Sembilanbelas

3.1K 445 86
                                    

Cerita ini sudah dapat dibaca langsung tamat dalam bentuk Ebook.

Bismillahirrahmanirrahim.
Ya Allah ya Tuhanku, semoga Engkau memberikan rizki yang melimpah untuk semua readers yang telah membeli karya - karyaku yang asli.

Lipat gandakan rizki dan pahala mereka yang telah mengapresiasi perjuangku menghasilkan karya dan perjuanganku merawat orang tuaku.

Tutup hati para readers agar tidak tergoda membeli versi bajakan. Lindungi mereka dari penghakimanmu di hari perhitungan amal kelak.

Amin.

Happy reading.
.
.
.
.
.


Kalula menatap bayangannya yang terpantul di depan cermin. Ia terlihat seperti pemain drumband yang bertugas membawa drum besar di perutnya.

Setiap kali Kalula mengomentari penampilannya menjadi jelek, bayi dalam kandungannya selalu memprotes dan membuat Kalula tidak bisa tidur. Dan hebatnya, yang mampu menenangkan si dede' hanyalah Brian.

Berbeda dengan Kalula, Brian sangat antusial menyambut kelahiran anaknya. Apalagi dari pemeriksaan USG diketahui jika jenis kelamin anak mereka adalah laki - laki.

Brian sedang mengecek jadwalnya, kemudian ia bertanya pada Kalula. "Dokter kemarin bilang HPL anak kita kapan, Sweetheart?" tanya Brian saat melihat pengingat di ponselnya menunjukkan hari yang sama dengan undangan rapat pemegang saham.

Jawaban Kalula menyadarkan Brian jika jadwal yang telah ia tulis itu benar.

"Bisa tidak kalau kamu memilih untuk operasi Cesar seminggu lebih awal!" pinta Brian.

Kalula langsung menolak. Kehamilannya tidak mengalami masalah. Mengapa ia harus melahirkan secara Cesar?

"Soalnya, aku ada undangan rapat para pemegang saham..." Brian menjelaskan jika ia harus pergi ke negara lain dalam jangka waktu seminggu. Karena jika ia tidak hadir, ia akan dianggap menerima keputusan baru yang ditetapkan oleh rapat pemegang saham. Setidaknya ia harus hadir secara langsung untuk mengetahui apa saja keputusan baru yang akan diambil oleh para investor mayoritas, dan Brian bisa ikut mengajukan usulan jika sekiranya dalam rapat nanti ada pihak tertentu yang berusaha mengabaikan haknya sebagai salah satu pemegang saham.

"Ya sudah, pergi saja! Selama kamu meninggalkan  kami, aku akan meminta Diana untuk menemaniku," jawab Kalula sambil memasang wajah kuat dan tahan banting menghadapi persalinannya nanti.

Brian mendekati Kalula dan memeluknya dari belakang. "Padahal sebagai seorang suami, aku ingin sekali menunggui istri melahirkan," ucapnya sambil membelai perut Kalula.

"Aku akan neminta mama untuk menemanimu."

"Jangan! Mama kan harus mengurus Papa. Tenang, lah! Nanti aku akan meminta ibuku untuk kemari," Kalula berusaha menenangkan Brian. Diam - diam seringai licik terbit di bibirnya.

*******

Seminggu menjelang persalinan, Brian tampak bersiap bertolak menuju ke bandara.

"Kutelpon ibu sekarang, ya!" ucap Brian, namun Kalula berusaha mencegahnya.

"Biar aku saja yang menghubungi!"

"Tapi aku adalah suamimu, Kalula! Seharusnya aku yang memohon kesediaan ibu untuk kutitipi istriku," ucap Brian sambil menepuk pipi Kalula.

"Tenang, suamiku... Ibuku pasti maklum, kok!"

"Baiklah. Jika ada apa - apa segera hubungi aku!" ucap Brian sambil mengecup puncak kepala istrinya.

Give Up (TAMAT) Unpub SebagianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang