Duapuluh Lima

3.9K 530 54
                                    

Dukung penulis favoritmu secara finansial dengan membeli ebook yang asli jangan membeli yang bajakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dukung penulis favoritmu secara finansial dengan membeli ebook yang asli jangan membeli yang bajakan.

Selamat Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin

happy reading.
.
.
.
.
.

Brian memang tidak mengiyakan menjadikan Cecil sebagai kekasih barunya, meskipun keduanya kini sering terlihat jalan bersama. Brian yang masih merasakan kepahitan karena ditinggalkan oleh Kalula belum ingin membangun sebuah ikatan baru walaupun ia merasa nyaman berada di dekat Cecil.

Mama Eri memang benar, selama ini ia terlalu bucin pada satu orang wanita sehingga menampik jika di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari Kalula.
Yang saat ini Brian lakukan adalah berusaha melupakan Kalula beserta segenap masa lalu kelamnya dan mencoba membuka hatinya untuk wanita lain.

Seperti hari Minggu ini, Brian dengan senang hati menerima ajakan Cecil untuk menemaninya pergi ke sebuah mall. Cecil berencana untuk mencari kado ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Bahkan wanita itu juga mengundang Brian untuk hadir dalam perayaan syukuran tersebut.

"Menurutmu, apa hadiah yang cocok untuk kedua orang tuaku?" tanya Cecil memancing. Siapa tahu Brian bersedia menjadi sponsornya.

"Kurasa sebaiknya membeli sesuatu yang memang benar - benar dibutuhkan oleh kedua orang tuamu," jawab Brian bijak.

"Sepertinya mereka bakalan senang kalau hadiahnya aku membawakan seorang calon menantu sekeren kamu, deh!" Cecil mencoba memancing reaksi Brian. Sudah dua bulan ini keduanya dekat, masa iya Brian tidak paham dengan sinyal - sinyal yang Cecil tunjukkan.

Namun ucapan Cecil tidak Brian perhatian, karena tatapannya kini tertuju pada sosok wanita yang sangat mirip dengan mantan istrinya.

"Masa itu Kalula? Tapi kok membawa anak?"

"Briaaaan..." rajuk Cecil dengan manja saat pria itu tidak menggubris ucapannya barusan.

Kini Brian justru bergerak menjauhinya sambil menatap sosok yang mirip dengan Kalula. Brian mengikuti hingga kini ia berada di area bermain anak - anak. Ia ingin memastikan apakah itu benar - benar Kalula atau hanya sekedar mirip.

"Dede' tunggu di sini dulu ya, biar antriannya tidak diserobot orang. Mama mau mengisi voucernya," ucap wanita itu sambil membalikkan badannya.

Kalula berhenti mendadak saat ia nyaris menabrak seseorang. "Ups, maaf!" ucap Kalula sambil menengadahkan wajahnya untuk melihat orang yang hampir ia tabrak.

Wajah Kalula mendadak pias saat melihat sosok yang berdiri di depannya adalah Brian. Tanpa sadar tubuhnya berusaha melindungi bocah yang berdiri di belakangnya. "Ini benar - benar gawat!"

Untuk beberapa saat keduanya berdiri terpaku dan saling menatap. Hingga suara panggilan mengurai kecanggungan yang terjadi di antara mereka.

"Brian, kok aku malah ditinggal, sih?" tanya seorang wanita dengan nada manja.

Brian nenoleh ke arah Cecil dan Kalula tidak menyia - nyiakan kesempatan itu. Ia segera meraih tubuh gembil Ryan dan menggendongnya. Kemudian ia berlari sambil berusaha menyembunyikan wajah Ryan.

"Kok kita nggak jadi main, Ma?" tanya Ryan yang berada dalam gendongan mamanya.

"Mainnya lain waktu aja ya, Dek!" bisik Kalula yang  berusaha menerobos kerumunan untuk menuju ke tempat parkir.

Seingatnya, Brian jarang sekali bersedia hangout ke mall. Selama keduanya masih berstatus sebagai suami istri, Brian tidak pernah mau repot diajak Kalula untuk berbelanja ke Mall. Ia tinggal meminta asistennya untuk mengirim logistik ke rumah mereka untuk persediaan selama satu bulan tanpa harus repot berjalan mengelilingi deretan rak dan mengantri di kasir.

Kalula terlalu fokus dengan usahanya untuk melarikan diri, dan ketika ia sudah berhasil melajukan mobilnya menjauhi mall, ia baru merasa penasaran dengan sosok wanita yang telah berhasil membuat Brian mendatangi tempat yang tidak pernah ia singgahi.

"Apakah itu calon istrinya yang baru?" Kalula berusaha menebak - nebak. Tiba - tiba perasaan cemburu merasuki hatinya. Namun buru - buru segera ia tepiskan.

Kalula sendiri yang menginginkan perpisahan, jadi sekarang Brian berhak bahagia dengan wanita manapun.

Sesampainya di rumah, Kalula segera meminta Ibunya untuk mengamankan Ryan. Karena ia yakin  Brian pasti akan menyusulnya.

*****

Sementara itu Brian tengah bersitegang dengan Cecil. "Kamu nggak bisa ninggalin aku begitu saja, dong!" protes Cecil sambil menunjukkan raut wajah kecewanya. Ya kali, ia pergi dijemput pria tampan dengan mobil mewahnya, lantas pulang sendirian dengan taksi.

"Kalau begitu ayo kuantarkan pulang sekarang!" ucap Brian dengan tegas. Habis sudah kesabarannya menghadapi seorang wanita yang belum menjadi apa - apanya saja sudah bertingkah 'ngelunjak'. Mantan istrinya saja tidak pernah semanja itu selama hampir empat tahun pernikahannya. Hanya ketika sedang hamil saja Kalula bersikap sangat manja, setelah itu istrinya menjadi sosok yang sulit untuk digapai.

"Tapi aku belum mendapatkan kado untuk papa dan mamaku," dalih Cecil. Ia masih berusaha untuk menahan Brian agar terap bersamanya. Jujur saja Cecil merasa cemburu buta dengan wanita tadi yang belum apa - apa sudah berhasil mengalihkan dunia Brian.

"Kalau begitu belilah, aku tidak bisa menemani. Kamu tinggal chat aku berapa harganya dan aku akan transfer sejumlah uang sebagai permintaan maafku," ucap Brian.

Tanpa menunggu jawaban Cecil, Brian segera berlari meninggalkan wanita itu. Cecil hanya bisa berteriak - teriak memanggil Brian.  Kakinya menjejak - jejak lantai mall dengan marah karena Brian tidak mempedulikannya sama sekali. Hilang sudah impiannya menggaet calon suami kaya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Dua bulan kedekatannya dengan Brian ternyata 'zonk'.

******

Brian mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Kalula. Ia berharap semoga wanita itu berada di sana. Penjaga rumah menyambut kedatangan Brian dengan baik, sehingga Brian tidak harus melalui serangkaian drama demi bisa menemui mantan istrinya itu.

Kalula duduk di ruang santai dengan perasaan gelisah. Semoga Brian tidak datang kemari untuk menemuinya, meskipun kemungkinan itu sangat kecil sekali.

Suara pintu yang terbuka membuat Kalula goyah. Meskipun ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Brian. Tapi tetap saja ia merasa gentar. Karena terakhir kali ia bertemu Brian, pria itu telah memperlakukannya dengan sangat kasar.

"Kalula, kita harus bicara. Kamu harus menjelaskan semuanya padaku tentang anak itu!" ucap Brian langsung pada inti masalah.

"Dia anak angkatku," jawab Kalula sambil membalas tatapan tajam Brian. Ia tidak ingin kalah gertak dari laki - laki itu.

"Kamu bohong!" sanggah Brian. Meskipun sekilas, ia sempat melihat sosok bocah yang bersama Kalula tadi begitu mirip dengan dirinya di saat masih kecil. Sepertinya Kalula telah menyembunyikan suatu hal yang penting darinya dengan sangat baik.

"Kamu sendiri yang menolak usulku untuk mengadopsi seorang anak, tapi kamu sendiri yang mengingkarinya!" sindir Brian.

Kalula sedikit gelagapan saat Brian memutar balikkan ucapannya. Kalula bagaikan terkena bumerang yang telah ia lemparkan sendiri.

"Wajar kan jika aku mengadopsi anak. Dokter sudah memvonisku...," Kalula tidak melanjutkan ucapannya saat Brian mempersempit jarak di antara mereka berdua.

Aroma wangi tubuh Brian seketika membangkitkan hasrat primitifnya. Sekelebat kenangan adegan intim yang terpantul di kaca membuat Kalula ingin melemparkan dirinya ke dalam dekapan pria itu.

"Kamu kurang pintar berbohong. Jika kamu di vonis tidak akan bisa hamil lagi, untuk apa kamu menyimpan dan mengonsumsi pil pencegah kehamilan?"

Tbc

Give Up (TAMAT) Unpub SebagianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang