai pembicaraan sambil memainkan jarinya di atas pasir.
5 detik.
10 detik.
1 menit tidak ada jawaban.
"Jihan?" Jihoon menoleh ke sisi kanannya. Dia melihat Jihan sedang melamun.
" Jihan. Kenapa kamu jauhin Yora?" Sekali lagi. Pertanyaan itu dilemparkan lagi pada Jihan.
" Kalo mau bahas itu mending gausah. Nih mantel nya. Makasih." Jihan memberikan mantel itu pada pemiliknya. Dia segera beranjak keluar dari rumah itu.
Tapi -ah. Jihan tidak bisa menghindari sebrang rumah ini. Rumah itu yang membuat Jihan mempunyai ketakutan sampai sekarang.
Padahal Jihan dulu dikenal pemberani.
Dia berjongkok ketika ingin membuka mobil milik Junha. Pusing. Itu yang dirasakan Jihan.
" Aa-h.. Jun... tolong..." Jihan memegangi kepalanya. Dia merasa dunia berputar sangat cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
WE | Park Jihoon Treasure
FanfictionBagaimana jadinya jika kamu memiliki teman masa kecil dan terlibat perasaan? Bahagia? Tentu tidak. Tidak bagi yang tidak terbalas perasaannya. Bayangkan. Kamu sudah dekat dengannya dari kecil, kemudian kamu bertemu dengan teman baru beberapa tahun k...
