BAB 10

7.9K 184 3
                                        

Rea tiba di rumah hampir pukul setengah sebelas malam, melangkahkan kaki dengan malas ke arah pintu. Elang juga tidak berhenti menghubunginya sejak pukul lima sore tadi. Ia sengaja mengulur waktu dengan membantu Mika di toko kue milik mama Mika. Setelah toko kue itu tutup, barulah dengan dada berdetak kencang Rea memutuskan untuk pulang.

Sebelum memasukkan kunci ke pintu, Rea terlebih dahulu menarik napas lalu mengembuskannya keras. Saat jarinya terulur ke gagang pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam dan menampakkan sosok tinggi tegap Elang dengan balutan kemeja putih yang sudah kusut. Tiga kancing teratas terbuka, sementara bagian bawah kemejanya sudah keluar sebagian dari celana.

Rea mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Elang yang menatapnya dengan ekspresi berang. Matanya memerah, rahangnya menegang, bibirnya menipis. Rambut Elang yang berantakan seakan menyempurnakan ekspresi penuh kemurkaan itu. Rea dapat melihat pergerakan dada Elang yang cukup kentara. Ia semakin merasakan kemarahan yang melingkupi lelaki itu saat ini.

"Dari mana aja, Rea?!" sembur Elang tepat di depan wajah Rea, sesaat setelah sempat terpaku ketika melihat wanita itu berdiri di depan pintu.

"Masuk!"

Tanpa memberi kesempatan Rea mengelak, Elang langsung menarik tangan wanita itu.

Rea dapat merasakan remasan Elang di pergelangan tangannya, seolah ingin meremukkan tulangnya karena terlalu kuat. Ia yakin besok pergelangannya akan memar.

Setelah menutup pintu dan tiba di depan sofa, tanpa pikir panjang Elang menghempaskan Rea dengan kasar ke atas sofa. Ia seakan dibutakan oleh amarah.

Rea meringis saat terhempas keras dan bagian belakang kepalanya membentur sandaran sofa.

"Shhh..."

Ia menyentuh bagian belakang kepalanya yang membentur sisi sofa yang keras.

Elang mendekat, kemudian merangkak di atas tubuh wanita itu dan mencengkeram rahang Rea.

"Dari mana saja kamu, Rea?" desis Elang tepat di depan bibir Rea.

"B-Bang? Rea minta maaf..." Rea memohon dengan terbata-bata. Matanya sudah tergenang air mata.

"Jawab! Dari mana kamu baru pulang semalam ini?" Elang semakin berang saat pertanyaannya tidak dijawab.

"Ja-jangan gini, Bang... Rea..." Rea sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mulai mengeluarkan isakan kecil dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya saat melihat bara api di mata Elang.

"Jawab!"

Elang yang sedang emosi dan panik tidak dapat menahan kepalan tangannya untuk meninju sandaran sofa tepat di samping wajah Rea.

Rea terlonjak kaget dan semakin sesenggukan saat pukulan keras itu menghantam tepat di samping wajahnya. Ia tidak bisa membayangkan jika kepalan tangan itu mengenai wajahnya.

Sejak tadi Elang sudah menahan diri. Ingin sekali rasanya menggigit leher wanita itu hingga berdarah demi melampiaskan kemarahan yang sudah tidak terbendung lagi. Namun, Elang tahu ia tidak akan sanggup melihat luka pada tubuh Rea. Jadi lebih baik melampiaskannya dengan meninju sesuatu, melukai punggung tangannya sendiri, asal jangan menyakiti kulit wanita terkasihnya.

Seolah tersadar bahwa amarahnya sudah kelewatan, Elang melepaskan cengkeramannya dari pipi Rea, kemudian mengelus kemerahan bekas cengkeraman itu. Ia menunduk, mengecup sekilas bibir merah Rea yang lembap, lalu menempelkan dahi mereka. Ibu jarinya masih mengelus ringan pipi Rea.

"Abang gak butuh permintaan maaf kamu, Re."

Elang mulai melunakkan nada suaranya walaupun tidak dapat menutupi kemarahan di dalamnya. Ia mengembuskan napas pelan, kemudian kembali mengecup bibir Rea yang masih sesenggukan.

Faded (END/REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang