Rea keluar dari kelasnya dengan semangat menggebu. Ia berlari kecil menuju gerbang kampus. Begitu matanya menemukan sosok yang begitu dikenalnya, senyumnya langsung mengembang lebar.
Elang sedang menunggunya dengan sabar di atas motor kesayangannya.
Motor itu bukan sekadar kendaraan. Motor itu adalah hasil kerja keras Elang selama bertahun-tahun. Saat masih duduk di bangku kuliah tahun ketiga, kafe tempatnya bekerja paruh waktu memberikan bonus yang cukup besar. Ditambah tabungan yang sudah ia kumpulkan sejak lama, akhirnya pria itu mampu membeli motor impiannya.
Elang memang selalu pekerja keras. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil masuk ke salah satu universitas negeri dengan beasiswa penuh hingga lulus.
Tatapan Rea melekat pada motor itu.
Dan seketika, kenangan bertahun-tahun lalu kembali menyeruak ke permukaan.
Flashback...
"Rea! Rea! Kamu di dalam, kan?"
Suara Elang menggema di lorong panti asuhan, disertai gedoran keras pada pintu kamar putri.
Rea yang sedang tengkurap di atas tempat tidur sambil membaca novel barunya langsung mengernyit kesal.
Dengan kasar ia menutup novel itu, lalu turun dari ranjang sambil menghentakkan kaki.
Tatapan sinis teman-teman sekamarnya sudah biasa ia terima. Entah apa kesalahannya, ia tidak pernah benar-benar tahu.
Mengembuskan napas panjang untuk meredam emosi, Rea memutar kenop pintu. Kalau tidak segera dibuka, ia yakin pintu itu akan rusak akibat ulah Elang.
"Ada apa sih, Bang?" tanyanya kesal sambil mendongak menatap lelaki jangkung di hadapannya.
Wajah Elang yang semula dipenuhi senyum bangga langsung berubah.
"Heh, nggak sopan, ya? Sama yang lebih tua."
Elang menepuk dahi Rea pelan.
"Aduh!"
Rea mengusap dahinya sambil mengerucutkan bibir.
"Abangnya yang bikin keributan. Ini udah malam. Teman-teman kamarku jadi keganggu."
Namun, bukannya membalas, Elang malah menggantikan tangan Rea yang sedang mengusap dahinya.
"Kok merah banget?"
Ia mendekat, meneliti dahi Rea dengan kening berkerut.
"Pelan kok. Makanya jangan sensitif berlebihan jadi perempuan. Tuh, kulit kamu jadi ikut sensitif."
Rea mencebik. Yang menepuk siapa, yang salah siapa.
"Kita kasih apa, ya, biar nggak merah begini?" gumam Elang serius.
Tangannya masih mengusap dahi Rea dengan hati-hati. Tak lama kemudian, kedua telapak tangannya menangkup wajah gadis itu.
"Kita ke apotek aja, yuk? Beli salep. Tanya yang jual pasti tahu."
Rea langsung menepis tangannya.
"Nggak usah, Bang. Besok pagi juga hilang."
"Apanya yang nggak usah? Lihat tuh, merahnya makin melebar."
Senyum haru perlahan muncul di wajah Rea.
Tidak peduli seberapa menyebalkannya Elang terkadang, perhatian lelaki itu selalu berhasil menghangatkan hatinya.
Rea menggenggam tangan besar Elang, lalu mengecup punggung tangannya pelan.
"Nggak apa-apa, Bang." Suaranya lembut menenangkan.
"Sekarang bilang, kenapa abang datang malam-malam dan bikin keributan?"
Mata Elang langsung berbinar. "Oh iya!"
Ia tertawa kecil, seolah baru mengingat tujuan utamanya datang ke sana.
Dengan cepat, Elang mengangkat tubuh Rea hingga gadis itu menjerit kaget.
"Abang punya kabar baik!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
