Sembilan

4K 619 55
                                    

Beberapa hari ini Brian merasa kesulitan untuk menghubungi Kalula. Sedangkan Kalula sudah merasa masa bodoh dengan nasib perusahaan ayahnya. Rasa kecewa ditinggal pergi selama - lamanya oleh sang ayah telah membuat Kalula merasa terpuruk. Semua pengorbanannya terasa sia - sia dan tidak berarti.

Kalula menangis sambil memeluk bantalnya. Padahal ia telah mengorbankan kehormatannya terenggut, namun Tuhan justru mengambil sang ayah dari kehidupannya.

Dalam hati Kalula menyumpah serapahi mantan rekan bisnis ayahnya yang turut andil mempercepat kematian laki - laki yang sangat berarti dalam hidupnya.

Ponsel Kalula berdering. Layarnya yang menyala menunjukkan nama Brian. Kalula segera mematikan ponselnya. Saat ini ia sedang tidak ingin berinteraksi. Bayangan dirinya tengah mereguk nikmatnya surga dunia dengan pria itu justru semakin menambah penyesalannya.

Seharusnya malam itu ia tidak mendatangi Brian. Seharusnya malam itu ia berada di samping ayahnya untuk membisikkan kata - kata penguatan.

Kalula kembali terisak pilu. "Tunggu saja! Aku akan menemukan dalang dari semua kesulitanku."

******

Sudah dua bulan Kalula memimpin perusahaan untuk menggantikan ayahnya. Awalnya ia menolak dan pasrah perusahaan itu diambil alih oleh Brian. Selama itu pula Kalula menghindari bertemu dengan Brian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu, ia alihkan melalui asisten mereka masing - masing.

Brian akhirnya memilih untuk mengabaikan Kalula. Sepertinya ia tidak perlu melanjutkan rencananya dan menyerah untuk mendapatkan wanita yang telah menjadi pusat dunianya. Tanpa sadar rasa bencinya telah berubah menjadi obsesi ingin memiliki. Mama Eri sampai menertawakan Brian yang menjadi bucin dengan Kalula.

Mama Eri benar, sekarang ia adalah seorang pria yang sangat menarik. Mudah saja baginya untuk mendapatkan pengganti Kalula. Yang penting tujuannya membuat wanita itu merasakan apa yang dulu pernah ia rasakan sudah terealisasi.

"Kamu mau nggak Mama kenalkan dengan anak perempuan sahabatnya Mama?" Bu Eri mencoba membantu puteranya itu agar segera move on.

"Oh, iya. Kamu bisa meminta dia untuk menemanimu datang ke undangan pesta emas PT Karunia Jaya Abadi," lanjut bu Eri.

Meskipun enggan, Brian mengiyakan permintaan sang ibu.

*******

Kalula menatap undangan berwarna emas yang pagi ini diantarkan oleh pak Jatmiko ke ruangannya. Dengan malas, Kalula pun membacanya.
Sebenarnya ia enggan untuk hadir dalam acara tersebut. Namun karena posisinya kini adalah pengganti ayahnya, mau tidak mau Kalula harus menghadiri acara tersebut.

"Cantiknya anak Ibu," puji bu Soraya saat menyaksikan putrinya yang mengenakan floral dress itu sudah siap menghadiri pesta emas rekan bisnis menggantikan almarhum ayahnya.

"Aslinya Lula malas, Bu. Ngapain datang kalau hanya untuk berbasa - basi."

"Tapi menjalin pertemanan itu baik untuk kelangsungan bisnis perusahaan kita, loh." Bu Soraya mencoba memberi semangat pada putrinya.

"Kalula malas bertemu orang- orang yang sudah mengkhianati ayah, Bu." Kalula mengemukakan alasannya.

"Jika kamu bertemu mereka, abaikan saja! Toh ada rekan bisnis yang bersedia membantu kesulitan kita. Kamu tinggal menunjukkan pada mereka jika kamu bisa mengatasi semuanya. Kamu anak ayah yang hebat dan akan menjadi kebanggaan kami."

Ucapan bu Soraya berhasil menghujam ulu hati Kalula secara telak.

"Seandainya ibu tahu apa yang harus kulakukan demi perusahaan, kalian pasti akan merasa kecewa padaku," ucap Kalula dalam hati.

*******

Dengan langkah anggun dan penuh rasa percaya diri, Kalula memasuki ballroom hotel tempat acara peringatan tahun emas rekan bisnis mendiang ayahnya diselenggarakan.

"Hallo Kalula, apa kabar?" pasangan lansia datang menghampiri dan menyapa. Kalula mencoba mengingat - ingat orang tersebut sambil membalas jabat tangan yang terulur padanya.

"Om ikut bersedih atas meninggalnya ayahmu," ucap lelaki itu penuh simpati.

Kalula hanya tersenyum tipis sambil menyumpah serapahi sikap munafik yang ditunjukkan oleh pria itu. Ya, orang yang menyapa dirinya adalah salah satu pemegang saham yang tiba - tiba menjual sahamnya. Itu berarti orang tersebut ikut andil menjadi penyebab serangan jantung yang menimpa almarhum ayahnya dan berujung kematian.

Untunglah pria itu tidak memperpanjang lagi basa - basinya yang sangat munafik.

"Sudah, ya! Om hendak menemui patner bisnis Om yang baru," pamit pasangan lansia tersebut. Kalula hanya mengangguk dan memberikan senyum palsunya. Matanya mengawasi kedua orang itu karena merasa penasaran dengan billioner yang telah berhasil membujuk rayu rekan bisnis almarhum ayahnya sehingga tega untuk berkhianat.

Kalula merasa terejut karana sangat familiar dengan sosok yang dimaksud rekan bisnis baru pasangan lansia barusan.

"Brian?" Kalula mencoba memfokuskan penglihatannya ke arah seorang pria muda yang tampak tengah menggandeng seorang wanita muda yang tidak kalah cantik darinya.

Hati Kalula langsung mencelos. Ternyata di mana - mana laki - laki kaya itu sifatnya sama. Ia akan dengan mudah berganti - ganti pasangan seperti orang berganti baju.

Kalula berusaha menyingkirkan rasa cemburunya. Pikirannya kini justru sibuk menghubungkan peristiwa sial yang baru saja dialami perusahaan milik ayahnya.

"Masa sih, rekan bisnis baru om Alex adalah Brian?"

Tanpa sengaja tatapan matanya bersirobok dengan mata Brian, namun buru - buru Kalula mengalihkan pandangannya.

Kalula berusaha menghindari Brian dengan bersembunyi di toilet wanita. Setelah ia masuk, dua orang wanita ikut masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Kalula.

Kalula buru - buru masuk ke dalam salah satu bilik yang masih kosong.

"Tidak di sangka ya, pemilik Briliant corp ternyata masih muda sekali. Tampan pula."

"Sayangnya dia sudah mempunyai gandengan. Coba masih single, aku pasti akan mengenalkannya dengan putriku."

"Masih muda, ganteng, hebat benar - benar calon menantu idaman."
Kemudian Kalula mendengar kedua orang itu tertawa.

"Aku bersyukur suamiku mau melepas sahamnya di PT Putri Tunggal dan membeli saham di Briliant corp. Ternyata dividen yang mereka berikan lebih besar dari PT Putri Tunggal, loh."

Ucapan kedua wanita itu membuat Kalula mempertajam pendengarannya. Namun Kalula merasa jengah ketika kedua wanita tersebut mulai membicarakan perusahaan milik mendiang ayahnya yang nyaris kolaps. Tak lupa wanita itu membahas tentang serangan jantung dan kepergian ayahnya yang begitu mendadak.

"Untung ya, Bu. Kita tidak memiliki saham lagi di sana. Coba bayangkan jika suami kita tidak segera menjual sahamnya, mungkin kita sudah menjadi janda berjama'ah."

Kedua wanita itu kembali tertawa, namun tawanya seketika terhenti ketika Kalula keluar dari kamar mandi dan menggabungkan diri dengan mereka berdua.

"M.. Mbak Kalula?"

Tbc

CarsiniRaffa = 1 poin
BalqisS05 = 1 poin

Give Up (TAMAT) Unpub SebagianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang