Limabelas

3.4K 530 26
                                    

Undangan makan siang yang di agendakan Kalula langsung direspon oleh perusahaan rekanan. Dan Kalula sudah menebak jika si pemilik akan mewakilkan pertemuan tersebut kepada putranya yang dulu sempat akan dijodohkan dengan Kalula.

Mengabaikan perasaan bersalah karena tidak memberitahu Brian dan memilih bertindak sendiri, Kalula mendatangi restoran yang menjadi tempat janji bertemu.

Kalula ditemani oleh pak Jatmiko yang lebih paham mengenai kerjasama antara kedua perusahaan. Tujuannya supaya Kalula dapat meminimalisir kemungkinan adanya pembahasan mengenai masalah pribadi.

Kalula menyalami pria wakil rekan bisnisnya dengan canggung. Sudah ia duga dari awal jika dirinya tidak akan menyukai laki - laki yang dulu sempat akan dijodohkan dengannya.

"Apakah perusahaan Anda dalam kondisi baik?" tanya David sambil menatapnya dengan tatapan mesum.
Sepertinya perusahan David masih mengira perusahaannya dalam kondisi pailit, karena Kalula memang sengaja menyembunyikan kerjasama yang terjalin dengan BRIliANt Corp. Itu sebabnya perusahaan keluarga David mencoba menyabotase. Mereka pikir dengan begini habislah sudah riwayat perusahaan yang kini dipimpin oleh Kalula, sehingga ia bersedia menerima perjodohan yang ditawarkan oleh pihak mereka.

"Tentu saja perusahaan kami dalam kondisi baik - baik saja. Anda pasti dapat melihat dari ketaatan perusahaan kami membayarkan kewajiban kepada perusahaan Anda," jawab Kalula santun. Kemudian Kalula meraih cangkir lemon tea hangat dan meneguknya dengan pelan.

"Tentang harga saham perusahaan Anda yang turun itu?" pancing David.

"Ternyata Anda masih meragukan kredibitas perusahaan kami, ya?" tanya Kalula sambil tersenyum membuat David semakin terpesona dengan wanita yang hendak dijodohkan dengannya itu.

"Anda tidak perlu khawatir, perusahaan kami selalu mengutamakan kewajiban."

*******

Brian yang sedang sibuk dengan acara rapat para pemegang saham belum sempat menanyakan maksud Kalula. Sepertinya calon istrinya yang cantik itu sudah memahami kesibukkannya.

Akhirnya rapat para pemegang saham selesai, dan sekarang sudah waktunya istirahat. Brian bermaksud mengajak Kalula untuk makan siang. Mungkin jika wanita itu berkenan, ia juga ingin mengajaknya melakukan sex kilat.

Brian sedang ingin bersantai sejenak dengan menikmati kebersamaannya bersama Kalula.

*****

Kalula berusaha tenang meskipun ia merasa tidak nyaman dengan tatapan David yang tidak pernah lepas darinya.

Ponsel Kalula berbunyi dan bergetar bersamaan, menandakan ada panggilan masuk.

Brian Calling...

Untuk beberapa saat Kalula sibuk menimbang keputusannya. Akhirnya ia memilih untuk menerima panggilan tersebut.

"Maaf, saya permisi dulu untuk menerima telpon," pamit Kalula.

Tanpa menunggu persetujuan, ia segera berlalu dari hadapan rekan bisnisnya.

"Hallo sweetheart, kamu dimana?" tanya Brian di seberang.

"Aku ada janji bertemu rekan bisnis," jawab Kalula.

"Apakah kamu ada kesulitan menghadapi mereka?" tanya Brian yang tiba - tiba diliputi perasaan Kesal. Kalula sudah bertindak gegabah tanpa meminta persetuannya terlebih dahulu.

"Jadi apakah kamu hendak membantuku?" pancing Kalula.

"Beritahu tempatnya, aku akan segera ke sana!"

******

Kalula kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum. "Maaf telah membuat Anda menunggu," ucap Kalula kemudian ia kembali melanjutkan acara makannya dengan tenang.

Kalula sengaja makan dengan lambat dengan maksud menunggu kedatangan Brian. Tigapuluh menit kemudian pria yang ia tunggu pun datang. Wajah Brian terlihat tidak senang melihat Kalula hanya satu - satunya perempuan dalam kelompok kecil itu.

"Pak David. Perkenalkan ini adalah pemilik saham baru di perusahaan kami. Saya harap Anda tidak keberatan beliau ikut bergabung untuk membahas kerjasama bisnis kita!"

Kalula dapat merasakan aura ketegangan yang terpancar dari kedua pria itu. Pak Jatmiko dan asisten David pun merasakan perasaan tidak nyaman yang dimunculkan dari dua orang lelaki yang tampaknya menaruh hati pada wanita cantik di antara mereka.

"Saya Brian." Dengan sikap jemawa, Brian lebih dulu mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri.

Kemudian Brian lah yang melakukan negosiasi dengan David. Rupanya pria itu juga sama dengannya, hendak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagai orang yang memiliki andil dalam membuat masalah di perusahaan Kalula, Brian berkewajiban untuk menanggung akibatnya.

Untunglah Brian datang, sehingga negosiasi alot itu berhasil di selesaikan. Sebagai pemilik saham terbesar, Brian memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan perusahaan milik keluarga David dan akan mencari suplier baru untuk memenuhi kebutuhan perusahaan milik calon istrinya.

Ketika akan kembali ke kantor, Brian menarik tubuh Kalula. Pria itu meminta Kalula supaya masuk ke dalam mobilnya dan memberi perintah kepada pak Jatmiko pulang lebih dulu dengan sopir yang bekerja perusahaan milik Kalula.

Di dalam mobilnya, Brian mengajukan protes pada Kalula.

"Kamu sangat gegabah!"

"Kurasa tidak," jawab Kalula dengan tenang. Ia merasa senang sudah berhasil membuat pria itu merasa kesal.

"Apa kamu tidak melihat jika pria itu menatapmu dengan tatapan ingin memangsa? Dia juga sengaja ingin membuat perusahaanmu bermasah!"

"Mirip dengan seseorang, kan?" sindir Kalula sambil bersedekap dan mengalihkan pandangan keluar jendela.

"Kau..!" Brian tidak melanjutkan ucapannya.

"Apa kamu tidak merasa penasaran mengapa ia melakukan itu?"

"Nanti saja, jelaskan semua di apartemenku!" jawab Brian sambil membelokkan mobilnya menjauhi kantor Kalula untuk menuju tempat kediamannya.

Brian menggandeng Kalula dengan posesif dan tidak mau melepaskannya meskipun mereka sudah berada di dalam apartemen.

"Oke, aku akan jelaskan semuanya," ucap Kalula sambil berjalan menuju sofa. Namun Brian justru menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar.

"Penjelasannya nanti saja setelah kamu mengobati rasa cemburuku!"

Kalula memilih tidak melawan dan hanya bisa pasrah ketika pria itu menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan menindihnya. Ciuman pria itu terasa menuntut dan liar, sehingga membuat Kalula kewalahan.

Meskipun AC di kamar Brian dipasang pada suhu rendah, namun tetap saja terasa panas.

Tubuh keduanya bersimbah peluh dan suara desahan nikmat dari bibir Kalula memenuhi kamar Brian.

Brian dengan penuh semangat menggenjot tubuhnya sambil mengukir jejak kepemilikan di seluruh badan calon istrinya yang bersih dan mulus itu.

"Aaarrghh... Kalula..." erang Brian sambil menusuk lebih dalam lagi. Kemudian tubuhnya bergetar dengan hebat karena mendapatkan pelepasannya.

Brian segera berguling kesamping agar tidak menindih tubuh Kalula dan janin yang berada di dalam rahim calon istrinya. Napas kedua terdengar tidak beraturan dan saling bersahutan. Setelah merasa tenang, Brian memeluk tubuh Kalula dengan posesif.

"Aku tidak suka kamu berkencan dengan pria lain!"

Tbc

Give Up (TAMAT) Unpub SebagianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang